unitedbet88

Kamis, 01 Desember 2016

CERITA CINTA - Cinta Dalam Hati/ Menyesal

Ini adalah hari Senin, dan aku sangat membencinya. Karena hari Senin itu ribet. Ada upacara segala lagi dan aku paling benci dengan yang satu ini. Tapi mau gimana lagi aku tetap harus menjalani hari Senin ini. Setelah memakai seragam biru putihku dan sepatu aku berpamitan dengan ibuku. lalu aku berjalan dengan malas ke sekolah yang jauhnya dua kilometer dari rumahku. Meski jaraknya lumayan jauh namun aku tidak merasa lelah karena sudah terbiasa.























Setelah setengah jam akhirnya sampai juga di sekolah. Akhirnya aku sampai juga di sekolahku yang sangat sederhana. Aku masuk ke kelasku yang masih sepi. Aku duduk di kursiku yang ada di depan. sambil menunggu bel berbunyi aku membaca novel yang kupinjam dari perpustakaan kemarin.

Tiba–tiba bel berbunyi lima kali, ini tandanya ritual yang membosankan itu segera dimulai. Dengan malas aku berjalan ke halaman sekolah untuk melaksanakan upacara. Hal yang sangat menyebalkan karena aku harus berdiri di bawah teriknya matahari. 

Ditambah lagi kepala sekolah ngasih wejangan yang panjang banget bikin aku tambah kesel aja. Nggak tahu apa kalau aku ini capek berdiri sejak tadi. Ditambah lagi matahari yang semakin tinggi membuatku semakin gerah saja.

Setelah selesai semua siswa berebutam masuk ke dalam kelas masing-masing. Baru duduk lima menit tiba-tiba.
“Anak-anak hari ini kalian akan punya teman baru. Dia pindahan dari SMP 1” kata bu Rina.
Aku menoleh ke anak baru itu yang hanya menunduk. 

Entah karena grogi atau malu atau apa aku nggak tahu. tapi anak yang sekarang berdiri di depanku itu benar-benar keren. Berbeda jauh dengan teman-teman di sekolahku yang selama ini kukenal.
“Ayo kamu perkenalkan diri kamu” perintah bu Rina pada anak baru itu.
Kemudian anak baru itu dengan suara yang agak keras memperkenalkan dirinya.

Nama saya Armando Reno biasa dipanggil Arman saya pindahan dari SMP 1” katanya singkat.
Kemudian bu Rina menyuruh dia duduk di sebelah mejaku yang memang kebetulan masih kosong. Aku mengamatinya saat dia berjalan ke arah bangkunya. Dia memang terlihat keren sih kayak artis Korea yang lagi naik daun itu. Ini adalah kejadian langka. Ada murid yang sekeren ini mau pindah ke sekolahku yang ada di pelosok. Benar-benar aneh dan luar biasa.

Anak baru itu tentu saja jadi pusat perhatian semua siswa yang ada di kelasku. Semua siswa di kelas memandanginya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tak terkecuali diriku. Aku yang duduk di meja sebelahnya hanya berani melirik ke arahnya. Entah kenapa saat aku melihat wajahnya aku merasa deg-degan dan tubuhku langsung panas dingin nggak karuan.
Aku pun selalu mengingat hari itu, dimana saat pertama kalinya aku bertemu dengan Arman. 

Aku tidak lagi membenci hari Senin, karena hari Senin adalah hari saat aku bertemu dengannya. Dan sejak itu tidak ada hari yang aku benci kecuali hari libur. Karena saat itu aku tidak bisa bertemu dengannya. Namun anak baru itu kelihatan cuek dan dingin banget. Dia juga nggak mau kenalan, jangankan kenalan senyum aja tak ke luar dari bibirnya. Benar-benar sombong. Pikirku.

Seminggu pertama anak baru itu rajiiiin banget. Dia selalu saja sudah duduk manis di kursinya saat aku memasuki kelas. Dan saat aku memasuki kelas otomatis pandangan kami bertemu karena dia selalu aja memandang ke arah pintu. Itu membuat jantungku terasa mau keluar dan aku jadi salah tingkah. Untung aku bisa mengontrol sikapku, jadi dia nggak akan curiga.

Namun baru sebulan masuk sekolah, anak baru itu sudah bikin ulah. Entah apa yang dia lakuin, siang itu dia dipanggil guru BP di ruangannya. Anehnya lagi si anak baru itu nggak punya tampang takut atau merasa bersalah, dia terlihat santai-santai saja.

Aku yang penasaran pun bertanya pada Usman, karena dia sahabat karibnya.
“Man, kenapa si Arman disuruh ke ruang BP?” tanyaku pada Usman yang sednag mengunyah snack yang baru dibelinya.

Nggak tahu sih na, tapi kayaknya gara-gara dia ketahuan nger*kok kemarin deh” katanya cuek sambil memasukkan makanan ringannya.
“Apa???” tanyaku kaget. “Si Arman nger*kok, dia kok berani sih man” tanyaku tidak bisa menyembunyikan rasa kagetku.
“Ya ampun lana, lana. Kamu kayak nggak tahu anak zaman sekarang aja, si Arman itu emang udah sering nger*kok.” Jelas Usman yang membuatku semakin terkejut.

Aku pun kembali ke bangkuku dan mulai mengerjakan soal-soal yang ada di buku. Baru mengerjakan tiga soal tiba-tiba ada seseorang yang memanggilku.
“Lana” panggil suara itu.
“Ada apa?” kataku dengan suara bergetar.

Boleh pinjem PR Matematikanya nggak?” tanya Arman dengan nada santai.
“Ya, nih” kataku sambil menyerahkan bukuku dengan tangan yang bergetar.
Aku benar-benar nggak menyangka Arman akan ngomong sama aku. ini adalah pertama kalinya Arman ngomong denganku. Itu sudah membuatku sangat senang. Setelah selesai menyalin PR-ku dia pun mengembalikannya padaku. Aku menerimanya dengan tangan panas dingin.

Setelah kejadian itu Arman pun sering meminjam PR-ku. Aku tidak bisa menolak permintaannya itu. karena saat itulah aku bisa ngobrol dengannya. Aku bisa memandang matanya. Karena itulah aku jadi nggak canggung lagi saat berhadapan dengannya.

Bahkan saat ulangan pun dia sering minta contekan padaku. Lagi-lagi aku nggak bisa menolaknya.
“Alana tanya nomor 5 dong” kata Arman saat ulangan IPA pagi itu.
Aku yang sedang sibuk mengerjakan soal tidak menghiraukan panggilannya. 

Tanpa kusadari Arman sudah ada di depan mejaku. Dan dia pun mengambil bukuku dengan paksa. Aku berusaha mengejarnya namun sia-sia. Langkah kakinya yang panjang membuatku tidak bisa mengimbanginya. Akhirnya aku membiarkan dia mencontek semua jawabanku.

Ketika hari demi hari berlalu, aku menyadari kebersamaanku dengan Arman tinggal sebentar lagi. karena aku sadar sebentar lagi kami akan lulus dan itu artinya aku mungkin nggak akan bisa melihatnya lagi. aku nggak akan bisa melihat senyumannya dan aku juga nggak akan bisa melihat rengekannya saat meminta contekan. Aku tahu aku pasti akan merindukan semua itu.

Hingga akhirnya hari perpisahan itu tiba juga. Saat melihatnya pergi, aku ingin menghentikan langkahnya. Tapi aku tidak mempunyai keberanian aku justru hanya menatap kepergiannya dengan memendam perasaanku. Sebelum dia menghilang di balik tikungan jalan dia sempat menoleh ke arahku dan aku pun balas menatapnya. Itu adalah tatapan terakhir kalinya.

Setelah hari perpisahan itu, aku benar-benar kehilangan dia. Aku tidak bisa menghubunginya dan aku pun tidak tahu keberadaannya. Kami benar-benar berpisah. Namun entah kenapa meski bertahun-tahun aku tidak bertemu dengannya aku tetap menyimpan perasaan ini untuknya. 

Aku mencoba mengacuhkan ketidakhadirannya dalam hidupku, namun tetap saja aku masih memikirkannya. Aku menyembunyikan perasaanku hingga tak ada satu orang yang pun yang tahu.

Setiap hari Senin aku selalu ingat saat pertama kali aku bertemu dengannya. Semua itu selalu terekam di memoriku. Jika dulu aku begitu benci dengan hari Senin, sekarang aku akan mengenangnya saat hari Senin itu tiba. Selama bertahun-tahun aku tidak pernah mendengar kabarnya selama itu pula aku tidak bisa untuk melupakannya. Perasaan ini masih tersimpan di dalam hatiku.

Hingga suatu hari.
“Alana” panggil seseorang itu.
Aku pun menoleh ke arah suara itu dan melihat seseorang yang berdiri dengan gagah sambil melambaikan tangannya. Cowok berbadan tinggi itu keemudian menghampiriku. Aku seperti tidak asing melihat wajahnya. Aku mencoba mengingatnya, namun aku tetap saja tidak mampu mengingtnya. Saat cowok itu berdiri tepat di depanku barulah aku tahu siapa dia.

Ya ampun Usman sekarang kamu udah setinggi ini, kamu benar-benar berubah” sapaku pada Usman yang memang terlihat berbeda dengan Usman delapan tahun yang lalu.
“Berubah apanya lan, aku masih tetep Usman yang dulu kok” katanya santai.
“Kamu kok tahu sih kalau ini aku?” tanyaku basa-basi.
“Yang punya dahi selebar lapangan kan Cuma kamu doang lan, makanya nggak susak kalo ngenalin kamu” katanya.
Aku pun tertawa mendengar candaannya. Kemudian kami pun bertukar cerita mulai dari sekolah pekerjaan, teman dan semuanya.

“Oh ya lan, Arman minta nomor HP mu?” kata Usman tiba-tiba.
Aku langsung kaget dan terkejut mendengar nama itu disebut. Nama yang selama aku rindukan. Tiba-tiba ada yang berdesir di dalam hatiku. nama itu sudah lama sekali tidak aku dengar.
“Apa?? 

Arman minta nomorku? buat apa man?” tanyaku dengan nada polos.
“Ya buat ngubungin kamu lan, kamu tuh gimana sih” kata Usman
Aku tidak mampu mengucapkan kata-kata mendengar kalimat yang barusan Usman katakan. Aku benar-benar terkejut. Aku nggak tahu apakah aku harus bahagia atau sedih mendengar semua ini.

“Boleh nggak?” tanya Usman lagi
Aku hanya diam tidak berani menjawab pertanyaan dari Usman.
“Ya ya boleh” jawabku sambil menyebutkan nomor HP ku.
Aku merenungkan kembali perkataan Usman. 

Hatiku begitu bahagia tapi akal sehatku menolak mentah-mentah pernyataan itu. logikaku tidak bisa mennerima fakta ini. Rasanya nggak mungkin Arman bisa menyukaiku, karena aku merasa aku dan dia begitu berbeda. Meski aku sangat berharap aku bisa mencintainya.

Saat sedang melamun tiba-tiba
“Halo, assalamua’alaikum. Ini siapa?” tanyaku
“AKu-aku…” terdengar suara terbata-bata di seberang sana
Aku menunggu beberapa saat, tapi masih tidak ada sahutan. Kemudian aku pun memutuskan untuk menutup sambungan teleponnya, tapi tiba-tiba…
“Aku Arman” kata suara di seberang sana.

Pengakuan itu membuat jantungku nyaris berhenti berdetak. Aku hampir tidak bisa mengambil nafas karena tiba-tiba udara di kamarku terasa pengap. Kini aku yang diam tidak tahu harus menjawab apa. Arman hanya bilang jika dia ingin bertemu denganku di sekolah SMP kita dulu. Aku hanya bisa mengatakan iya, karena hatiku terlalu bergetar sehingga aku tidak sanggup lagi untuk berkat-kata.

Pagi harinya aku bangun pagi-pagi sekali dan segera bersiap-siap. Aku mandi dan memilih pakaian yang terbaik yang aku pakai. Aku memilih celana jins dan kemeja kotak-kotak berwarna merah. Setelah siap aku pun segera berangkat menuju tempat SMP ku dulu. Selama perjalanan aku memikirkan bagaimana caranya aku manyapanya nanti. Lalu apa yang akan aku bicarakan padanya.

Jarak yang kutempuh lumayan jauh. aku membayangkan bagaimana Arman sekarang. Apakah dia masih seperti dulu ataukah sudah berubah. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri tentang bagaimana dirinya. Karena tidak sabar untuk menunggunya aku pun menekan gas sepeda motorku agar aku bisa cepat sampai di tempat tujuan. 

Hari ini aku begitu bahagia karena aku akan bertemu dengan seseorang yang selama ini aku tunggu. Aku tidak sabar untuk segera sampai di sekolah SMP ku dulu. Aku pun menambah kecepatan motorku.

Ketika tiba-tiba di tikungan jalan ada sebuah truck dengan kecepatan tinggi aku mencoba mengerem namun terlambat. Truck itu sudah berada tepat di depanku. Tabrakan itu pun tidak dapat dihindarkan. Aku hanya mendengar suara braakkkk dan orang-orang yang kemudian berkerumun di sekelilingku. 

Kepalaku pusing dan mataku terasa berat untuk kubuka. Aku hanya mendengar suara orang-orang yang ada di sekelilingku. Setelah itu semuanya gelap.
Tiba-tiba aku melihat ragaku tergeletak dan dibawa entah kemana.
“Apakah ini artinya aku sudah mati?” tanyaku pada diri sendiri.

Kemudian aku teringat pada Arman. Aku segera menuju ke sekolah SMP ku dulu. Di depan pintu gerbang kulihat Arman sudah berpakaian rapi berdiri dengan gelisah. Aku pun menghampirinya. Namun saat aku memanggilnya dia tidak sedikit pun menoleh ke arahku. Aku baru sadar jika jiwaku ini sudah terpisah dengan ragaku.

Aku pun hanya mengamatinya. Dia terlihat gelisah dan beberapa kali mellihat jam yang ada di tangannya. Aku begitu sedih melihatnya. Ingin aku mengatakan padanya jika aku ada di sini di sampingnya.

Tiba-tiba teleponnya berbunyi
“Ada apa man?” tanyanya
“Apa?, Alana kecelakaan? Sekarang di mana?” suara Arman terlihat panik dan terkejut. Kemudian dia pergi dengan mengendarai motornya. Sementara aku mengikutinya. Ternyata dia ada di rumah sakit. Di situ sudah ada banyak orang. Dan juga ada Usman.

“Bagaimana keadaannya man?” tanyanya pada Usman yang terlihat sedih.
“Nggak tahu man, dokter lagi memeriksanya. Kita tunggu saja nanti. Semoga saja keadaannya tidak parah” kata Usman menjelaskan.
Arman hanya diam namun raut di wajahnya tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Tidak lama kemudian Arman terlihat mengeluarkan air matanya. 

Kemudian seorang dokter ke luar dari ruangan. Arman dan usman pun langsung menghampiri dokter itu dan menanyakan keadaanku.
“Maaf nak, nyawanya tidak bisa tertolong lagi. kami tadi sudah berusaha tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Maafkan kami” kata dokter itu kemudian pergi meninggalkan Armand an Usman.

Aku yang emndengar hal itu langsung terduduk lemas, aku nggak percaya jika aku sudah mati. Aku ingin berlari dan menghampiri Arman yang menangis. Aku ingin berkata jika aku ini belum mati aku masih ada di sampingnya. Tapi apa daya dia bahkan tidak bisa mendengar suaraku dan melihat diriku. Aku benar-benar ingin menangis. Kenapa ini harus terjadi.

Kenapa Engkau ambil nyawaku di saat aku tahu orang yang kucintai selama ini juga mencintaiku. Kenapa ya Allah kenapa Engkau ambil nyawaku sekarang. Kenapa Engkau tak memberikan aku waktu untuk bertemu dengannya dan mengungkapkan perasaanku padanya” kataku bertanya-tanya.

Aku melihat wajah Arman yang sudah penuh dengan airmata. Aku duduk di sampingnya mengamati wajah yang selama ini kurindukan. Wajah ini yang selalu memenuhi kepalaku selama bertahun-tahun. Sekarang ada di depanku namun aku tidak dapat menyentuhnya. Dia begitu dekat namun terasa begitu jauh karena sekarang kami terpisah dengan dinding alam yang berbeda.

“Kenapa Engkau ambil nyawanya saat aku ingin mengungkapkan perasaanku padanya Tuhan kenapa Engkau ambil dia sebelum aku bertemu dengannya. Bertahun-tahun aku menunggunya, tapi kenapa saat aku akan bertemu dengannya, engkau justru mengambil nyawanya” kata Arman sambil menutup wajah sedihnya.

Aku tak tahu harus bagaimana. Seharusnya aku bahagia mendengar itu dari mulutnya. Kata-kata yang selama ini aku tunggu. Tapi sekarang aku sudah ada di alam yang berbeda dnegan Arman. Aku hanya bisa menyesali semua kebodohanku karena tidak mengungkapkan perasaanku sejak dulu. Mungkin jika aku mengatakannya sejak dulu semuanya tidak akan berakhir seperti ini.

Kini aku hanya bisa pergi meninggalkan dunia ini dengan airmata. Takdir Tuhan telah memutuskan jika aku harus pergi meninggalkannya. Tanpa mnegucapkan perasaanku padanya. namun aku berharap dia tahu jika aku juga mencintainya sejak pertama kali melihatnya. Meskipun aku tidak mengucapkannya tapi aku berharap dia merasakannya. Jika aku memiliki perasaan yang sama dengannya dan aku selalu ada di dekatnya.

CERITA CINTA - Ketika Cinta Menyapa

Mentari pagi mulai menampakkan wajahnya, burung-burung kecil mulai menyanyikan lagu riang, di sebuah kamar megah terlihat seorang pemuda bernama Vino yang masih asyik bermesraan dengan bantalnya, sepertinya dirinya enggan membuka mata sipitnya. Namun akhirnya ia mulai terganggu dengan sinar mentari yang begitu terang, ia mulai membuka matanya, wajahnya sangat kusut. Setelah beberapa saat mengumpulkan nyawanya, ia mulai beranjak ke dalam kamar mandi untuk membersihlkan diri. Setelah beberapa menit mandi, ia mulai berpakaian, dan ke luar dari kamar megahnya























Reno” Ucap Vino memanggil adik satu-satunya, tak berapa lama seorang pemuda berperawakan tinggi menghampirnya
“Ada apa kak? Udah siap?” Tanya pemuda yang bernama Reno
“Udah donk, kamu udah?” Tanya Vino kembali, Reno hanya menganggukan kepalanya. Hari ini mereka akan pergi berlibur ke sebuah pulau yang terkenal dengan keindahannya, yaitu pulau Bunaken.
“Kalo gitu, ayo berangkat” Ucap Vino dengan penuh semangat. Setelah itu mereka langsung menaiki mobil sport warna merah milik Vino.

Setelah 2 jam perjalanan, akhirnya mereka sampaidi pulau Bunaken, sampai disana perjalanan melelahkan mereka terbayar sudah oleh hamparan pasir puntih yang berkilau seperti berlian dan pulau yang begitu indah. Vino tak ingin melewatkan pemandangan indah ini, ia langsung mengambil kamera canonnya, dan memotret.

“Kak, ke pondokan yuk” Ucap Reno, Vino hanya menganggukan kepalanya karena ia sedang berkonsentrasi melihat hasil potretannya, hingga saat berjalan ia tak sengaja menabrak seorang wanita hingga kameranya terjatuh dan rusak
“Astaga, kameraku” Vino tercengang melihat camera kesayangannya kini sudah hancur berkeping-keping
“Eh, sorry ya, aku bener-bener gak sengaja” Ucap wanita tadi, Vino menolehkan kepalanya, namun saat melihatt wajah gadis itu, ia terdiam melihat paras cantik gadis itu. Gadis itu heran melihat Vino yang tidak membalas perkataannya
“Heiii” Ucapnya sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Vino
“Ehhh iya” Vino segera tersadar dari lamunannya dan tersenyum manis, sedangkan gadis itu heran melihat perilaku Vino
“Eung, maaf ya, gara-gara aku kamera kamu jadi rusak” Ucap gadis itu sambil menundukkan kepalanya
“Eh iya, gak papa kok, ini salah aku karena aku gak perhatiin jalan tadi, oh iya nama kamu siapa?”
“Aku Veni” Ucap Veni sambil mengulurkan tangannya
“Aku Vino, salam kenal” Ucap Vino membalas uluran tangan Veni
“Kamu lagi liburan ya?” Tanya Veni sambil melepaskan uluran tangannya
“Iya, mumpung lagi libur, soalnya aku penasaran banget sama pulau Bunaken yang katanya indah, tapi ternyata memang indah banget”
“Bunaken memang indah, aku senang bisa tinggal di pulau ini” Ucap Veni sambil tersenyum
“Eh, kamu tinggal disini?”
“iya, aku tinggal disini, sekalian jagain villa ayahku” Ucap Veni, Vino membulatkan mulutnya, entah kenapa Vino merasa sangat senang berada di samping Veni, mungkin saja Vino telah jatuh cinta pada pandangan pertama.

Semenjak perkenalan singkat mereka, Vino memutuskan untuk menginap di pulau Bunaken selama 2 minggu, Vino dan Veni sudah sangat dekat, mereka sama-sama telah jatuh cinta, namun tak ada yang berani mengungkapkannya, hingga suatu saat Veni ingin bertemu Vino di tempat biasanya, saat bertemu Veni, Vino sangat terkejut melihat wajah Veni yang begitu pucat

“Ven, kamu gak papa?” Tanya Vino dengan nada khawatir, Veni hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya
“Vin, ayo kita duduk disini” Ucap Veni sambil duduk di atas pasir putih, Vino mendudukan bokongnya di atas pasir, Veni meraih tangan Vino, saat bersentuhan dengan tangan Veni, Vino bisa merasakan tubuh Veni yang begitu dingin, hingga ia melepas jaketnya dan memakaikannya di tubuh Veni

“Vin, aku mau ngomong sesuatu sama kamu” Ucap Veni dengan mata yang menatap lurus kedepan
“Ngomong apa ven?” Tanya Vino heran, biasanya Veni tidak pernah meminta izin untuk berbicara Kepadanya
“Vin, mungkin ini saat terakhir aku untuk hidup di dunia, aku mohon jangan pernah kamu menangis saat aku pergi nanti” Ucap Veni, ia mulai meneteskan airmatanya, Vino heran mendengar penuturan Veni.

Maksud kamu apa ven? Kamu gak boleh ngomong gitu”
“Vin, sebentar lagi aku akan hidup bahagia bersama Tuhan di surga, aku terkena kanker stadium akhir” Veni mengeluarkan airmatanya lebih deras, Vino terdiam, ia tak bisa berbicara apapun mendengarkan ucapan Veni.

Vin, sebelum aku pergi, aku ingin kamu tahu satu hal, aku mencintaimu vin, terimakasih karena kamu sudah hadir di hidupku, mencintaimu itu seperti keajabian untukku dan kehadiranmu membuat gadis penyakitan seperti menjadi mempunyai harapan” Ucap Veni, ia mengenggam tangan Vino erat, Vino memeluk tubuh dingin Veni.

Ven, aku juga mencintaimu, maafin aku karena aku begitu pengecut untuk menyatakannya kepadamu, mencintaimu juga merupakan keajaiban bagiku, aku berterimakasih kepada Tuhan karena ia mau mempertemukan kita” Ucap Vino sambil mengelus rambut indah Veni, namun ia terkejut melihat rambut Veni rontok
“Aku lega, karena cintaku terbalas, walaupun pertemuan kita singkat, aku mohon jangan lupain pertemuan ini vin”
“Aku gak mungkin lupain kamu ven, dan aku mohon jangan putus asa, aku yakin kamu akan sembuh”

Vin, aku udah gak ada harapan untuk sembuh, mungkin sebentar lagi Tuhan akan memanggilku. Vino aku mencintaimu” Veni merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya, ia menangis dalam diam, hingga ia menutup matanya, Vino pikir Veni sedang tidur namun perlahan pelukan Veni merenggang dan nafas Veni sudah berhenti berhembus,

Vino tau hari ini sudah datang, hari dimana Veni akan bahagia bersama Tuhan dan hari dimana Vino kehilangan cintanya, sesuai dengan pesan Veni, Vino tidak akan menangis, ia tidak mau di surga sana Veni sedih melihat pria yang ia cintai menangis.

Mencintai Veni membuat Vino belajar bagaimana mencintai seseorang dengan tulus, dan mengatasi rasa sakit. Vino tahu jika Tuhan menciptakan pertemuan dan perpisahan, namun ia merasa kecewa, mengapa ketika cinta menyapa, cinta itu juga harus hilang?. Namun Vino tetap bersyukur karena ia telah dipertemukan dengan wanita setegar dan secantik Veni di pulau yang indah ini, selama hidup Vino pulau Bunaken akan menjadi kenangan untuknya dan Veni akan menempati tempat khusus di hatinya.

CERITA CINTA - Sepercik Senyum Sejuta Luka

Jogja belum bangun. Sayup-sayup dari celah jendela hembusan nafas masih terdengar. Detak jantung masih berdenting. Tangan itu masih berdenyut. Perlahan aku membuka mata. Sama seperti kemarin. Aku masih melihat sekotak kamar kecilku. Masih dengan dinding yang sama. Warna merah muda dan lambang klub sepak bola favoritku, Manchester United. Masih melihat tulisan-tulisan indah berkelok-kelok di atap ‘Selamat, seorang Azmya masih bernafas hari ini. Semoga menjadi hari yang tak terlupakan. Ayo tersenyum’. Setiap kali aku bangun dari mimpi malamku, aku pasti akan melihat dan membaca tulisan itu. Dan perlahan aku tersenyum.




















Ya. Namaku Azmya Azzahra Ramadhani. Aku seorang siswi SMA kelas 2 di Jogja tahun ini. Mungkin aku adalah sebagian dari manusia yang beruntung di dunia ini. Aku memiliki Ibu yang sangat-sangat mencintaiku, Ayah yang selalu perhatian denganku, dan kakak yang mengerti aku. Walaupun begitu, aku mungkin juga sebagian dari manusia yang tak beruntung di dunia ini. Ya, aku mengidap penyakit yang sama sekali tak ada obatnya. Dokter memvonis waktuku hanya sebentar. Mungkin ketika aku berumur 20 tahun aku tak dapat lagi untuk berjalan, 23 tahun aku tak dapat lagi untuk bicara, 25 tahun aku tak dapat lagi menghembus nafas.

Aku kadang berpikir kenapa harus aku yang mendapatkan penyakit ini? Kenapa harus seorang Azmya yang merasakan? Apa tidak ada manusia lain yang punya penyakit seperti ini selain aku?. Kadang aku juga bertanya pada ibuku, “Bu, apakah aku bisa kuliah?

Bu, apakah aku kelak dapat bekerja?” “Bu, apakah aku kelak dapat menikah dan mempunyai seorang anak?”. Jawabannya selalu sama “Kamu pasti bisa”. Tapi disamping jewaban itu, aku tak langsung mempercayainya, aku selalu berpikir dia hanya ingin menenangkanku.

Aku punya banyak hal yang ingin kuceritakan, tapi aku takut akan membuatnya khawatir. Meski begitu, mungkin ibuku sudah lebih tau apa yang akan terjadi padaku walaupun aku tak menceritakan apa-apa padanya. Sebelum aku menginjak usia 17 tahun, semuanya tetap sama dengan yang lainnya, tetap sama dengan teman-teman sekolahku, tetap sama dengan manusia lainnya yang hidup sehat. Tapi setelah itu, aku berumur 17 tahun.

Satu per satu keanehan datang padaku. Perlahan semuanya berubah. Aku jadi sering jatuh, pandanganku kabur, aku tak pandai menghitung jarak dengan tepat, sampai-sampai sekarang aku tak pandai menulis.

Sebenarnya aku telah lama mengetahui diriku. Mungkin sekitar aku duduk dikelas 3 sekolah dasar, orangtuaku berbicara tentang diriku. Waktu itu aku tak sebegitu khawatir, mungkin karena aku belum tau betul seganas apa penyakit itu. Pada saat itu, aku selalu menuliskan cerita hidupku dalam buku harianku agar di suatu saat ketika aku telah lupa akan sesuatu hal, buku ini dapat mengingatkanku. Masih tertulis dengan jelas “ataksia spinocerebellar, penyakit cacat yang fatal dan tidak dapat disembuhkan.

Ya, ternyata aku dilahirkan dengan normal tapi aku juga dilahirkan cacat. Bukan cacat fisik seperti kebanyakan orang, bukan cacat seperti aku tak mempunyai tangan, kaki, atau apa. Semuanya lengkap. Tapi, salah satu bagian otakku yaitu cerebellum volumenya menjadi lebih kecil dari bentuk normal (atrofi) dan lama-kelamaan menyebabkan kesulitan dalam mengontrol gerak tubuh.

Hari itu saat aku duduk di kelas 1 SMA. Cuaca agak cerah dengan hembusan angin Agustus yang lembut. Setelah pelajaran selesai dan semua murid bergegas untuk pulang, aku merasa kakiku lemas dan seketika aku terjatuh. Aku berusaha bangkit, namun aku dikagetkan dengan uluran tangan seseorang. “Bisa kubantu?” Katanya. Sontak aku melihat wajahnya.

Seorang cowok kelas 2 terkenal di sekolah. Sebenarnya aku juga menyukainya, tapi karena keadaanku, aku tak berani melakukannya. Aku takut untuk mencintai seseorang. Saat itu, aku hanya mengaguminya dalam diam. Sejak pertemuan waktu itu, kami semakin dekat. Saat aku terjatuh, dia selalu di sampingku, tetap sama mengulurkan tangannya utukku.

‘Kringgggggg…’, suara telepon di ujung berdering
“Halo” ucapku
“Halo, bisa bicara dengan Azmya?”
“Iya saya sendiri, dengan siapa saya bicara?”
“Ini bang Ryu, apa kamu sibuk?”
Seketika aku kaget, tapi aku sangat bahagia. Cowok kelas 2 itu meneleponku.
“Emm.. nggak kok. Memangnya ada apa bang?”

Pergi ke toko buku yuk, ada buku baru yang harus kamu baca. Aku jemput yah”, suara di ujung sana itu membuat dadaku sesak. Aku tak tahu kenapa seperti ini. Mungkin akibat rasa senang yang berlebihan. Aku menebak-nebak sendiri. Atau mungkin hal lain tentang penyakitku? Ahh.. Rasanya aku tak mau berpikir tentang itu. Yang aku pikirkan aku akan pergi bersamanya.
“Eh kok diem, masih di situ kan?”, suaranya kembali terdengar, sontak aku kaget
“Eh emm iya, aku siap-siap dulu ya”
“Oke, aku langsung ke sana.

Sampai jumpa”
“Sampai jumpa”
Aku menutup telepon dengan tangan gemetar. Tapi senyumku tak kunjung habis. Aku sangat bahagia hari itu. Ada rasa yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Ada rasa yang tak pernah datang dari sekian banyak umur yang telah kuhabiskan.

Aku semakin dekat dengannya, bahkan aku menjalin hubungan dengan cowok kelas 2, kakak kelasku itu.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun ajaran baru pun dimulai. Aku menginjak bangku kelas 2 SMA, sedangkan Ryu selangkah lagi akan masuk jenjang perguruan tinggi. Usiaku menginjak 17 tahun. Sudah banyak sekali kejadian aneh dalam diriku.

Tiba-tiba saja aku jatuh tanpa sebab, gerakanku terhenti dalam beberapa menit, bahkan sekarang aku tak pandai lagi menulis. Dokter mengatakan penyakit ini semakin akut dan mengakibatkan sistem motorik semakin memburuk. Pantas saja, sekarang aku tak dapat menentukan jarak dengan tepat. Meski segalanya dalam hidupku seperti dalam ribuan tangis, tapi terdapat sepercik senyum di dalamnya.

Ryuta Wiratama. Ya, nama itulah yang memunculkan senyum yang menghias wajahku sehari-hari. Ryu tahu tentang penyakitku ini, tapi dia sama sekali tak menghiraukannya. Aku selalu melihat senyumnya mengembang setiap kali bersamaku. Pancaran mata lembutnya itu membuatku melupakan beban hidupku. Sampai hari ini dimana seorang Azmya semakin memburuk, seorang Ryu tetap dalam rasa itu. Tetap di situ untukku.

Rabu, 30 November 2016

CERITA CINTA - Kisah nyata Cinta Wanita Selingkuh

Suamiku tertidur di sebelahku, aku mengamati dan memandangnya… Ya Allah aku telah banyak menyakitinya, menghianatinya tanpa pernah dia tahu… Ya Allah betapa aku merasa diriku hina sekali dihadapannya. Aku tidak pantas memperlakukannya seperti ini…







Pembaca.. kisahku ini dimulai ketika aku diterima menjadi seorang karyawati di sebuah perusahaan swasta di sebuah kota di Kalimantan. Belum lama aku bekerja di perusahaan tersebut tepatnya baru 5 bulan, bosku memperkenalkan aku dengan sahabatnya.

Sahabat bosku ganteng, kaya, dewasa, pekerjaannya pun mapan, jika dibandingkan dengan pacarku atau lebih tepatnya bisa dibilang suamiku karena kita diam-diam sudah menikah sirih, tetapi perusahaan tidak pernah tahu kalau aku sudah menikah karena masa dinas yang tidak memperbolehkan karyawan menikah sebelum satu tahun bekerja. 

Suamiku hanya seorang admin di sebuah perusahaan asuransi dan masih menyelesaikan kuliahnya, jika dibandingkan dengan sahabat bosku yang sudah mapan, kaya, dan ganteng itu sungguh sangat jauh berbeda.

Awalnya aku menolak menerima cinta sahabat bosku tersebut, dengan menangis-nangis dia memohon agar aku mau menerima cintanya. Tapi memang awalnya aku belum tertarik padanya, aku merasa tahu diri bahwa aku sudah bersuami dan aku sangat mencintai suamiku itu, dengan membayangkan masa-masa dulu bahagia dengan cinta yang kami bina.

Tetapi dengan penuh cinta, sahabat bosku tersebut berusaha terus mendekatiku. Dia menelpon, sms, menghubungiku melalui Facebook, dan dengan cara-cara lainnya. Meskipun dia jauh di Jakarta, tetapi tidak memupuskan semangatnya untuk mengejarku. 

Tanpa disadari aku mulai kehilangan dia ketika dia sehari saja tak menghubungiku, aku merindukannya ketika sejam saja dia terlambat menanyakan aku apa sudah makan siang atau belum, aku merasa nyaman dengan kedewasaanya, kasih sayangnya, dan semua perlakuannya kepadaku.

Pada suatu hari kami bersepakat untuk bertemu, dia bela-belain ke Kalimantan hanya untuk menemuiku. Dia utarakan niatnya untuk memperistriku tapi karena aku juga mulai mencintainya akupun berniat memilihnya untuk menjadi suamiku yang sebenarnya. 

Aku berniat untuk meminta cerai talak kepada suamiku yang sekarang. Tapi karena aku tahu bahwa aku sudah tidak perawan karena aku sudah menikah sirih dengan suamiku yang sekarang. Kuceritakan kondisi diriku yang sebenarnya kepada sahabat bosku tersebut.

Dia menangis seolah tidak terima bahwa seseorang yang sangat dicintainya dan dipilih untuk menjadi istrinya tidak sesuai dengan kriteria dirinya dan keluarganya. Dia bilang kalau dia pribadi bisa menerima aku apa adanya karena dia sangat mencintaiku, tapi untuk memperkenalkan aku kepada keluarganya dia bilang belum bisa dan belum sanggup melakukannya.

Dia tak tahu apakah keluarganya mau menerimaku atau tidak jika calon menantunya adalah seorang janda. Karena di dalam keluarganya harga diri, nama baik, status sosial, bibit, bebet, dan bobot adalah sangat menjadi pertimbangan.

Aku sangat kecewa dengannya, aku berusaha melupakannya setelah pertemuan itu, tetapi tidak kusangka dia tetap menelponku meski dia tahu bahwa aku tidak seperti yang dia mau. Dia tetap berusaha menjaga hubungan cinta kami. 

Lama kelamaan aku menyadari bahwa dia memang benar-benar mencintaiku. Aku tidak pernah merasakan cinta seperti dia mencintaiku, mengagumiku. Aku merasa menjadi wanita yang paling cantik dan sempurna di dunia karena dicintai seseorang pria dewasa seperti dia.

Akhirnya kita tetap berhubungan, tak ayal berhubungan badanpun sudah menjadi suatu kebutuhan dan sebuah ungkapan untuk kami melepas rindu. Meski jarak memisahkan kami tetapi tidak memupuskan semangat kami untuk memadu cinta. Sebulan sekali kami pasti bertemu, entah dia yang ke Kalimantan atau aku yang ke Jakarta hanya untuk menemuinya. 

Meski aku harus berbohong kepada keluarga besarku dan suamiku soal seringnya aku harus keluar kota. Aku selalu membuat alasan kalau aku mendapat tugas dinas keluar kota dari kantor. Dengan penuh kesabaran suamiku selalu mengantarkan aku ke bandara jika aku mau ke jakarta dan menjeputku lagi di bandara saat aku kembali ke Kalimantan.

Hari demi hari, bulan demi bulan pun berlalu, kami terus memadu kasih melalui dunia maya, handpone dan sebagainya. Suatu hari keluargaku berniat menikahkan aku secara resmi dengan suamiku, aku bingung harus berbuat apa. Sedangkan aku sudah tidak mencintainya lagi, semua sudah pudar seiring berjalannya waktu. Tetapi aku pun tidak pernah mendapat kepastian dari sahabat bosku itu tentang hubungan kami.

Hubunganku dengan sahabat bosku yang tidak tahu kemana akan dibawa membuatku berpikir dua kali. Sampai kapan aku terus mengharapkannya, sedangkan dia seolah lebih mencintai keluarganya dibanding aku. Meskipun dia rela melakukan apa saja untukku tapi tidak untuk menentang keluarganya demi aku.

Akhirnya aku memutuskan untuk menjalani pernikahan resmiku bersama suamiku. Meski cintaku kepadanya sudah tidak seperti dahulu lagi tapi aku tidak ada pilihan lain. Daripada aku menunggu selikuhanku yang tidak pernah ada kepastian. Dan akhirnya aku pun menikah resmi.

Sahabat bosku itu terus menelponku dan menangis, dia merasa dia juga tidak bisa berbuat apa-apa atas kehidupannya bersamaku. Tapi entah mengapa aku merasa nyaman, tenang, dan bahagia atas pernikahan resmiku bersama suamiku. Meski cintaku tidak lagi sepenuhnya seperti dahulu.

Hari demi hari aku lalui dengan berusaha menjadi ibu rumah tangga yang baik di depan suamiku meski aku tidak setia kepadanya. Hubunganku dengan selingkuhanku pun terus berlanjut, tak berbeda dengan sebelum aku menikah kami tetap saling mengunjungi entah aku ke Jakarta atau dia yang ke kalimantan. 

Dia tetap mencintaiku seperti dulu, tidak berubah. Dia tetap mengagumiku, memujaku seperti dulu, bahkan kami sempat untuk berencana memiliki anak. Kami terus berusaha untuk bisa segera punya anak, sama seperti suamiku yang ingin segera memiliki anak dari pernikahan kami.

Satu bulan, dua bulan, akhirnya bulan keempat pun tiba. Aku merasa tidak mendapatkan haid di bulan itu. Seminggu setelahnya aku periksa kedokter ternyata hasilnya positif, iya aku hamil. Meski aku belum tahu anak siapa yang aku kandung tapi berita ini membuat kedua laki-laki yang sama-sama mencintaiku itu sangat bahagia.

Tapi entah kenapa aku tidak yakin kalau ini anak selingkuhanku, karena dilihat dari frekuwensi kami bertemu hanya sebulan sekali, meski setiap kali kami bertemu kami pasti berhubungan badan. Pernah suatu hari selingkuhanku menanyakan kepastian siapa bapak dari anak yang aku kandung, tapi aku meyakinkan dia bahwa untuk tidak terlalu berharap karena menurutku labih baik dia kecewa sekarang daripada nanti setelah aku melahirkan, dia lebih kecewa lagi ketika dia tahu bahwa si kecil ngga mirip dia.

Hari ke hari, bulan ke bulan, sampe akhirnya tiba waktu aku melahirkan. Suamiku yang setia menungguiku dari awal aku merasa kesakitan sampai saatnya aku bertaruh nyawa melahirkan anakku, anakku yang aku belum tahu siapa bapaknya. Dari pagi sampai pagi lagi suamiku dengan sabar mendampingiku, memberiku support dan semangat. 

Sampai dia tertidur di sebelahku, aku mengamatinya dan memandangnya ya Allah aku telah banyak menyakitinya, menghianatinya tanpa pernah dia tahu. Seandainya dia tahu perbuatanku yang sangat bejat ini mungkin dia tidak akan pernah mau melihat mukaku lagi dan mungkin aku akan kehilangan laki-laki yang sangat setia dan baik ini.

Rasa ibaku muncul, tiba-tiba aku ingat masa-masa dulu aku bersamanya merajut cinta. Susah senang kami jalani bersama tanpa mengeluh. Cintaku kembali bersemi untuk suamiku, rasa iba itu membawaku kembali mencintainya, menyayanginya, ya Allah betapa aku merasa diriku hina sekali dihadapannya. Aku tidak pantas memperlakukannya seperti itu. Ternyata aku sadari bahwa masih ada setitik rasa cinta untuk suamiku.

Akhirnya aku pun melahirkan buah hatiku, yang banyak orang menantinya. Dia cantik, putih bersih, mungil. Wajahnya mirip sekali denganku, tetapi bentuk tubuhnya mirip sekali dengan ayahnya, ya! Ayahnya yang tegap, tinggi besar, dan bertulang besar, dia adalah suamiku. Suamiku yang sah yang akupun mulai mencintainya lagi, menyayanginya. 

Ternyata bapak dari anakku adalah suamiku yang sah, entah kenapa pula aku sangat bahagia mengetahui bahwa ayah kandung dari anakku adalah suamiku sendiri, suami yang sah, yang aku khianati sejak lama.

Akupun menelpon selingkuhanku untuk memberi tahu kabar baik ini kepadanya, meski belum tentu ini adalah kabar menggembirakan buat dia. Setelah kuberi tahu, dia seolah sudah siap atas segala kemungkinan yang akan terjadi, kemungkinan bahwa si mungil cantikku itu bukanlah keturunanya. Kami sempat berkomunikasi melalui video call di rumah sakit, dan akupun menunjukkan si kecil padanya.

Dia tetap bahagia meski dia tahu bahwa anakku bukan darah dagingnya. dia selalu menanyakan kabar anakku setiap dia menelponku. Dia juga ikut cemas jika si kecil sakit. Bahkan dia mengirimkan kado istimewa untuk si kecil. Aku tidak pernah tahu terbuat dari apakah cintanya buatku. Seperti apapun kondisiku dia tetap mencintaiku dan memujaku.

Tapi aku kini telah sadar, aku mulai mencintai suamiku lagi, mulai menyayanginya lagi. Dan aku pun mulai jarang menghubungi selingkuhanku. Tapi meski begitu dia tidak pernah putus asa untuk selalu menjalin hubungan baik denganku. Baginya meskipun dia tidak bisa memilikiku paling tidak dia tetap bisa berteman denganku, tahu kabarku. 

Bahkan dia mengirimkan uang untuk kado si kecil. Membelikan boneka saat dia ke kotaku di kalimantan. Aku sangat menghargai cintanya buatku, tapi aku sadar bahwa aku sudah bersuami dan bahkan sekarang ada si kecil yang selalu membuatku sadar akan kodratku dan statusku.

Aku menyanyangimu Suamiku.. meski di hatiku sudah terbagi dengan yang lain meski secuil. Maafkan aku, tapi aku berjanji aku tidak akan meninggalkan kalian suamiku dan anakku, kalian tetap nomor satu bagiku. Aku mencintai kalian, kalian adalah semangat hidupku. 





CERITA - Kisah Nyata Tentang Keajaiban Cinta

Kisah ini terjadi di Beijing China, seorang gadis bernama Yo Yi Mei memiliki cinta terpendam terhadap teman karibnya di masa sekolah. Namun ia tidak pernah mengungkapkannya, ia hanya selalu menyimpan di dalam hati dan berharap temannya bisa mengetahuinya sendiri. Tapi sayang temannya tak pernah mengetahuinya, hanya menganggapnya sebagai sahabat, tak lebih.



















Suatu hari Yo Yi Mei mendengar bahwa sahabatnya akan segera menikah hatinya sesak, tapi ia tersenyum “Aku harap kau bahagia“. Sepanjang hari Yo Yi Mei bersedih, ia menjadi tidak ada semangat hidup, tapi dia selalu mendoakan kebahagiaan sahabatnya. 

12 Juli 1994 sahabatnya memberikan contoh undangan pernikahannya yang akan segera dicetak kepada Yi mei, ia berharap Yi Mei akan datang, sahabatnya melihat Yi Mei yang menjadi sangat kurus & tidak ceria bertanya “Apa yang terjadi dengamu, kau ada masalah?” 

Yi mei tersenyum semanis mungkin ”Kau salah lihat, aku tak punya masalah apa apa, wah contoh undanganya bagus, tapi aku lebih setuju jika kau pilih warna merah muda, lebih lembut…” Ia mengomentari rencana undangan sahabatnya tesebut. 

Sahabatnya tersenyum “Oh ya, ummm aku kan menggantinya, terimakasih atas sarannya Mei, aku harus pergi menemui calon istriku, hari ini kami ada rencana melihat lihat perabotan rumah… daag“. Yi Mei tersenyum, melambaikan tangan, hatinya yang sakit. 

18 Juli 1994 Yi Mei terbaring di rumah sakit, Ia mengalami koma, Yi Mei mengidap kanker darah stadium akhir. Kecil harapan Yi Mei untuk hidup, semua organnya yang berfungsi hanya pendengaran, dan otaknya, yang lain bisa dikatakan “Mati“ dan semuanya memiliki alat bantu, hanya mukjizat yang bisa menyembuhkannya.

Sahabatnya setiap hari menjenguknya, menunggunya, bahkan ia menunda pernikahannya. Baginya Yi Mei adalah tamu penting dalam pernikahannya. Keluaga Yi Mei sendiri setuju memberikan “Suntik Mati“ untuk Yi Mei karena tak tahan melihat penderitaan Yi Mei. 

10 Desember 1994 Semua keluarga setuju besok 11 Desember 1994 Yi Mei akan disuntik mati dan semua sudah ikhlas, hanya sahabat Yi Mei yang mohon diberi kesempatan berbicara yang terakhir, sahabatnya menatap Yi Mei yang dulu selalu bersama. 

Ia mendekat berbisik di telinga Yi Mei “Mei apa kau ingat waktu kita mencari belalang, menangkap kupu kupu?… kau tahu, aku tak pernah lupa hal itu, dan apa kau ingat waktu disekolah waktu kita dihukum bersama gara gara kita datang terlambat, kita langganan kena hukum ya?”


“Apa kau ingat juga waktu aku mengejekmu, kau terjatuh di lumpur saat kau ikut lomba lari, kau marah dan mendorongku hingga aku pun kotor?… Apakah kau ingat aku selalu mengerjakan PR di rumahmu?… Aku tak pernah melupakan hal itu…“ 

“Mei, aku ingin kau sembuh, aku ingin kau bisa tersenyum seperti dulu, aku sangat suka lesung pipitmu yang manis, kau tega meninggalkan sahabatmu ini?….” Tanpa sadar sahabat Yi Mei menangis, air matanya menetes membasahi wajah Yi Mei. 

“Mei… kau tahu, kau sangat berarti untukku, aku tak setuju kau disuntik mati, rasanya aku ingin membawamu kabur dari rumah sakit ini, aku ingin kau hidup, kau tahu kenapa?… karena aku sangat mencintaimu, aku takut mengungkapkan padamu, takut kau menolakku“ 

“Meskipun aku tahu kau tidak mencintaiku, aku tetap ingin kau hidup, aku ingin kau hidup, Mei tolonglah, dengarkan aku Mei … bangunlah…!!“ Sahabatnya menangis, ia menggengam kuat tangan Yi Mei “Aku selalu berdoa Mei, aku harap Tuhan berikan keajaiban buatku, Yi Mei sembuh, sembuh total. Aku percaya, bahkan kau tahu?.. aku puasa agar doaku semakin didengar Tuhan“ 

“Mei aku tak kuat besok melihat pemakamanmu, kau jahat…!! kau sudah tak mencintaiku, sekarang kau mau pergi, aku sangat mencintaimu… aku menikah hanya ingin membuat dirimu tidak lagi dibayang-bayangi diriku sehingga kau bisa mencari pria yang selalu kau impikan, hanya itu Mei…“ 

“Seandainya saja kau bilang kau mencintaiku, aku akan membatalkan pernikahanku, aku tak peduli… tapi itu tak mungkin, kau bahkan mau pergi dariku sebagai sahabat“ 

Sahabat Yi mei berbisik ”Aku sayang kamu, aku mencintaimu” suaranya terdengar parau karena tangisan. Dan apa yang terjadi?…. Its amazing !! ”CINTA“ bisa menyembuhkan segalanya. 

7 jam setelah itu dokter menemukan tanda tanda kehidupan dalam diri Yi Mei, jari tangan Yi Mei bisa bergerak, jantungnya, paru parunya, organ tubuhnya bekerja, sungguh sebuah keajaiban !! Pihak medis menghubungi keluarga Yi Mei dan memberitahukan keajaiban yang terjadi. Dan sebuah mujizat lagi… masa koma lewat…. pada tgl 11 Des 1994. 

14 Des 1994 saat Yi Mei bisa membuka mata dan berbicara, sahabatnya ada disana, ia memeluk Yi Mei menangis bahagia, dokter sangat kagum akan keajaiban yang terjadi. “Aku senang kau bisa bangun, kau sahabatku terbaik“ sahabatnya memeluk erat Yi Mei .

Yi Mei tersenyum “Kau yang memintaku bangun, kau bilang kau mencintaiku,tahukah kau aku selalu mendengar kata-kata itu, aku berpikir aku harus berjuang untuk hidup“ “Lei, aku mohon jangan tinggalkan aku ya, aku sangat mencintaimu” Lei memeluk Yi Mei “Aku sangat mencintaimu juga“. 

17 Februari 1995 Yi Mei & Lei menikah, hidup bahagia dan sampai dengan saat ini pasangan ini memiliki 1 orang anak laki laki yang telah berusia 14 tahun. Kisah ini sempat menggemparkan Beijing. 

----

Dari kisah ini kita bisa belajar tentang dua hal penting: komunikasi dan asumsi. Betapa banyak orang menderita hidupnya hanya karena dua hal ini, salah asumsi dan salah komunikasi. Buang jauh-jauh asumsi, dan utamakan komunikasi. 

Komunikasikan keinginan, perasaan, pikiran kita dengan sebaik mungkin entah itu di rumah, di lingkungan kerja, di sekolah, di mana pun juga. Jika kita mampu memanfaatkan kekuatan komunikasi ini dengan baik, hidup kita akan terasa lebih mudah dan mungkin malah lebih baik.

CERITA CINTA - Mencintai dan Menerima Apa Adanya

Seorang pria dan kekasihnya menikah dan acaranya pernikahannya sungguh megah. Semua kawan-kawan dan keluarga mereka hadir menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut. Suatu acara yang luar biasa mengesankan. Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun putihnya dan pengantin pria dalam tuxedo hitam yang gagah. Setiap pasang mata yang me
mandang setuju mengatakan bahwa mereka sungguh-sungguh saling mencintai. Beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya. “Sayang, aku baru membaca sebuah artikel di majalah tentang bagaimana memperkuat tali pernikahan,” katanya sambil menyodorkan majalah tersebut.























Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari pasangan kita.
Kemudian, kita akan membahas bagaimana merubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan kita bersama lebih
bahagia…..”

Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal dari pasangannya yang tidak mereka sukai dan berjanji tidak akan tersinggung ketika pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik sebab hal tersebut untuk kebaikkan mereka bersama. Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing. Besok pagi ketika sarapan, mereka siap mendiskusikannya.

“Aku akan mulai duluan ya”, kata sang istri. Ia lalu mengeluarkan daftarnya. Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman… Ketika ia mulai membacakan satu persatu hal yang tidak dia sukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa airmata suaminya mulai mengalir….. “Maaf, apakah aku harus berhenti ?” tanyanya.
“Oh tidak, lanjutkan…” jawab suaminya.
Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang terdaftar, lalu kembali melipat kertasnya dengan manis diatas meja dan berkata dengan bahagia.

“Sekarang gantian ya, engkau yang membacakan daftarmu”. Dengan suara perlahan suaminya berkata
“Aku tidak mencatat sesuatupun di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna dan aku tidak ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang…. “.

Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta serta isi hati suaminya. Bahwa suaminya menerimanya apa adanya… Ia menunduk dan menangis…..

Siapapun kita, pasti kita ingin, orang yang kita cintai mau dan bisa menerima dan mencintai semua kekurangan2 kita dan mau dengan ikhlas, menerima kita apa adanya. Karena siapapun kita, kita adalah manusia biasa yang tidak sempurna dan pasti mempunyai kekurangan dan kelebihan di sisi lainnya.

Dalam menjalin hubungan, kita tak perlu berpura-pura dan menutupi kekurangan kita hanya karena takut tidak sempurna di hadapan orang yang kita cintai. Karena jika orang yang kita cintai mengetahui hal ini, tentunya ia akan kecewa. Bukanlah lebih baik kita selalu tampil apa adanya, karena itu tidak akan membebani kita ? Sungguh, jika seorang pria atau wanita yang kita cintai, benar-benar tulus mencintai kita, maka tentunya dia akan dapat menerima kita apa adanya, dan mau menerima serta mencintai semua kekurangan2 kita.

Penerimaan dari orang yang dicintai sangat berarti, dan akan membuat seseorang merasa dihargai dan diakui keberadaannya. Penerimaan itulah yang akan membuat kita mampu menunjukan ketrampilan/bakat/potensi/kekuatan yang ada di dalam hidup kita.

Seseorang bisa bahagia menjadi dirinya sendiri, bila orang yang dicintainya mau dan bisa dengan ikhlas mencintai semua kekurangan2nya dan menerima dirinya apa adanya. Dampak penerimaan memang sangat luar biasa, penerimaan mampu mengubah kehidupan seseorang, penerimaan bisa membuat orang bangkit kembali dan melanjutkan hidup dengan lebih baik dari sebelumnya.

Penerimaan membuat orang menjadi kuat dalam menjalani hidup yang berat sekalipun. Penerimaan keadaan diri kita apa adanya dan mengetahui bahwa orang yang kita cintai mau dan bisa menerima serta mencintai semua kekuarangan2 kita, adalah kebahagiaan terbesar dalam cinta, percayalah…

Ikhlas.Ada orang yang pernah mengatakan,”Aku tidak tahu mengapa aku tetap mencintainya, meskipun dia telah membuat hal-hal yang tidak aku sukai.” Bisa jadi, orang itu telah mencintai orang yang dicintainya apa adanya, tidak pakai syarat dan alasan. Lalu bagaimana agar kita mampu mencintai seseorang apa adanya? Kunci pertama adalah ikhlas dan tulus, artinya kita benar-benar mencintai orang yang kita cintai tanpa syarat atau alasan. Percuma mencintai jika tidak ikhlas, karena akan membuat hati kita masih merasakan sesak. Ikhlas itu kunci untuk menjadikan hati kita seluas samudera, bukan selebar daun kelor.

Sabar. Mungkin, ada kalanya orang yang kita cintai, bersikap yang tidak sesuai dengan keinginan dan kemauan kita sehingga membuat kita kesal, maka disini diperlukan kesabaran, agar kita bisa memakluminya. Mungkin orang yang kita cintai itu belum mengerti jalan pikiran kita atau belum mengetahui apa yang kita mau dan apa yang kita tidak suka. Positive thinking dan persepsi yang baik-baik saja, karena tidak ada gunanya kalau pikiran dan hati kita berprasangka buruk

Bersyukur, Mencintai adalah karunia terbesar dari Allah. Mumpung rasa cinta dan kasih sayang belum dicabut oleh Allah dari hati kita, yuk.. kita bersyukur. Bersyukur karena telah mencintai orang yang yang kita sayangi, bersyukur atas pemberian rasa cinta dan kasih sayang dari-Nya, bersyukur karena hati kita tidak mati untuk mencintai. 

Sahabat2ku, rasa cinta dan kasih sayang yang hadir di dalam hati kita sesungguhnya berasal dari Allah, Yang Maha Kasih, Maha Penyayang, maka hal tsb lah yang harus menjadi landasan, atau dasar kita mencintai orang-orang yang kita cintai. Bukan karena wajahnya, bukan karena materinya, bukan karena sifatnya, tapi karena Allah.

Kenali Kekurangan Yang Ada Pada Diri Sendiri. Bukan hanya orang yang kita cintai yang memiliki kekurangan tetapi diri sendiri pun memiliki kekurangan. Oleh karena itu sebelum menilai kekurangan orang lain, lihatlah kekurangan yang ada pada diri sendiri. 

Jika sudah mengetahui kekurangan diri sendiri, terimalah kekurangan itu. Dan jika sudah dapat menerima kekurangan diri sendiri maka dapat menerima kekurangan orang lain termasuk kekurangan pasangan.

Lihatlah Kelebihannya, karena orang yang benar2 mencintai tidak akan melihat dan mempermasalahkan kekurangan oarnag yang dicintainya. Jangan melihat kekurangan yang dimiliki orang yang kita cintai, tetapi lihat lah kelebihan yang dimilikinya dan jika sudah mulai ingat kekurangannya, coba ingat kelebihan yang dimilikinya.

Menerima Apa Adanya. Tumbuhkan rasa cinta setiap hari dan biarkan bersemi. Jika cinta semakin tumbuh, maka kekurangan yang dimiliki pasangan pun akan diterima dengan sendirinya. Karena cinta yang tulus adalah menerima apa adanya semua kekurangan2 orang yang kita cintai. Cintailah semua kekurangan2 orang yang kita cintai secara utuh apa adanya. Sungguh, tiada yang lebih membahagiakan seorang wanita, bila pria yang dicintainya, mau dan bisa mencintai semua kekuarangan2nya dan menerimanya secara utuh apa adanya.

CERITA CINTA - Pria Thailand Menikahin Mayat Kekasihnya

Pernikahan Chadil Deffy dengan kekasihnya pekan lalu menjadi buah bibir di Thailand. Tak heran, sebab pernikahan mereka tak lazim, upacara pernikahan dilanjutkan dengan sebuah upacara pemakaman mempelai wanitanya.





















Deffy, juga dikenal sebagai Deff Yingyuen, menikahi kekasih yang telah bersamanya selama 10 tahun, Sarinya "Anne" Kamsook, dalam sebuah upacara di
kuil Amphur Muang di provinsi Surin, Thailand.

Pasangan ini sebenarnya telah merencanakan pernikahan mereka sejak lama. Namun keinginan itu tertunda karena Yingyuen ingin fokus pada studinya sebelum mengucap ikrar pernikahan. Mereka bertemu saat kuliah di Universitas Eastern Asia dan saling jatuh cinta.

Sayangnya, sebelum keduanya sempat menentukan tanggal pernikahan.
Kamsook meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil pada 2 Januari 2012.
Seperti dikutip dari Huffington Post, video dan upacara pernikahan tak biasa ini diunggah di laman Youtube dan Facebook. Seperti layaknya sebuah pernikahan, pengantin wanita mengenakan gaun pengantin berwarna putih dan pengantin pria mengenakan jas lengkap.

Termasuk di dalamnya pengantin pria menyematkan cincin pernikahan di jari manis pengantin wanita. Namun, usai upacara pernikahan, acara dilanjutkan dengan upacara pemakaman mempelai wanita.

Di dalam akun Facebook-nya, Deffy menulis walaupun pernikahannya seperti sebuah kisah cinta yang indah, namun dia menganggapnya sebagai sesuatu yang telah terlambat. "Di mata kalian mungkin ini adalah sebuah kisah cinta yang indah, namun bagi kami ini adalah sebuah penyesalan dan kami tidak bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaikinya. Ingatlah, hidup itu singkat." katanya.


Kisah cinta T.T

Reo dan July adalah sepasang kekasih yang serasi walaupun keduanya berasal dari keluarga yang jauh berbeda latar belakangnya. Keluarga July berasal dari keluarga kaya raya dan serba berkecukupan, sedangkan keluarga Reo hanyalah keluarga seorang petani miskin yang menggantungkan kehidupannya pada tanah sewaan.
Dalam kehidupan mereka berdua, Reo sangat mencintai July.

Reo telah melipat 1000 buah bur
ung kertas untuk July dan July kemudian menggantungkan burung-burung kertas tersebut pada kamarnya. Dalam tiap burung kertas tersebut Reo telah menuliskan harapannya kepada July. Banyak sekali harapan yang telah Reo ungkapkan kepada July. Semoga kita selalu saling mengasihi satu sama lain”,”Semoga Tuhan melindungi July dari bahaya”,”Semoga kita mendapatkan kehidupan yang bahagia”,dsb.

Semua harapan itu telah disimbolkan dalam burung kertas yang diberikan kepada July.
Suatu hari Reo melipat burung kertasnya yang ke 1001. Burung itu dilipat dengan kertas transparan sehingga kelihatan sangat berbeda dengan burung-burung kertas yang lain. Ketika memberikan burung kertas ini, Reo berkata kepada July: “ July, ini burung kertasku yang ke 1001.

Dalam burung kertas ini aku mengharapkan adanya kejujuran dan keterbukaan antara aku dan kamu. Aku akan segera melamarmu dan kita akan segera menikah. Semoga kita dapat mencintai sampai kita menjadi kakek nenek dan sampai Tuhan memanggil kita berdua ! “

Saat mendengar Reo berkata demikian, menangislah July. Ia berkata kepada Reo : “Reo, senang sekali aku mendengar semua itu, tetapi aku sekarang telah memutuskan untuk tidak menikah denganmu karena aku butuh uang dan kekayaan seperti kata orang tuaku!” Saat mendengar itu Reo pun bak disambar geledek. Ia kemudian mulai marah kepada July. Ia mengatai July matre, orang tak berperasaan, kejam, dan sebagainya. Akhirnya Reo meninggalkan July menangis seorang diri.
Reo mulai terbakar semangatnya. Ia pun bertekad dalam dirinya bahwa ia harus sukses dan hidup berhasil.

Sikap July dijadikannya cambuk untuk maju dan maju. Dalam Sebulan usaha Reo menunjukkan hasilnya. Ia diangkat menjadi kepala cabang di mana ia bekerja dan dalam setahun ia telah diangkat menjadi manajer sebuah perusahaan yang bonafide dan tak lama kemudian ia mempunyai 50% saham dari perusahaan itu. Sekarang tak seorangpun tak kenal Reo, ia adalah bintang kesuksesan.

Suatu hari Reo pun berkeliling kota dengan mobil barunya. Tiba-tiba dilihatnya sepasang suami-istri tua tengah berjalan di dalam derasnya hujan. Suami istri itu kelihatan lusuh dan tidak terawat. Reo pun penasaran dan mendekati suami istri itu dengan mobilnya dan ia mendapati bahwa suami istri itu adalah orang tua July. Reo mulai berpikir untuk memberi pelajaran kepada kedua orang itu, tetapi hati nuraninya melarangnya sangat kuat. Reo membatalkan niatnya dan ia membuntuti kemana perginya orang tua July.

Reo sangat terkejut ketika didapati orang tua July memasuki sebuah makam yang dipenuhi dengan burung kertas. Ia pun semakin terkejut ketika ia mendapati foto July dalam makam itu. Reo pun bergegas turun dari mobilnya dan berlari ke arah makam July untuk menemui orang tua July.
Orang tua July pun berkata kepada Reo :”Reo, sekarang kami jatuh miskin. Harta kami habis untuk biaya pengobatan July yang terkena kanker rahim ganas. July menitipkan sebuah surat kepada kami untuk diberikan kepadamu jika kami bertemu denganmu.” Orang tua July menyerahkan sepucuk surat kumal kepada Reo.
Reo membaca surat itu. “Reo, maafkan aku.

Aku terpaksa membohongimu. Aku terkena kanker rahim ganas yang tak mungkin disembuhkan. Aku tak mungkin mengatakan hal ini saat itu, karena jika itu aku lakukan, aku akan membuatmu jatuh dalam kehidupan sentimentil yang penuh keputusasaan yang akan membawa hidupmu pada kehancuran. Aku tahu semua tabiatmu Reo, karena itu aku lakukan ini. Aku mencintaimu
Reo…………………………..

July “ Setelah membaca surat itu, menangislah Reo. Ia telah berprasangka terhadap July begitu kejamnya. Ia pun mulai merasakan betapa hati July teriris-iris ketika ia mencemoohnya, mengatainya matre, kejam dan tak berperasaan. Ia merasakan betapa July kesepian seorang diri dalam kesakitannya hingga maut menjemputnya, betapa July mengharapkan kehadirannya di saat-saat penuh penderitaan itu.

Tetapi ia lebih memilih untuk menganggap July sebagai orang matre tak berperasan. July telah berkorban untuknya agar ia tidak jatuh dalam keputusasaan dan kehancuran.
Cinta bukanlah sebuah pelukan atau ciuman tetapi cinta adalah pengorbanan untuk orang yang sangat berarti bagi kita.