Dua orang teman dekat. Wanita serta lelaki sama-sama menyayangi. Mereka berdua banyak perbedaan, tetapi mereka lah yang dapat menutupi perbedaan itu keduanya. Barangkali kepercayaan mereka membisikan napas-napas cinta persahabatan. Yang bikin ke-2 senyuman indah mereka berpadu jadi satu hubungan kasih sayang, tetapi tidak gantinya seperti dua persahabatan. Dua hati diantara mereka sama-sama tahu, mengerti serta mengajarkan kasih sayang dengan lembut. Lidia serta Kevin.
Bersua di satu surau pas waktu tanggal 25 Desember 2003. Waktu perayaan hari Natal untuk umat beragama kristen, tidak kecuali Kevin serta beberapa sahabatnya nikmati kepercayaan serta perayaan yang indah hari itu, sejuk sesejuk jiwa yang bermetamorfosa dengan indahnya bunga melati atau yang lain di seputar surau dekat gerejanya. Dari waktu itu terjalin ikatan persahabatan pada Lidia serta Kevin. Mereka mulai bermain berbarengan, bersepeda, juga bila satu tetesan tampak diantara satu teman dekat, bakal ada yang melengkapi dengan senyum.
Senyum seseorang teman dekat yang sejati, yang tidak sempat capek mengajarkan kebaikan serta ketabahan hati waktu seluruhnya orang menjauhi walau diri sahabatnya itu salah sekalipun. senantiasa berbarengan. Tidak heran apabila mereka di katakan seperti orang berpacaran.. iya lebih pas bila sepasang saudara, maklumlah kebersamaan itu dari mereka berusia 6 th., telah 9 th. saat ini. Senantiasa sama, senantiasa berlangsung kenangan-kenangan sederhaana canda tawa atau permainan layangan yang dahulu mereka mainkan.
“Li ingat saat kecil kita bermain seperti ini? ”
“jangan ngaco Kev bila ngomong, kaya baru saja kita sahabatan haha”
Waktu ini Lidia mendidik otak nya, mengasah dianya di SMP 3 Kenanga Raya, sedang Kevin bersekolah di SMP Citra Raya. Walau kebiasaan serta kepercayaan yang tidak sama, mereka senantiasa meyakini bila salah seseorang dari mereka mustahil meninggalkan persahabatan meskipun tak ada persamaan kebiasaan. Merekalah yang bakal mengemukakan lentera persahabatan yang sejati, hingga mereka rasakan begitu mulianya cerita mereka dengan perbedaan yang kekal.
Satu hari, mereka janji pulang sekolah berbarengan. Kevin menanti Lidia di depan sekolah, gagasannya mereka ingin pergi ke kantin sebatas minum air fanta. Di situ nyatanya Lidia bersua dengan rekan-temannya, lalu dia berhimpun serta mengajak
Kevin berteman. Lidia memanglah agak tomboy, seperti tak terkesan untuk seseorang wanita, keindahan badannya saja tampak, itu juga teramat sayang untuk Tuhannya yang lihat. sikap nya saja waktu tengah minum saat itu kurang sopan. Celana dalam Lidia tampak serta Kevin sempat juga melihatnya sepintas. Dengan perasaan geli, Kevin berdehem serta berkata
“em… siapa ya yang celana dalamnya keliatan, warna merah lagi.. wow… hehehehe”. Spontan saja Lidia kaget serta mengerti bahwasanya dianya yang disebut Kevin. Lidia menyeret Kevin keluar kantin sekolah serta berkata
“Kamu nih apa-apaan sih vin! tidak tau perasaan orang banget! gue tuh malu! ”.
“Maaf Lidia sayang, saya kan bercanda, lagian anda juga tidak tau sopan santun banget! Cewek harusnya feminim dikit mengapa, keindahan anda bukan hanya diliat dari cantiknya anda berdandan atau langkah kenakan pakaian yang tidak nutup aurat. Bunda anda sendiri kan sempat katakan itu, saya saja tidak lupa? ”.
Lidia sedikit tahu apa yang Kevin maksud, dia terdiam, terlintas dipikirannya merangkum sebagian kata yang agung didengarnya.
“makna yang anda katakan bakal saya hiraukan kok, saya telah salah. Maaf ya sayang? kita pulang yuk! ” sembari menggandeng tangan Kevin.
“Li nanti gue main ke rumah lo bisa? Tante ingin mbikin kue tuturnya? ”
“Iya main saja. Saya ngerasa sepi bila anda pergi”
Sungguh tatapan Kevin sesudah Lidia menyampaikan itu jadi tidak sama.
Sore harinya, Kevin mengajak Llidia untuk bersantai di taman dekat rumah sembari makan kue.
“Vin? ”
“hem? ”
“gitu sangat, ngliat saya kek bila lagi ngomong, saya kan tidak sukai dicuekin sama kamu”
“hem”
“gak sensitif! ”
Sebagian menit Lidia mendiamkan sahabatnya itu, perutnya jadi geli dari belakang, Kevin pasti berniat nih, pikirnya. Lidia bangkit lalu lari mengkuti alur bumi memutar taman serta Kevin mengubernya. Sungguh itu mengingatkan peri kecil yang dahulu sama-sama bercanda tawa dengan pangerannya. Enam th. yang lalu.
Sesudah agak lama bermain kejar-kejaran, Kevin mengajak Lidia bercakap di taman itu.
“Li? Lo diem saja? Saya baru saja salah? ”.
“Cape doang, cubitan anda keras banget tadi, sakit Vin”
“Iya, kok anda pakai pakaian seperti gitu sih?
Tidak umumnya mamerin aurat. Anda lebih indah berjilbab. Saya mengingatkan anda dalam kebaikan, itu panduan Tuhan mu kan? Anda lupa lagi kata bunda? ”. Kata Kevin memandang mata teman dekat kecilnya.
“Eh em cuacanya panas banget”
“Sepanas apa pun juga saya akan buat anda nyaman, namun anda janganlah gini lagi ya? Janji? ”
Ya Tuhan, ini belaian Kevin? Janganlah putuskan cinta persaudaraan kita, saya tidak mau telapak tangan yang kekar ini berhenti membelai serta memelukku dengan lembut. Biarlah tiap-tiap jengkalnya selalu tawarkan keindahan.
Hari selalu berlanjut, lentera mentari siang itu barangkali agak membakar keluhan beberapa orang yang merasakannya. Hingga mereka cuma bersantai menanti senja menampakan diri untuk beradu dengan muka sang malam.
Saat memberikan jam 01. 00 siang. Lidia terasa benar-benar pusing, dia tak dapat menemani Kevin les basket ditempat Pak Dian. Jadi dia menjumpai Kevin di sekolah untuk ijin pulang dahulu. Saat tengah bercakap sebentar dengan Kevin, tiba-tiba ada tetesan darah dari hidung Lidia.
“Iya Vin jadi saya ke sini mau…”
“Memperlihatkan tetasan darah itu keluar dari hidung mungil anda? ” Kevin terasa dibohongi. Dia cemas, dia kaget, dia terasa dinomer duakan perihal keyakinan Lidia kepadanya.
Lidia telah cemas, jangan-jangan penyakit nakal ini bakal menunjukkan kebesarannya mengganggu kehidupanku di depan sahabatku sendiri. Sesaat mengamati, Kevin bersihkan darah yang selalu jadi tambah banyak dari hidungku, jadi benar-benar lembut sentuhan kapasnya.
“mengapa Lidia tak sempat bercerita perihal penyakitnya. Kenapa dia tega merahasiakan ini pada sahabtnya sendiri” Itu pembicaraan Kevin dengan mata hatinya.
Jadi apa yang anda sembunyikan dariku? ”
“Hanya pusing”
“Pusing pikirkanku? Maka dari itu anda tidak sempat narasi sama saya? ”
“Enggak namun saya tidak ayah, bener Vin”
Lidia menyembunyikannya di pelukan Kevin. Dia tidak mau Kevin menghancurkan rahasianya. Dia tidak mau bicara waktu itu. Dia cuma mau nikmati saat-saat indah dengan sahabatnya.
Sejak Kevin tahu penyakit Lidia dari Bunda, Kevin tidak sempat lagi mengajak Lidia bermain seperti dahulu. Dia takut berlangsung apa-apa bila Lidia selalu kecapaian serta penyakitnya kumat lagi. Menembus kebahagiaan Lidia. Saat ini Kevin juga mesti konsentrasi pada pacar barunya. Lewat.
Nyaris tiap-tiap hari Kevin senantiasa berbarengan Lewat, tak tahu itu pulang sekolah, makan bareng, belajar hingga ke gereja juga mereka senantiasa bersma. Sempat Lidia lihat sahabatnya itu berbarengan dengan Lewat saat dia akan pergi ke masjid, tak tahu kenapa perasaan Lidia benar-benar sakit, perasaan ini tidak berbunga, tak juga benuansa melati yang setiap waktu Kevin berikanlah padanya. Terasa Lidia seperti menunggu keajaiban apabila dia mesti meninggalkan kedamaian kota serta kegundahan hatinya.
Lidia cemburu. Ya bagaimana dengan cerita manis serta semua rasa sedih yang mereka lalui sepanjang 15 th. mesti terpisah cuma lantaran setetes darah untuk buktinya? Lidia menganggp bahwasanya Kevin sudah melupakannya serta lantaran Kevin telah tau penyakitnya, Lidia terasa sahabatnya itu jijik untuk dekat dengannya. Lidia senantiasa mengurung diri dirumah. Dia senantiasa menangis. Namun didalam lubuk hatinya, dia bakal terus berlaku seperti dahulu, waktu kanker itu belum menyerang otaknya.
Satu hari, Lidia berkemauan menjumpai Kevin waktu pengumuman lulusan di umumkan. Dia mau lihat kilasan senyum yang menawan, yang bikin pandangan matanya cuma tertuju pada senyuman itu. Atau belaian lembut yang dia nantikan 2 th. ini. Dia lihat Kevin tengah mencari-cari namanya di urutan lulus atau tak. Waktu itu Kevin tengah berbarengan Lewat. Dari belakang, Lidia menepuk pundak Kevin.
“Dooorrr! lagi ngapain kalian berdua? ”, bertanya Lidia dengan senyum terpaksa.
“eh Lidia, ngagetin saja,! basic anak kecil ya… tidak tau orang lagi bingung cari nama” dia meneruskan, lihat wanita yang ada di sebelahnya. Dirangkulnya dia, lalu,
“oh ya Vi ini teman dekat ku dari kecil, Lidia”
“Hay, seneng dapat kenal kamu”
“Iya keduanya sama, Vin saya nyariin anda, saya berupaya ingin deket anda selalu, namun terasa tidak dapat. Anda kaya sunyi banget untuk aku? ” Lidia tiba-tiba mengumbarkan seluruhnya gejolak yang selalu menekannya.
Kevin bingung apa yang perlu dia kerjakan. Dia mesti pertahankan siapa, sahabatnya atau satu gadis yang mengganggu persahabatannya dengan Lidia. Gadis yang sesungguhnya benar-benar licik itu.
“Lidia denger! anda itu terlampau muda serta terlampau resah buat cari kesunyianku, saya telah mempunyai cewek serta anda tetap saja perduliin saya? Saya tidak akan dapat balik sama saya, saya mohon pengertiannya. Hapuskan saya dari bayangan-bayanganmu tiap-tiap hari juga hapus saya dari hidupmu”
Aku benar-benar.. ” Lidia tidak dapat meneruskannya lantaran terpotong.
“Tolong pergi, saat ini Lidia, bukan hanya satu detik lagi atau berjam-jam anda berdiri disini” bentak Kevin.
“Ketika Tuhan berikan satu kebahagiaan untukku, maka saya menentukan berikan kebahagiaan itu untukmu Vin”
“Plis pergi.. ”
Lidia terasa tertekan waktu itu, dia menahan air mata, tetapi dia tetap dapat menggerakkan matanya tiada setetes air mata. Cuma tersenyum. “Aku pulang dahulu ya, tadi hanya simak selalu mampir” kata Lidia.
Kevin pernah mau menguber peri kecilnya itu, dia terasa salah berkata yang tidak utama dia katakan pada sahabatnya. Namun dia ingat disitu juga ada Lewat. Gadis berdasar teguh pada pelukan Kevin supaya Kevin tidak dapat lari mengerjar Lidia. Dia mengambil keputusan tidak untuk mengubernya, barangkali Lidia terasa kurang di perhatikan.
Namun, untuk Kevin itu seluruhnya cuma masa lalu. Dia mau kembali menjumpai saat lalunya, meneruskannya dengan akhir yang bahagia. Terasa susah, di sebelahnya berdiri gadis yang bakal jadi permaisuri di hatinya. Barangkali. Atau sebatas pura-pura.
1 minggu berlalu, Kevin serta Lidia tak sempat terkait lagi. Hingga waktunya tiba, Kevin datang ke rumah Lidia serta lihat Lidia terbaring lemas di kamar. Lidia meneteskan air mata waktu Kevin jalan menuju tempat tidurnya.
Dia berupaya bangkit dari ketidakmampuannya berdiri menyongsong pangeran terindah yang dahulu dia punyai.
“Berikan keringanan kepadaku yang serba kekurangan ini Ya Allah untuk rasakan kebahagiaan dalam kesederhanaanku, bila cinta itu indah tolong labuhkan hati ini pada lelaki itu” Lidia berangan sebagian waktu.
Sayang, saya mohon maaf untuk semua kesalahanku, anda teman dekat terindah yang tidak dapat saya lupain gitu saja. sini sandarkan tubuh anda di badan saya, inget ya, saya yang akan menyokong badan anda saat anda kehilangan seluruhnya tenagamu.
Saya yang berupaya ada di belakang jejak langkah kesedihanmu, hanya saya yang mau ngebahagiain anda namun saya ingin katakan sesuatu…”
“Iya itu sebatas kalimat anda, pada kenyataan anda tidak sempat ada buat ngehibur saya kan cocok saya sakit kaya gini? saat ini saya ngerasa apa yang saya mempunyai itu balik lagi terhitung semangatku.
Lidia, saya rindu sama anda, saya mau anda senantiasa ada untuk aku, jadi teman dekat saya selama-lamanya, sepenuhnya, saya ingin yakini satu rasa yang tidak bakal sempat beralih dari diri kamu bikin saya, namun saya mesti pergi. Bapak menyuruhku geser ke Malaysia. Saya mesti sekolah di sana.
Lantaran bapak tidak dapat meninggalakan pekerjaannya, saya cuma mau kamu paham.kamu mengerti, bahwasanya saya bakal ada di tiap-tiap senyum serta tangisanmu, saya tidak bakal pergi, saya senantiasa di hatimu, walau beberapa ribu atau juga milyaran kilo jejakmu terpisah denganku, jalinan kita jangan sempat putus ya?, anda janji akan hubungi saya, sayang ya sama kesehatanmu? Seperti anda sayang sama aku” kata Kevin dengan suara sedih.
Aku juga minta bila saya pergi, anda tidak bisa nangis… saya senantiasa ada di mimpi-mimpi kamu bikin anda senyum seperti dahulu lagi.. ”, jawab Lidia dengan pelan.
“Pergi kemana? Kesini? Di hati saya? ”
“Enggak, kan Tuhan sayang sama kita, bila Tuhan ingin minta ditemenin sama saya kan saya mesti
pergi? ”
“Loh mengapa ngaco gitu ngomongnya? ”
“Bapa anda sempat katakan kan bila dia sayang sama anak-anaknya, dia mengistimewakan kita, mengistimewakan anda juga, itu bergantung saat, bila kita bisa milih juga kita maunya tetep kaya dahulu lagi kan”
Lidia, saya sayang sama anda, anda besok anter saya ke bandara ya? Yang ingin saya simak paling akhir itu anda sama senyuman indah anda.
Gejolak rasaku kelihatannya mulai berkembang tidak sama jauh dengan sebagian minggu pada mulanya. Ini terasa berat, satu elektron menancap kuat di dadaku, berputar-putar menentukan pada senyuman paling akhir buat dia atau terus tidur untuk kesehatannya.
“Bagaimana dengan Lewat? ”
“Aku hanya simak hari esok Li, bukan hanya saat lalu, hari esok sama anda nantinya”
“Jadi anda? ”
“Udah putus sama Via”
Lega. Cuma itu satu rasa yang saya paparkan di samping rasa sedih yang bergejolak benar-benar kuat.
Besok harinya di bandara. Paling akhir kali sebelum saat mereka berpisah, Lidia pernah bepesan, cuma sebagian kalimat serta itu bakal senantiasa Kevin taruh di hatinya
“Kevin, anda sahabatku, saya sayang banget sama anda.
Umpamanya saya jadi pergi, lebih jauh dari anda, anda janji mesti senantiasa inget masa lalu kita sampai kini, anda tidak bisa sedih, anda tidak bisa lupain saya. Saya akan simak anda di sana, dari mata hati saya walau saya hanya teman dekat yang senantiasa nyusahin anda, buang-buang uang anda, kerap emosian dikarenakan saya tertekan sama penyakit saya, saya mohon maaf? ”.
Enggak Lidia, itu salah. bila saya mikir kaya gitu, tidak barangkali saya ingin sahabatan sama anda sampai kini, anda itu peri kecil yang Tuhan kasih untuk aku. Anda itu anugerah, saya sayang anda kok. Telah ini air matanya janganlah sempat dikeluarin lagi ya? Anda cantik bila senyum. Anda teman dekat paling cantik yang sempat saya kenal”
Sesaat mereka bertatap muka. Mencermati raut muka yang telah bertukar, barangkali telah makin dewasa, angan yang tidak sempat mereka lupa, cerita jenaka serta suka ria mereka.
Walaupun juga ke-2 planet cinta itu berjarak jauh, tiap-tiap hari mereka senantiasa terkait melalui e-mail. Kevin senantiasa kirim dukungan untuk Lidia disaat pada saat Lidia tetap dapat nikmati indah dunia. Penyakit kanker yang menyerang otak Lidia tidak selama-lamanya bertahan.
Makin hari Tuhan berikan tandanya untuk Lidia. Tuhan kasihan melihatnya kesakitan. Bunda berupaya mencari dokter serta dimanapun dokter itu ada, namun mereka seluruhnya berputus harapan. Lidia terima kenyataan ini apabila dia mesti selesai, tiada sosok Kevin disaat paling akhir dia hidup. Dia cuma mengharapkan Kevin senantiasa datang ke dalam mimpi indahnya, malam itu di suatu rumah sakit Pelita, Jakarta Utara. Untuk seluruhnya cerita yang sampai kini dia kenang dalam memory kecilnya. Serta semangat yang tidak sempat redup lantaran sahabatnya, teman dekat yang benar-benar mulia.
1 Juli 2012. Waktu pertama kali masuk SMA, sekolah yang diidamkan seluruhnya siswa didunia sesudah lulus SMP serta disitulah detik paling akhir sebelum saat Lidia pergi, dia pernah buka e-mail terkhirnya yang barangkali keesokan hari dia tak bisa membukanya. Dia terhenyak serta mengalirkan demikian deras air matanya lantaran yang dibacanya ini..
From : kevinsaputra@gmail. co. id
To : lidiayuda@gmail. com
Hal : Arti Di hatiku
Lidia, saya tahu perihal perasaanmu saat anda bersua saya waktu saya tengah berbarengan pacarku, lewat. Saya tahu dari sorot matamu bila kau rindu kasih sayangku. Saya telah lama banget mendam perasaan ke anda. Saya sayang banget sama anda, barangkali saya mencintaimu. Saya sadar dunia kita memanglah tidak sama. Saya melampiaskan cintaku ke lewat agar saya dapat lupain anda, namun saya tidak dapat. saya rindu bakal senyumanmu, keceriaanmu saat bareng sama saya. anda mesti ada bila kelak kau kembali ke Jakarta…
saya meyakini anda dapat pulih walau saya Hanya dapat dukungan anda dari sini.. saya takut bila dari dahulu saya katakan perihal perasaanku ke anda, itu Hanya ngerusak persahabtan kita. Saya tidak ingin kehilangan anda Lidia.. anda mesti dapat, buat aku, saya tau anda juga cinta sama saya. Cinta kita cuma terhambat perbedaan kepercayaan. Serta itu penyebab mengapa saya tak memberitahuimu dari dahulu. Salam Kevin.
Tangan lidia bergetar waktu akan membelas kiriman Kevin. Darah dari hidungnya selalu keluar, tetapi dia mesti dapat menulis suatu hal. Tak tahu apakah itu, namun mesti.
From : lidiayuda@gmail. com
To : kevinsaputra@gmail. co. id
Hal : Arti Cintaku
Saya tidak tahu saya mesti ngomong apa. Saya cinta sama anda Vin… saya tahu kecocokan jiwaku telah ada untuk kamu dari dahulu, itu barangkali bakal kekal dalam hitungan th. era atau sesudah saya pergi kelak. Meskipun tidak sama cintaku sepenuh hati.
Cinta ini yang mengatur air mataku jadi rasa yang kekal buat kamwebf. Maaf akuffj sulit menulis katwe-kata ini. Saya capek dengan jemari ini. Cuma untuk bersamamu, saya ikhlas menerobos rasa sakit yang semakin djkeno. misal saat dapat terulang, sekurang-kurangnya saya tetap dapat mengungkap perasaanku segera tiada darah di hidungku yang semakin m…
Belum pernah lidia kirim balasannya ke Kevin, dia jatuh. Tertidur pulas. Untuk selama-lamanya. Untuk menjumpai sang Khaliq, menemani Tuhan di sana. Tetapi tuhan mempunyai gagasan lain. Tuhan sayang dengan Lidia, dia mau Lidia kembali kepada-Nya.
“Bunda tau nak, anda dapat setegar ini lantaran Kevin, bunda ikhlas nak, bunda sayang sama anak bunda. Bunda tidak mau anda sedih lantaran simak bunda nangis seperti gini. Anda yang bahagia ya nak di sana, kelak Lidia ada bila bunda lagi tidur, Lidia narasi ya sama bunda bila di sana tempatnya nyaman buat anak Bunda ini
Saat ini lidia sudah dapat tegar, bukan hanya tegar, dia tak akan sempat rasakan sakit apa pun. Tuhan sudah memepersiapkan takdirnya untuk kita. Lidia anak yang kuat. Dia senantiasa tersenyum walau fisik serta hatinya benar-benar terluka.
Bu Eva lihat e-mail yang belum terkirim, selekasnya dia kirimkan pada Kevin. Bu Eva juga menghubungi Kevin bila Lidia telah pergi. Telah menjumpai Kuasa-Nya. Cinta mereka tak akan menyatu. Kevin pulang ke Jakarta waktu Lidia barusan dikuburkan.
Dia cuma dapat berikan senyuman pada bunga-bunga melati serta tanah yang saat ini menutupi sosok tegar yang dia cintai semua kekurangannya. Dia berjanji, satu waktu kelak.. Dia bakal menyongsong cintanya, didunia yang lain. hal yg tidak beralih itu indah, namun hal yang indah pasti beralih. Dia ingat kalimat itu sebelum saat Lidia meninggalkannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar