unitedbet88

Tampilkan postingan dengan label cinta sedih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta sedih. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Maret 2017

CERITA CINTA - Saya Bermimpi Lagi Saat Tidur

Saya bermimpi lagi saat aku tertidur lagi malam ini. Saya diundang untuk bergabung pergi ke pesta dengan semua teman-teman saya tercinta. Saya sangat senang karena saya bisa bertemu dengan teman-teman lama saya saat sekolah bisa berjumpa di sana. Dalam perjalanan,saat itu aku sudah bahagia tapi entah kenapa, kemudian, ketika aku uda ada di sana, semuanya tidak serta seperti apa yang saya bayangkan sebelum berangkat. Saya memaksa diri untuk tertawa dengan berpura-pura tersenyum. Ada penuh dengan keadaan dinding hati dari kecurangan ini.


















Kemudian ketika semua telah sama tua lelah, aku sedikit menggeser mata saya dan saya menemukan ada nya kekosongan cinta. Aku tidak bisa menikmati segala sesuatu yang ada akan tetapi dia. Apa yang telah saya rasakan sebelumnya, itu menghilang ketika aku sudah bisa melihat wajah nya. Semua bisa saya lihat adalah bahwa itu mempesona sekali untuk menemuinya. Itu hanya seperti matanya ada berbisik "telah kita bisa bertemu kembali?". Ohh Tuhan! sillhouette nya melintasi di ruangan hatiku, dan mulai membuat jalan bagi saya, maka saya mendirikan di tempat yang sepi.

"Hai, saya giring,namamu  siapa ?"
"Oh, nama saya Alon. Senang bertemu denganmu"
"Apa nama besar. saya Senang juga bisa bertemu kamu juga, taylor "

Hanya ada kami berdua saja saat itu, maka percakapan lucu akan dimulai. Saya melawan semua komentar cepat nya seperti lewat catatan dalam kerahasiaan. Haha, apa percakapan besar. Bisa saya katakan adalah saya terpesona untuk menemuinya. malam ini berkilau dan saya tidak membiarkannya pergi. Pada jam 01:00 satu pertanyaan permainan terus saya, "yang Anda cintai?" Aku bertanya-tanya sampai aku terjaga.



Aku tercengang dengan memerah sepanjang perjalanan pulang. Dia membuat saya gila cinta. Wajahnya berlari di pikiran saya dan saya tidak bisa membuangnya keluar. Ini adalah apa yang kita disebut sebagai cinta, bukan? Aku tahu aku mondar-mandir. Dalam hidup saya, ia adalah anak laki-laki terbaik yang pernah saya temui. pikiran saya akan menggema namanya sampai aku melihatnya lagi.

jam sudah pukul 02:00, aku berada di rumah saya sendiri. Aku sangat mengantuk lalu saya pergi ke tempat tidur untuk memiliki tidur. Sebelum saya menutup mata saya, saya ingin bertemu dia lagi, suatu hari nanti. "Tokk .. tok ... tok ..." Aku mendengar seseorang mengetuk pintu, yang membangunkan saya. Aku pergi ke pintu untuk membukanya. Dan kau tahu, aku tidak percaya itu, Dia adalah di pintu saya. Saya akan membuka.

"Hei" katanya.
Aku terjebak dan aku tidak bisa berbicara.
"Bolehkah saya masuk?" Tanya dia.
"Tentu saja, Anda mungkin"
Kami duduk di ottoman.
"Aku .." bisiknya perlahan mendekat ke telingaku "mencintaimu"


Apa itu? apa jenis kondisi yang saya hadapi? apakah dia mencintaiku juga? Apakah itu benar? Oh Tuhan, malam ini sempurna, kami menari di sekitar sendirian. Ini adalah saya berdoa bahwa ini adalah halaman pertama dari kisah cinta saya dan tidak di mana alur cerita berakhir.
"Tolong, jangan jatuh cinta dengan orang lain" ini adalah kata-kata saya menahan ketika aku pergi terlalu cepat "Silakan, tidak memiliki seseorang menunggu Anda".

"Kriiinnggg ... krriiinnggg ..." alarm saya berdering. Aku bangun dari tempat tidur, lalu aku mencuci wajahku. Aku sedang mencari giring dan saya menyadari saya hanya punya mimpi.

Jumat, 27 Januari 2017

CERITA CINTA - Karna Cinta Tidak Harus Kita Miliki

saat itu sudah mulai memasuki SMA  nindi memiliki kawan akrab,
akan tetapi sebagian seorang dari mereka tetap ada, iya bernama dina, lihat dari performa, jalan ke cafe sekolah, sampai persoalan cinta dina la seorang wanita terpercaya di sekolahnya,

setela lewat hampir satu bulan pada saat itu ada seorang yang kirim sms pendek sama nindi, minta tolong supaya bisa dekat sama dina, saat baca sms itu sampai berpikir dan bicara dalam hati “dia minta tolong biar bisa dekat sama dina tetapi saya tidak kenal sama dia, gimana pulak kayak gitu,?”



















sesudah sampai di sekolah nindi mengasitau tetang sms semalam, dan dian hanya jawab “ou dia, itu eko” wina langsung bisa memilakan soal kenapa dirinya kenal sama dirinya”kemungkinan dirinya terus online di dunia maya melihat dina dan kelihatan saya kawan terdekat dina” ucapannya,
banyak hal yang di usahakan oleh wina supaya kawanya senang, dan kemudian waktu dina dan eko pun pacaran saat sudah menjalanin hubungan sudah satu bulan lebih , mereka masih tetap pasangan yang sangat mesrah seperti remaja lainnya.
Setela sudah pulang sekolah wina pun pergi kerumah nindi, saat itu orang itu berdua sangat senang kali tapi tidak tau sampai sudah hampir malam, dina tidak lama permisi pulang dan dina di antar ole eko,(cowoknya).


Setiap pasangan tidak terus bahagia tetapi tetap ada permasalahan yang menanti, saat itu eko meminta tolong pada nindi sampai kerukunan eko dan dina pun balik lagi akan tetapi tetap saja mereka selalu ada bermasalah terus, dan terusan eko meminta pertolongan pada nindi yang sudah sering sekalidan selalu bertemu dan tidak di ketahui oleh dina, dikarnakan sering nindi dan eko kawan yang sangat akrab seperti sudah berkenalan lama sekali,
Dan kemungkinan eko merasa lelah dengan sifat dina yang selalu bikin sakit hatinya, tidak tau lagi mesti gimana lagi di lakuinnya agar dia tahu eko tidak main main sayang dengan dirinya, akan tetapi mereka akhirnya berpisah.

Nindi saat itu seperti merasa besalah karna dia tidak bisa buat mebuat dina saki hati, akan tetapi eko tidak ada mempersalahkan ini kepada nindi karna menyatuhkan mereka kemarin. Tetapi eko trimakasih sama nindi,

Dalam sisi lainya nindi ada pula menyimpan perasaan cinta kepada eko sampai telakhir di tidak ada lagi berkominikasi denga eko sudah hampi satu tahu lebih, nindi pun saatitu ada menerima sms pendek dari seorang yang dirinya tidak mengenalinya lagi dan rupnya itu adalah eko, yang suda cuku lama sekali tidak sms, saat sudah lama mengobrol eko membilakan ses uatu pada nindi bahwa drinya suka denga nindi.

Dan pada malam hari itu persaan nindi berdebar debar tidak seperti hari hari biasa, bawaan nindi serperti bingung “kenapa tidak dari dahulu dirinya katakan ini”




Dan tidak lama kemudian eko sms lagi untuk meminta maaf pada nindi “maaf sebenarnya aku tahu kamu cinta sama aku, dan aku juga cinta dengan kamu tetapi itu dulu”hati nindi pun terasa sakit sekali, tetapi nindi tersadar oleh dina kawan terdekatnya itu  “masak iya saya tetap terus terusan kayak gini”

Dan Semenjak itu la eko dan nindi menjadi berkawan seperti sebelumnya dan tak menyimpa benci dan dendam dalam hati karna mereka sadar karna cinta tidak selalu dapat kita miliki selamanya,

Rabu, 23 November 2016

CERITA CINTA - Kisah Cinta Mengharukan Cinta Sedih

Kadang hal yang diharapkan berbenturan dengan kenyataan. Orang menganggapnya sebagai takdir. Di sitiulah perasaan bermakna, salah satunya adalah cinta. Apa yang dialami Gita memang biasa, terjadi pada manusia umumnya. Tetapi ini menjadi luar biasa, ketika ia merasa bahwa simpatinya sebagaimana pungguk merindukan bulan.



































Sudah dua minggu ia memendam seribu rasa yang membuat jantungnya berdebar kencang saat melihat sang pujaan hatinya.

“Kita pilih duduk di sini aja. Ayo dong ceritain gebetan barumu,” tiba-tiba terdengan suara serak yang mengusik lamunan Gita.

“Iya... Ri, mumpung kita ngumpul nih,” jawab teman Qori. Gita

“Masak lo main rahasiaan sama geng sndiri,” tutur temannya lagi.

Gita mendadak gugup. Nggak salah lagi itu Qori. Qori dari geng The SRIES, cowok yang sangat dikagumi para cewek-cewek di sekolah.

Gita nyaris nggak bergerak. Mneyadari cowok tampan yang sedang ditaksirnya itu ada di meja belakangnya. Saat sedang barengan dengan teman-teman aja Gita sudah nervous .... apalagi sekarang ia sedang sendirian. Tapi untuk yang satu ini, rasa ingin tahunya jauh lebih besar. Dan apa tadi? Mereka lagi ngomong soal gebetannya Qori. Wah..... Wah....

“Jadi bener nih, dia tinggal di jalan Tumbuhan?” tanya teman Qori.

Deg, Gita nyaris tersentak. Bukankah itu jalan tempat ia tinggal? Jalan itukan kecil, jadi ia kenal hampir semua penghuninya. Kayaknya nggak ada yang seumuran dia, rata-rata sudah kuliah dan kerja. Rasa ingin tahunya semakin memuncak.

“Iya, anak kelas satu juga. aku memang naksir dia. Soalnya dia manis banget, pintar dan baik. Pasti dong banyak saingannya. Makanya aku jaga jarak biar dia penasaran,” suara Qori terdengar riang.

Jantung Gita berdegup kencang. Ia semakin yakin , selain dia ngak ada anak kelas satu SMA tinggal di jalan itu. Kalau masalah kecerdasan otak, Gita memang selalu jadi juara satu sejak cawu pertama. Semuanya klop. Mungkin yang dimaksud Qori itu dirinya?.

“Wah, playboy satu ini sudah berketuk lutut. Terus kapan dong kamu nembak dia?” desak temannya.

“Oh my god,” Gita nyaris menahan napas.

“Eh, ngomong-ngomong siapa namanya?” tanya temannya lagi.

“Gita,” jawab Qori.

Kali ini Gita nyaris nggak mampu menahan diri. Ingin rasanya ia melompat dan berteriak, kalau saja nggak ingat di mana dia berada sekarang. Ini benar-benar keajaiban. Qori naksir dia. Berita ini wajib diceritakan pada sohib-sohibnya.

Pukul setengah tujuh malam, semua persiapan sudah sempurna. Sekarang Qori naksir dia. Primadona sekolah itu menyukai gadis biasa seperti dia. Gita bernyanyi bahagia.

“Kamu nggak sedang melamun Git?” kata Intan sambil terkikik.

“Iya Git, jangan-jangan itu cuma halusinasi aja,” timpal Shafina.

Gita pura-pura merengut sambil berucap “Pendengaranku masih normal dan aku nggak bakalan cerita kalau tahu reaksi kalian begini”.

“Bukan begitu Git, Kalau benar Qori naksir kamu, kok bisa tenang-tenang aja sih?” kata Intan dan Shafina.

Ruth mencoba menengahi. “Kan Qori sendiri yang bilang dia sengaja jaga jarak biar surprise”.

“Udah deh, pokoknya mulai besok akan bakal jadi cewek paling bahagia di dunia,” ujar Gita tersenyum bahagia.

Keesokan harinya, bel rumah berbunyi. Dengan ceria Gita menghambur ke pintu, tapi ternyata yang datang Kak Adi, pacarnya mbak Enes. Keduanya lalu pergi, sementara Mama dan Papanya sudah berangkat ke acara resepsi. Di rumah hanya ada Gita dan mbak Tami.

Gita mulai tidang sabar. SEdari tadi sohib-sohibnya terus menelpon dan membuatnya tambah be te.

“Gita bangaun! Kok ketiduran di sini?” suara Mamanya terdengar sayup. Gita membuka matanya, ternyata Mama dan Papanya sudah pulang.

“O ya, Qori! Astaga, setengah sepuluh malam”Gita melonjak. Ternyata Qori tidak datang dari tadi. Gita mulai kebingungan.

Gita akhirnya ikut ajakan orang tuanya untuk mencari makan malam di luar.

“O ya Gita. Mama lupa cerita tentang cucunya Bu Nanda, padahal sudah sebulan lo. Kapan-kapan kamu main ke sana ya?” tiba-tiba Mamanya bercerita. Gita cuma mengangguk tanpa semangat.

Ketika melewati rumah Bu Nanda, Gita melihat seorang gadis cantik lekuar dari rumah diikuti seorang cowok. “Oh my god”, Gita terkejut bukan main. Berkali-kali dikedipkan matanya, berharap yang dilihatnya itu orang lain. Tapi sia-sia, cowok itu benar-benar Qori. Mereka berdua kelihatan akrab sekali.

Dengan gemetar Gita bertanya pada Mamanya, “siapa nama gadis itu Ma?

“Kebetulan namanya sama dengan kamu .... Gita,” jawab Mamanya.

Gita terkulai menyadari impiannya hancur oleh kebodohannya sendiri. Seharusnya ia mendengarkan ucapan sohibnya. Dan celakanya Gita terlanjur begitu berharap. Dia merasa marah, kecewa dan ... malu sekali.

Sabtu, 05 November 2016

CERITA- KISAH Cinta Sejati dan Mengharukan

Dua orang teman dekat. Wanita serta lelaki sama-sama menyayangi. Mereka berdua banyak perbedaan, tetapi mereka lah yang dapat menutupi perbedaan itu keduanya. Barangkali kepercayaan mereka membisikan napas-napas cinta persahabatan. Yang bikin ke-2 senyuman indah mereka berpadu jadi satu hubungan kasih sayang, tetapi tidak gantinya seperti dua persahabatan. Dua hati diantara mereka sama-sama tahu, mengerti serta mengajarkan kasih sayang dengan lembut. Lidia serta Kevin.



















Bersua di satu surau pas waktu tanggal 25 Desember 2003. Waktu perayaan hari Natal untuk umat beragama kristen, tidak kecuali Kevin serta beberapa sahabatnya nikmati kepercayaan serta perayaan yang indah hari itu, sejuk sesejuk jiwa yang bermetamorfosa dengan indahnya bunga melati atau yang lain di seputar surau dekat gerejanya. Dari waktu itu terjalin ikatan persahabatan pada Lidia serta Kevin. Mereka mulai bermain berbarengan, bersepeda, juga bila satu tetesan tampak diantara satu teman dekat, bakal ada yang melengkapi dengan senyum.

Senyum seseorang teman dekat yang sejati, yang tidak sempat capek mengajarkan kebaikan serta ketabahan hati waktu seluruhnya orang menjauhi walau diri sahabatnya itu salah sekalipun. senantiasa berbarengan. Tidak heran apabila mereka di katakan seperti orang berpacaran.. iya lebih pas bila sepasang saudara, maklumlah kebersamaan itu dari mereka berusia 6 th., telah 9 th. saat ini. Senantiasa sama, senantiasa berlangsung kenangan-kenangan sederhaana canda tawa atau permainan layangan yang dahulu mereka mainkan.

“Li ingat saat kecil kita bermain seperti ini? ”
“jangan ngaco Kev bila ngomong, kaya baru saja kita sahabatan haha”

Waktu ini Lidia mendidik otak nya, mengasah dianya di SMP 3 Kenanga Raya, sedang Kevin bersekolah di SMP Citra Raya. Walau kebiasaan serta kepercayaan yang tidak sama, mereka senantiasa meyakini bila salah seseorang dari mereka mustahil meninggalkan persahabatan meskipun tak ada persamaan kebiasaan. Merekalah yang bakal mengemukakan lentera persahabatan yang sejati, hingga mereka rasakan begitu mulianya cerita mereka dengan perbedaan yang kekal.

Satu hari, mereka janji pulang sekolah berbarengan. Kevin menanti Lidia di depan sekolah, gagasannya mereka ingin pergi ke kantin sebatas minum air fanta. Di situ nyatanya Lidia bersua dengan rekan-temannya, lalu dia berhimpun serta mengajak

Kevin berteman. Lidia memanglah agak tomboy, seperti tak terkesan untuk seseorang wanita, keindahan badannya saja tampak, itu juga teramat sayang untuk Tuhannya yang lihat. sikap nya saja waktu tengah minum saat itu kurang sopan. Celana dalam Lidia tampak serta Kevin sempat juga melihatnya sepintas. Dengan perasaan geli, Kevin berdehem serta berkata

“em… siapa ya yang celana dalamnya keliatan, warna merah lagi.. wow… hehehehe”. Spontan saja Lidia kaget serta mengerti bahwasanya dianya yang disebut Kevin. Lidia menyeret Kevin keluar kantin sekolah serta berkata
“Kamu nih apa-apaan sih vin! tidak tau perasaan orang banget! gue tuh malu! ”.
“Maaf Lidia sayang, saya kan bercanda, lagian anda juga tidak tau sopan santun banget! Cewek harusnya feminim dikit mengapa, keindahan anda bukan hanya diliat dari cantiknya anda berdandan atau langkah kenakan pakaian yang tidak nutup aurat. Bunda anda sendiri kan sempat katakan itu, saya saja tidak lupa? ”.

Lidia sedikit tahu apa yang Kevin maksud, dia terdiam, terlintas dipikirannya merangkum sebagian kata yang agung didengarnya.
“makna yang anda katakan bakal saya hiraukan kok, saya telah salah. Maaf ya sayang? kita pulang yuk! ” sembari menggandeng tangan Kevin.
“Li nanti gue main ke rumah lo bisa? Tante ingin mbikin kue tuturnya? ”
“Iya main saja. Saya ngerasa sepi bila anda pergi”
Sungguh tatapan Kevin sesudah Lidia menyampaikan itu jadi tidak sama.

Sore harinya, Kevin mengajak Llidia untuk bersantai di taman dekat rumah sembari makan kue.
“Vin? ”
“hem? ”
“gitu sangat, ngliat saya kek bila lagi ngomong, saya kan tidak sukai dicuekin sama kamu”
“hem”
“gak sensitif! ”

Sebagian menit Lidia mendiamkan sahabatnya itu, perutnya jadi geli dari belakang, Kevin pasti berniat nih, pikirnya. Lidia bangkit lalu lari mengkuti alur bumi memutar taman serta Kevin mengubernya. Sungguh itu mengingatkan peri kecil yang dahulu sama-sama bercanda tawa dengan pangerannya. Enam th. yang lalu.
Sesudah agak lama bermain kejar-kejaran, Kevin mengajak Lidia bercakap di taman itu.
“Li? Lo diem saja? Saya baru saja salah? ”.
“Cape doang, cubitan anda keras banget tadi, sakit Vin”
“Iya, kok anda pakai pakaian seperti gitu sih?

Tidak umumnya mamerin aurat. Anda lebih indah berjilbab. Saya mengingatkan anda dalam kebaikan, itu panduan Tuhan mu kan? Anda lupa lagi kata bunda? ”. Kata Kevin memandang mata teman dekat kecilnya.
“Eh em cuacanya panas banget”
“Sepanas apa pun juga saya akan buat anda nyaman, namun anda janganlah gini lagi ya? Janji? ”
Ya Tuhan, ini belaian Kevin? Janganlah putuskan cinta persaudaraan kita, saya tidak mau telapak tangan yang kekar ini berhenti membelai serta memelukku dengan lembut. Biarlah tiap-tiap jengkalnya selalu tawarkan keindahan.

Hari selalu berlanjut, lentera mentari siang itu barangkali agak membakar keluhan beberapa orang yang merasakannya. Hingga mereka cuma bersantai menanti senja menampakan diri untuk beradu dengan muka sang malam.

Saat memberikan jam 01. 00 siang. Lidia terasa benar-benar pusing, dia tak dapat menemani Kevin les basket ditempat Pak Dian. Jadi dia menjumpai Kevin di sekolah untuk ijin pulang dahulu. Saat tengah bercakap sebentar dengan Kevin, tiba-tiba ada tetesan darah dari hidung Lidia.
“Iya Vin jadi saya ke sini mau…”
“Memperlihatkan tetasan darah itu keluar dari hidung mungil anda? ” Kevin terasa dibohongi. Dia cemas, dia kaget, dia terasa dinomer duakan perihal keyakinan Lidia kepadanya.

Lidia telah cemas, jangan-jangan penyakit nakal ini bakal menunjukkan kebesarannya mengganggu kehidupanku di depan sahabatku sendiri. Sesaat mengamati, Kevin bersihkan darah yang selalu jadi tambah banyak dari hidungku, jadi benar-benar lembut sentuhan kapasnya.
“mengapa Lidia tak sempat bercerita perihal penyakitnya. Kenapa dia tega merahasiakan ini pada sahabtnya sendiri” Itu pembicaraan Kevin dengan mata hatinya.

Jadi apa yang anda sembunyikan dariku? ”
“Hanya pusing”
“Pusing pikirkanku? Maka dari itu anda tidak sempat narasi sama saya? ”
“Enggak namun saya tidak ayah, bener Vin”
Lidia menyembunyikannya di pelukan Kevin. Dia tidak mau Kevin menghancurkan rahasianya. Dia tidak mau bicara waktu itu. Dia cuma mau nikmati saat-saat indah dengan sahabatnya.

Sejak Kevin tahu penyakit Lidia dari Bunda, Kevin tidak sempat lagi mengajak Lidia bermain seperti dahulu. Dia takut berlangsung apa-apa bila Lidia selalu kecapaian serta penyakitnya kumat lagi. Menembus kebahagiaan Lidia. Saat ini Kevin juga mesti konsentrasi pada pacar barunya. Lewat.

Nyaris tiap-tiap hari Kevin senantiasa berbarengan Lewat, tak tahu itu pulang sekolah, makan bareng, belajar hingga ke gereja juga mereka senantiasa bersma. Sempat Lidia lihat sahabatnya itu berbarengan dengan Lewat saat dia akan pergi ke masjid, tak tahu kenapa perasaan Lidia benar-benar sakit, perasaan ini tidak berbunga, tak juga benuansa melati yang setiap waktu Kevin berikanlah padanya. Terasa Lidia seperti menunggu keajaiban apabila dia mesti meninggalkan kedamaian kota serta kegundahan hatinya.

Lidia cemburu. Ya bagaimana dengan cerita manis serta semua rasa sedih yang mereka lalui sepanjang 15 th. mesti terpisah cuma lantaran setetes darah untuk buktinya? Lidia menganggp bahwasanya Kevin sudah melupakannya serta lantaran Kevin telah tau penyakitnya, Lidia terasa sahabatnya itu jijik untuk dekat dengannya. Lidia senantiasa mengurung diri dirumah. Dia senantiasa menangis. Namun didalam lubuk hatinya, dia bakal terus berlaku seperti dahulu, waktu kanker itu belum menyerang otaknya.

Satu hari, Lidia berkemauan menjumpai Kevin waktu pengumuman lulusan di umumkan. Dia mau lihat kilasan senyum yang menawan, yang bikin pandangan matanya cuma tertuju pada senyuman itu. Atau belaian lembut yang dia nantikan 2 th. ini. Dia lihat Kevin tengah mencari-cari namanya di urutan lulus atau tak. Waktu itu Kevin tengah berbarengan Lewat. Dari belakang, Lidia menepuk pundak Kevin.
“Dooorrr! lagi ngapain kalian berdua? ”, bertanya Lidia dengan senyum terpaksa.
“eh Lidia, ngagetin saja,! basic anak kecil ya… tidak tau orang lagi bingung cari nama” dia meneruskan, lihat wanita yang ada di sebelahnya. Dirangkulnya dia, lalu,
“oh ya Vi ini teman dekat ku dari kecil, Lidia”
“Hay, seneng dapat kenal kamu”
“Iya keduanya sama, Vin saya nyariin anda, saya berupaya ingin deket anda selalu, namun terasa tidak dapat. Anda kaya sunyi banget untuk aku? ” Lidia tiba-tiba mengumbarkan seluruhnya gejolak yang selalu menekannya.

 Kevin bingung apa yang perlu dia kerjakan. Dia mesti pertahankan siapa, sahabatnya atau satu gadis yang mengganggu persahabatannya dengan Lidia. Gadis yang sesungguhnya benar-benar licik itu.
“Lidia denger! anda itu terlampau muda serta terlampau resah buat cari kesunyianku, saya telah mempunyai cewek serta anda tetap saja perduliin saya? Saya tidak akan dapat balik sama saya, saya mohon pengertiannya. Hapuskan saya dari bayangan-bayanganmu tiap-tiap hari juga hapus saya dari hidupmu”

Aku benar-benar.. ” Lidia tidak dapat meneruskannya lantaran terpotong.
“Tolong pergi, saat ini Lidia, bukan hanya satu detik lagi atau berjam-jam anda berdiri disini” bentak Kevin.
“Ketika Tuhan berikan satu kebahagiaan untukku, maka saya menentukan berikan kebahagiaan itu untukmu Vin”
“Plis pergi.. ”
Lidia terasa tertekan waktu itu, dia menahan air mata, tetapi dia tetap dapat menggerakkan matanya tiada setetes air mata. Cuma tersenyum. “Aku pulang dahulu ya, tadi hanya simak selalu mampir” kata Lidia.

Kevin pernah mau menguber peri kecilnya itu, dia terasa salah berkata yang tidak utama dia katakan pada sahabatnya. Namun dia ingat disitu juga ada Lewat. Gadis berdasar teguh pada pelukan Kevin supaya Kevin tidak dapat lari mengerjar Lidia. Dia mengambil keputusan tidak untuk mengubernya, barangkali Lidia terasa kurang di perhatikan.

Namun, untuk Kevin itu seluruhnya cuma masa lalu. Dia mau kembali menjumpai saat lalunya, meneruskannya dengan akhir yang bahagia. Terasa susah, di sebelahnya berdiri gadis yang bakal jadi permaisuri di hatinya. Barangkali. Atau sebatas pura-pura.

1 minggu berlalu, Kevin serta Lidia tak sempat terkait lagi. Hingga waktunya tiba, Kevin datang ke rumah Lidia serta lihat Lidia terbaring lemas di kamar. Lidia meneteskan air mata waktu Kevin jalan menuju tempat tidurnya.

Dia berupaya bangkit dari ketidakmampuannya berdiri menyongsong pangeran terindah yang dahulu dia punyai.
“Berikan keringanan kepadaku yang serba kekurangan ini Ya Allah untuk rasakan kebahagiaan dalam kesederhanaanku, bila cinta itu indah tolong labuhkan hati ini pada lelaki itu” Lidia berangan sebagian waktu.

Sayang, saya mohon maaf untuk semua kesalahanku, anda teman dekat terindah yang tidak dapat saya lupain gitu saja. sini sandarkan tubuh anda di badan saya, inget ya, saya yang akan menyokong badan anda saat anda kehilangan seluruhnya tenagamu.

Saya yang berupaya ada di belakang jejak langkah kesedihanmu, hanya saya yang mau ngebahagiain anda namun saya ingin katakan sesuatu…”
“Iya itu sebatas kalimat anda, pada kenyataan anda tidak sempat ada buat ngehibur saya kan cocok saya sakit kaya gini? saat ini saya ngerasa apa yang saya mempunyai itu balik lagi terhitung semangatku.

Lidia, saya rindu sama anda, saya mau anda senantiasa ada untuk aku, jadi teman dekat saya selama-lamanya, sepenuhnya, saya ingin yakini satu rasa yang tidak bakal sempat beralih dari diri kamu bikin saya, namun saya mesti pergi. Bapak menyuruhku geser ke Malaysia. Saya mesti sekolah di sana.

Lantaran bapak tidak dapat meninggalakan pekerjaannya, saya cuma mau kamu paham.kamu mengerti, bahwasanya saya bakal ada di tiap-tiap senyum serta tangisanmu, saya tidak bakal pergi, saya senantiasa di hatimu, walau beberapa ribu atau juga milyaran kilo jejakmu terpisah denganku, jalinan kita jangan sempat putus ya?, anda janji akan hubungi saya, sayang ya sama kesehatanmu? Seperti anda sayang sama aku” kata Kevin dengan suara sedih.

Aku juga minta bila saya pergi, anda tidak bisa nangis… saya senantiasa ada di mimpi-mimpi kamu bikin anda senyum seperti dahulu lagi.. ”, jawab Lidia dengan pelan.
“Pergi kemana? Kesini? Di hati saya? ”
“Enggak, kan Tuhan sayang sama kita, bila Tuhan ingin minta ditemenin sama saya kan saya mesti

pergi? ”
“Loh mengapa ngaco gitu ngomongnya? ”
“Bapa anda sempat katakan kan bila dia sayang sama anak-anaknya, dia mengistimewakan kita, mengistimewakan anda juga, itu bergantung saat, bila kita bisa milih juga kita maunya tetep kaya dahulu lagi kan”

Lidia, saya sayang sama anda, anda besok anter saya ke bandara ya? Yang ingin saya simak paling akhir itu anda sama senyuman indah anda.
Gejolak rasaku kelihatannya mulai berkembang tidak sama jauh dengan sebagian minggu pada mulanya. Ini terasa berat, satu elektron menancap kuat di dadaku, berputar-putar menentukan pada senyuman paling akhir buat dia atau terus tidur untuk kesehatannya.
“Bagaimana dengan Lewat? ”
“Aku hanya simak hari esok Li, bukan hanya saat lalu, hari esok sama anda nantinya”
“Jadi anda? ”
“Udah putus sama Via”
Lega. Cuma itu satu rasa yang saya paparkan di samping rasa sedih yang bergejolak benar-benar kuat.

Besok harinya di bandara. Paling akhir kali sebelum saat mereka berpisah, Lidia pernah bepesan, cuma sebagian kalimat serta itu bakal senantiasa Kevin taruh di hatinya
“Kevin, anda sahabatku, saya sayang banget sama anda.

Umpamanya saya jadi pergi, lebih jauh dari anda, anda janji mesti senantiasa inget masa lalu kita sampai kini, anda tidak bisa sedih, anda tidak bisa lupain saya. Saya akan simak anda di sana, dari mata hati saya walau saya hanya teman dekat yang senantiasa nyusahin anda, buang-buang uang anda, kerap emosian dikarenakan saya tertekan sama penyakit saya, saya mohon maaf? ”.

Enggak Lidia, itu salah. bila saya mikir kaya gitu, tidak barangkali saya ingin sahabatan sama anda sampai kini, anda itu peri kecil yang Tuhan kasih untuk aku. Anda itu anugerah, saya sayang anda kok. Telah ini air matanya janganlah sempat dikeluarin lagi ya? Anda cantik bila senyum. Anda teman dekat paling cantik yang sempat saya kenal”

Sesaat mereka bertatap muka. Mencermati raut muka yang telah bertukar, barangkali telah makin dewasa, angan yang tidak sempat mereka lupa, cerita jenaka serta suka ria mereka.
Walaupun juga ke-2 planet cinta itu berjarak jauh, tiap-tiap hari mereka senantiasa terkait melalui e-mail. Kevin senantiasa kirim dukungan untuk Lidia disaat pada saat Lidia tetap dapat nikmati indah dunia. Penyakit kanker yang menyerang otak Lidia tidak selama-lamanya bertahan.

Makin hari Tuhan berikan tandanya untuk Lidia. Tuhan kasihan melihatnya kesakitan. Bunda berupaya mencari dokter serta dimanapun dokter itu ada, namun mereka seluruhnya berputus harapan. Lidia terima kenyataan ini apabila dia mesti selesai, tiada sosok Kevin disaat paling akhir dia hidup. Dia cuma mengharapkan Kevin senantiasa datang ke dalam mimpi indahnya, malam itu di suatu rumah sakit Pelita, Jakarta Utara. Untuk seluruhnya cerita yang sampai kini dia kenang dalam memory kecilnya. Serta semangat yang tidak sempat redup lantaran sahabatnya, teman dekat yang benar-benar mulia.

1 Juli 2012. Waktu pertama kali masuk SMA, sekolah yang diidamkan seluruhnya siswa didunia sesudah lulus SMP serta disitulah detik paling akhir sebelum saat Lidia pergi, dia pernah buka e-mail terkhirnya yang barangkali keesokan hari dia tak bisa membukanya. Dia terhenyak serta mengalirkan demikian deras air matanya lantaran yang dibacanya ini..

From : kevinsaputra@gmail. co. id
To : lidiayuda@gmail. com
Hal : Arti Di hatiku

Lidia, saya tahu perihal perasaanmu saat anda bersua saya waktu saya tengah berbarengan pacarku, lewat. Saya tahu dari sorot matamu bila kau rindu kasih sayangku. Saya telah lama banget mendam perasaan ke anda. Saya sayang banget sama anda, barangkali saya mencintaimu. Saya sadar dunia kita memanglah tidak sama. Saya melampiaskan cintaku ke lewat agar saya dapat lupain anda, namun saya tidak dapat. saya rindu bakal senyumanmu, keceriaanmu saat bareng sama saya. anda mesti ada bila kelak kau kembali ke Jakarta…

saya meyakini anda dapat pulih walau saya Hanya dapat dukungan anda dari sini.. saya takut bila dari dahulu saya katakan perihal perasaanku ke anda, itu Hanya ngerusak persahabtan kita. Saya tidak ingin kehilangan anda Lidia.. anda mesti dapat, buat aku, saya tau anda juga cinta sama saya. Cinta kita cuma terhambat perbedaan kepercayaan. Serta itu penyebab mengapa saya tak memberitahuimu dari dahulu. Salam Kevin.

Tangan lidia bergetar waktu akan membelas kiriman Kevin. Darah dari hidungnya selalu keluar, tetapi dia mesti dapat menulis suatu hal. Tak tahu apakah itu, namun mesti.

From : lidiayuda@gmail. com
To : kevinsaputra@gmail. co. id
Hal : Arti Cintaku

Saya tidak tahu saya mesti ngomong apa. Saya cinta sama anda Vin… saya tahu kecocokan jiwaku telah ada untuk kamu dari dahulu, itu barangkali bakal kekal dalam hitungan th. era atau sesudah saya pergi kelak. Meskipun tidak sama cintaku sepenuh hati.

Cinta ini yang mengatur air mataku jadi rasa yang kekal buat kamwebf. Maaf akuffj sulit menulis katwe-kata ini. Saya capek dengan jemari ini. Cuma untuk bersamamu, saya ikhlas menerobos rasa sakit yang semakin djkeno. misal saat dapat terulang, sekurang-kurangnya saya tetap dapat mengungkap perasaanku segera tiada darah di hidungku yang semakin m…

Belum pernah lidia kirim balasannya ke Kevin, dia jatuh. Tertidur pulas. Untuk selama-lamanya. Untuk menjumpai sang Khaliq, menemani Tuhan di sana. Tetapi tuhan mempunyai gagasan lain. Tuhan sayang dengan Lidia, dia mau Lidia kembali kepada-Nya.

“Bunda tau nak, anda dapat setegar ini lantaran Kevin, bunda ikhlas nak, bunda sayang sama anak bunda. Bunda tidak mau anda sedih lantaran simak bunda nangis seperti gini. Anda yang bahagia ya nak di sana, kelak Lidia ada bila bunda lagi tidur, Lidia narasi ya sama bunda bila di sana tempatnya nyaman buat anak Bunda ini

Saat ini lidia sudah dapat tegar, bukan hanya tegar, dia tak akan sempat rasakan sakit apa pun. Tuhan sudah memepersiapkan takdirnya untuk kita. Lidia anak yang kuat. Dia senantiasa tersenyum walau fisik serta hatinya benar-benar terluka.

Bu Eva lihat e-mail yang belum terkirim, selekasnya dia kirimkan pada Kevin. Bu Eva juga menghubungi Kevin bila Lidia telah pergi. Telah menjumpai Kuasa-Nya. Cinta mereka tak akan menyatu. Kevin pulang ke Jakarta waktu Lidia barusan dikuburkan.

Dia cuma dapat berikan senyuman pada bunga-bunga melati serta tanah yang saat ini menutupi sosok tegar yang dia cintai semua kekurangannya. Dia berjanji, satu waktu kelak.. Dia bakal menyongsong cintanya, didunia yang lain. hal yg tidak beralih itu indah, namun hal yang indah pasti beralih. Dia ingat kalimat itu sebelum saat Lidia meninggalkannya.