unitedbet88

Senin, 28 November 2016

CERITA CINTA - cinta segitiga ini awal mulanya terjadi di sebuah kampus

cinta segitiga ini awal mulanya terjadi di sebuah kampus. Diceritakan Anis adalah seorang mahasiswi yang sekarang sedang menjalani kuliahnya di salah satu Universitas terkenal di Indonesia. Dia adalah salah satu mahasiswi yang sangat pintar dan memiliki seorang sahabat yang juga kuliah di kampus yang sama dengannya. Gita, dialah sahabat Anis yang saling kenal saat masuk bangku SMA dan hingga saat ini mereka bersama di kampus yang sama juga. Kedua sahabat ini selalu berbagi, suka dan duka mereka jalani berdua dengan penuh kebahagiaan.


















Meskipun mereka mengambil jurusan yang berbeda di kampus tersebut, namun setiap hari mereka tetap bersama karena rumahnya juga saling berdekatan. Saling berbagi ilmu dan waktu, itulah keseharian mereka.

Pada suatu hari ada seorang mahasiswa yang baru pindah dari Universitas lainnya. Dia melanjutkan kuliahnya ke Universitas yang Anis dan Gita jalani karena salah satu alasan keluarga. Pria ini sangatlah tampan, dewasa, dan juga baik hati. Arif, itulah nama mahasiswa baru tersebut yang kini hadir di kampus Anis dan Gita. Suatu hari Arif bertemu dengan Anis dan mereka saling bercerita pengalamannya masing-masing.

Semakin hari Arif dan Anis semakin kenal dekat dan diapun mengenalkan Arif kepada sahabatnya Gita. Akhirnya ketiganya menjadi sahabat yang setiap harinya melewati waktu bersama. Sekarang setiap hari Anis dan Gita ditemani dengan Arif yang juga sudah dianggap sahabat oleh mereka. Namun siapa sangka, Arif menyimpan rasa cinta terhadap Anis tanpa sepengetahuan Gita.

Saat itu Arif sedang berjalan di kampus, tidak sengaja bertemu dengan Anis. Tanpa basa basi Arif menyatakan cinta kepada Anis. Tetapi cintanya ditolak oleh Anis karena dia hanya menganggap Arif sebagai sahabatnya. Arif-pun mengerti akan hal itu dan dia mencoba menghilangkan perasaan cinta terhadap Anis.

Selepas pulang dari kampus, Anis bertanya-tanya terhadap dirinya sendiri. Dia selalu merasakan hal yang aneh, dia selalu merasakan penyesalan karena telah menolah Arif. Diapun menelepon Gita untuk mencurahkan isi hatinya. Dia ceritakan semua kejadian itu dan dia juga mengatakan bahwa dirinya begitu menyesal karena sesungguhnya dia juga menyukai Arif. Gita mengerti perasaan sahabatnya itu, dan diapun berkata

Yasudah, aku bantu kamu untuk mendekati dia lagi ya. Bukan sebagai sahabat, tetapi sebagai kekasih” kata Gita sambil merangkul Anis. Anis merasa sangat senang karena sahabatnya mau mengerti dan membantunya.

Gita memiliki rencana mendekati Arif untuk membuka kembali hati Arif agar mau mencintai Anis sahabatnya. Setiap hari Gita memberikan perhatian untuk Arif agar dia mau dibujuk dan mau menembak lagi sahabatnya yang sekarang sedang menyesal. Tetapi usaha Gita selalu gagal karena Arif merasa dengan kejadian tersebut kini persahabatan mereka mulai renggang.

Hingga pada akhirnya karena Gita selalu dekat dengan Anis, tidak diduga kalau Arif malah menjadi mencintai Gita yang sekarang memang sudah memiliki kekasih. Disaat ada sebuah pesta ulang tahun Rani (teman sekelas Gita), siapa sangka Arif menyatakan cinta kepada Gita.

Meskipun Gita sekarang mempunyai pacar, tetapi karena setiap hari dekat dengan Arif maka Gita juga memiliki perasaan yang sama dengan Arif. Akhirnya Arif dan Gita berpacaran tanpa sepengetahuan Anis.

Waktu demi waktu berlalu, Gita selalu berbohong kepada Anis. “Git, gimana usaha kamu mendekatkanku dengan Arif? Sampai sekarang kita tetap saja jauh” tanya Anis kepada Gita. Dengan was-was Gita-pun menjawabnya kembali dengan kebohongan “Emm,,, em… aku sedang berusaha Nis, tetapi sepertinya sangat sulit untuk membuka hati Arif kembali”.

Mendengar jawaban itu Anis sangat sedih, dan diapun memutuskan untuk mencoba melupakan Arif. Ditengah usaha Anis melupakan Arif, tiba-tiba Rani (teman sekelas Gita) menghampiri Anis. “Anis, ada yang mau aku bicarakan sama kamu. Kamu sahabatnya Gita kan? Ini sangat penting” ujar Rani kepada Anis. “Eh Rani, ada apa Ran?” jawab Anis dengan penuh kebingungan.

Karena Rani merasa bahwa perbuatan Gita itu salah, maka dari itu dia mengatakan yang sesungguhnya kepada Anis “Saat pesta ulang tahunku Gita dan Arif datang. Arif menembak Gita, dan merekapun jadian. Ku rasa kamu harus tahu hal itu Nis, karena aku tahu kalau kamu menyukai Arif”. Mendengar hal tersebut Anis sangat terpuruk.

Dia langsung pulang dari kampus dengan air mata yang tidak berhenti berlinang. Dia tidak memperdulikan tanya setiap orang yang melihatnya menangis dan dia hanya terus saja berlari untuk pulang ke rumah.

Singkat cerita, Gita-pun merasakan ada yang berbeda dari Anis. Akhir-akhir ini Anis jarang mengajak ataupun meluangkan waktu untuk belajar bersama ataupun hanya sekedar berkumpul. Perasaan Gita-pun sudah curiga bahwa Anis sudah mengetahui apa yang telah dia dan Arif perbuat.

Akhirnya Gita datang ke rumah Anis, tanpa basa-basi dia langsung memeluk Gita sambil berkata “Anis aku tahu kamu sangat marah kepadaku, tetapi akupun tidak mengerti kenapa aku menerima Arif, dan akupun tidak mengerti kenapa semua menjadi seperti ini.

Tolong maafkan aku Nis, jangan berubah, jangan tinggalkan sahabatmu ini, hukumlah aku Nis aku mohon maafkan aku. Apa yang harus aku lakukan Nis agar kau memaafkan kesalahanku ini?” sambil menangis tersedu-sedu. Lalu Anis menjawabnya “Tidak apa-apa Git, kamu tidak perlu melakukan apapun. Aku sudah memaafkan kamu, dan kamu tetaplah sahabatku”.

Mendengar jawaban tersebut Gita semakin merasa bersalah dan air matanya semakin deras. Dia terus menerus memohon dan meminta agar dia dihukum karena hal tersebut. Lalu Anis berkata “Kamu harus berjanji yah jangan pernah mengulangi semua ini.

Cukup ini yang pertama dan terakhir Git”. Gita akhirnya berjanji tidak akan melakukan hal tersebut lagi, dan mereka berduapun berpelukan dengan tangisan. Disaat keadaan begitu dramatis, tiba-tiba Arif datang. Arif merasa sangat menyesal dengan kejadian ini, dia berlutut kepada Anis dan Gita untuk meminta maaf.

Karena kehadiranku, persahabatan kalian menjadi kacau seperti ini. Aku mohon maafkanlah aku, aku ingin kita bertiga tetap bersahabat” kata Arif. Anis dan Gita tidak mengatakan apapun, mereka langsung menarik Arif dan mereka bertiga akhirnya berpelukan. Arif berjanji tidak akan ada lagi cinta yang akan merusak persahabatan mereka lagi. Ketiga sahabat inipun akhirnya kembali bahagia dan berkumpul bersama setiap hari.

CERITA CINTA - Cinta Sejati Yang Sangat Romantis

Dimana yang pertama ini adalah cerita cinta untuk kamu yang selalu ingin tahu alasan kenapa kekasihmu mencintaimu. Suatu hari ada sepasang kekasih yang sedang berjalan-jalan. Di tengah perjalanan, si pria melihat sebuah pohon yang penuh dengan bunga mawar. Kemudian si pria memetik satu bunga mawar tersebut dan memberikannya kepada si wanita. Namun si wanita tidak bahagia dengan pemberiannya itu, dia justru malah cemberut dan bertanya “Kenapa kamu begitu menyukaiku? Mencintaiku?dan Menyayangiku?”. Mendengar pertanyaan tersebut si pria hanya memberikan sebuah senyuman manis.




























Wanita tersebut kembali bertanya dengan nada yang sedikit marah Kenapa kamu malah tersenyum? Kenapa bukan di jawab?

Tolong beri alasan kenapa kamu sangat mencintaiku?”. Si pria tetap tersenyum, tetapi karena melihat kekasihnya itu sedikit cemberut maka dia menjawabnya “Emm kenapa ya? Aku tidak tahu alasan yang sebenarnya kenapa aku mencintaimu”. Mendengar jawaban seperti itu si wanita malah menangis “Berarti kamu benar-benar tidak mencintaiku! Kamu jahat! Untuk memberikan alasan mencintaiku saja kamu tidak tahu, maka berarti cintamu itu palsu!”. Karena melihat kekasihnya menangis maka si pria dengan tenang menjawab.

Emm, iya iya sayang, aku mencintaimu karena kamu sangat cantik, suaramu merdu, dan rambutmu juga halus”. Dengan jawaban yang terlontar seperti demikian, maka si wanita berhenti menangis dan merasa bahagia, lalu dengan senang hati dia menerima bunga mawarnya itu.
Suatu hari si wanita mengalami kecelakaan yang sangat luar biasa. Wajahnya rusak, rambutnya juga harus di potong habis karena menjalani operasi, serta suaranya menghilang karena benturan yang hebat. Setelah itu kekasihnya memberikan sebuah surat yang berisi :

Kekasihku, karena suaramu tidak merdu seperti dulu (bahkan sudah tidak ada suaranya), maka aku tidak bisa mencintaimu. Dan karena rambutmu yang sekarang sudah tidak ada lagi aku tidak bisa lagi membelainya, maka aku tidak akan bisa lagi mencintaimu. Serta karena wajahmu yang sudah tidak cantik lagi sekarang aku benar-benar tidak bisa mencintaimu lagi. Tetapi cintaku bukan cinta yang palsu seperti yang kamu ucapkan saat itu. Aku akan tetap mencintaimu, menyayangimu, meskipun kecelakaan itu merubah semua alasan yang pernah aku ucapkan untuk mencintaimu. Bahkan aku akan selalu mencintai dan menyayangimu sampai rambutmu nantinya mulai memutih dan wajahmu mulai berkerut. Aku cinta kamu kekasihku, dan aku tidak perlu memberikan alasan apapun kepadamu untuk selalu menjagamu dan menyayangimu. I love U sayang… Menikahlah denganku…”
Begitu membaca surat itu si wanita langsung menangis bahagia, dan tidak lama kemudian mereka menikah dengan penuh kebahagiaan.

Cerita kedua ini adalah sebuah cerita untuk kamu yang selalu mengharapkan kekasihmu sangat romantis. Di sebuah kota ada sepasang kekasih. Seperti biasa di hari valentine mereka selalu diwarnai dengan cokelat dan juga bunga mawar. Namun valentine kali ini si pria datang terlambat ke rumah kekasihnya karena hujan. Sesampainya di rumah sang kekasih, dia melihat wanitanya sedang terduduk cemberut. Dia mencoba untuk menjelaskan apa yang terjadi, tetapi si wanita tidak ingin tahu alasannya itu dan tetap cemberut. Sehari sebelumnya si wanita meminta 6 tangkai bunga mawar segar (karena 6 adalah tanggal jadian mereka), serta dia meminta untuk datang dengan romantis seperti di film-film yang telah di tontonnya.

Namun apa daya, si pria datang dengan kehujanan, ditambah lagi dengan terlihat ada satu mawar plastik diantara bunga mawar yang diberikan si pria. Kemarahannya semakin memuncak karena itu, akhirnya si wanita membentak kekasihnya itu “Kamu benar-benar tidak menyayangiku! Aku sudah berangan-angan dan membayangkan keindahan hari ini dari hari kemarin tahu! Kenapa juga ini ada mawar plastik!!??.

Si pria merasa bersalah, dan dia menjawabnya “Sengaja aku membawakan satu bunga plastik untuk melambangkan cintaku padamu itu abadi. Aku akan mencintaimu sampai mawar plastik itu layu dan mati. Bunga mawar segar memanglah sangat indah, tetapi mawar plastik itu tidak akan pernah mati”. Mendengar seperti itu si wanita langsung memeluknya dan meminta maaf “Maafkan aku sayang yang selalu ingin kisah cinta kita seperti di film-film. Kini aku sadar bahwa romantisme itu kita sendiri yang membuatnya, I love U sayang”.

Sekarang saatnya menceritakan cerita terakhir. Kisah ini akan memberikan pengalaman yang pasti pernah kamu alami jika kamu perbah memiliki kekasih saat berumur labil. Di tepi danau, sepasang kekasih sedang asyik pacaran. Sang pria memegang erat tangan kekasihnya itu. Tiba-tiba si wanita bertanya kepada lelakinya itu karena dia tidak pernah lagi mendengar kata “aku cinta kamu” atau “aku sayang kamu” semenjak mereka berpacaran.
Wanita : Sayang, bolehkah aku bertanya?

Pria : Tentu saja sayang

Wanita : Apakah kamu mencintaiku?

Pria : Jelas sayangku, aku cinta padamu

Wanita : Apakah kamu menyayangiku?

Pria : Tentu saja aku sangat menyayangimu

Wanita : Kenapa aku tidak pernah mendengarnya dari mulutmu semenjak kita berpacaran? Kenapa harus aku tanya dulu agar kamu mengucapkan 3 kata tersebut?

Pria : Ah, kurasa tidak perlu begitu sayang

Wanita : Loh kenapa tidak?

Pria : Emm, karena kenapa ya

Wanita : Aku hanya ingin kamu mengatakan kalau kamu mencintaiku itu saja, kenapa sulit sih

Pria : Tapi aku tidak bisa

Wanita : (Menangis penuh kesedihan karena fikirnya memang kekasihnya itu tidak mencintainya) Kenapa kamu begitu terhadapku?

Pria : Jadi apa kamu memang benar-benar ingin tahu?

Wanita : Tentu saja!

Si pria langsung memegang bahunya, lalu memeluk erat tubuh kekasihnya yang sedang menangis itu sambil berbisik “Karena tiga kata itu tidak cukup untuk mengungkapkan betapa aku mencintai dan menyayangimu” (mencium keningnya). Dan akhirnya kekasihnya itu sadar bahwa cinta tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata.

CERITA CINTA - Kekasih Kutu Buku Di Sekolah

Cinta romantis sepasang kekasih kutu buku di sekolah SMA di Jakarta. Saat itu tepat pukul 6.30 alarm hp berbunyi membangunkannya. Sintaaaaa….. Bangun…. kamu kesiangan lagi…. teriak ibu Sinta membangunkannya. “Sialan gue telat lagi” Ujar Sinta dalam hati. Diapun segera turun dari kamarnya lalu mandi dan SARAPAN roti dengan buru-buru, “Mah aku berangkat, kak nanti gak usah jemput, aku mau langsung hang out sama Rani ke book store biasa”. Kakaknya yang sudah kuliah itu hanya mengiyakan saja, mamah Sinta berkata “Hati-hati sayang”. Sinta pergi ke sekolah naik bus, dia berdiri karena bus penuh sehingga tidak mendapatkan tempat duduk. “Sial udah jam 7 mana macet, mati gue nyapu lagi halaman nih” gerutunya. “Kalau tidak mau telat makanya naik mobil pribadi” tiba-tiba seorang pria menyahut pelan-pelan. “Eh ngomong apa lo barusan?” jawab Sinta ke pria itu. “Siapa?















yeee dasar aku sedang berbicara dengan temanku” jawabnya ngeles. Setibanya di sekolah Sinta seperti biasa di hukum menyapu halaman sekolah karena terlambat. “Wah-wah lo memang pemegang rekor juara terlambat sekolah setiap hari Sin” kata Rani teman sebangkunya meledek. “Sialan lo, gue bergadang lagi semalem” Ujar Sinta sambil melet. “Yah dasar si kutu buku nih pasti baca-baca lagi novel” jawab Rani, Sinta hanya senyum “hehe”. Jam pelajaranpun dimulai dan mereka belajar seperti biasa.

Di jam istirahat Sinta yang makan sambil baca buku novel bercerita tentang pagi tadi di bus kota. “Gue ketemu dengan pria yang cukup lumayan ganteng dan penampilannya juga rapih, kayaknya sih kutu buku juga KAYAK gue soalnya pake kaca mata” Kata Sinta. “Haha, mimpi apa gue semalem denger lo cerita cowok Sin?” jawab Rani meledek. “Ah elo Ran, eh iya nanti jadi kan pulang sekolah kita ke book store biasa?

iya, hayu Sin sambil gue kan mau nyari buat tugas sekolah”. Sepulangnya sekolah Sinta dan Rani ke book store dan disana mereka berpencar karena buku yang dicari Sinta dan Rani berbeda. Tiba-tiba seorang pria tidak sengaja menabrak Sinta karena dia berjalan sambil membaca.

Eh kalo jalan liat-liat dong jangan sambil baca. Eh lo lagi yang tadi di bus ya?” Kata Sinta. Pria tersebut menjawabnya “Yah elo lagi deh, oh iya kita belum kenalan nih. Kenalin nama gue Randi” sambil menjulurkan tangannya. Sinta yang memang menyukai pria tersebut akhirnya meraih tangan Randi dan merekapun berkenalan.

Keesokan harinya, seperti biasa Sinta datang dengan terlambat. Namun kali ini dia beruntung karena guru di jam pelajaran pertama belum datang. Tiba-tiba datanglah gurunya bersama dengan seorang pria, “Anak-anak, kenalkan ini murid baru. Dia pindahan dari Bogor”. Ternyata pria tersebut adalah Randi, lalu kemudian Randi duduk di sebelah Robi (karena hanya bangku itu yang kosong).

Kebetulan sekali bangku Robi duduk tepat dibelakang Sinta dan Rani. Jam istirahat tiba dan Sinta tetap membaca novel menolak ajakan Rani yang mengajaknya makan. Randi yang juga masih di kelas karena ketinggalan beberapa pelajaran duduk mendekati Sinta lalu mengajak Sinta “Serius amat lo, ke kantin yuk?

Lo duluan aja, tanggung nih” jawab Sinta. Akhirnya Randi ke kantin duluan, disusul dengan Sinta yang sudah usai membaca novel. Di kantin Sinta melihat Randi yang terlihat seperti cupu karena memakai kaca mata, berbeda dari sebelumnya. Randi sedang bermain basket, dia begitu lihai memainkan bola basket tanpa menggunakan kaca mata.

Sinta semakin menyukai Randi karena fikirnya Randi memang benar-benar pria baik dan gagah. Tiba-tiba Elsa seorang cewek cantik yang eksis di sekolah tersebut menghampiri Randi yang sedang beristirahat karena lelah seusai main basket. “Eh lo anak baru ya? Kenalin gue Elsa, kelas gue tepat di samping kelas lo.

Merekapun akhirnya berkenalan dan saring bercerita, setelah itu kembali masuk ke kelas masing-masing. Lonceng pulang sekolahpun berbunyi, Randi mengajak Sinta pulang bersama karena mereka satu arah. Namun Sinta menolaknya karena malu dengan teman-temannya, tetapi Randi memaksa dan akhirnya Sintapun mau pulang bersama.

Saat itu Randi menggunakan motornya, dia juga biasanya lebih memilih menggunakan bus jika motornya sedang mogok, dan sepanjang jalan Randi menceritakan tentang dirinya kepada Sinta. Sintapun terkagum karena memang dari ceritanya dia adalah anak yang baik serta hobi membaca juga seperti dirinya.

Singkat cerita akhirnya mereka memasuki kelas 3 SMA. Randi bercerita kepada Robi, “Bro, tadi malem Elsa datang ke rumah gue bawain kue ultah”. “Wih hebat lu bro cewek secantik Elsa bela-belain datang ke rumah lo buat ngucapin ultah yang sweet. Udah pasti dia suka sama lu bro” sahut Robi. Sinta yang dari kejauhan mendengar mereka langsung berlari dan berkata “Randi, happy birthday ya. Sorry gue telat ngucapin kemarin hp gue abis pulsa. hehe”. Hari demi hari Sinta lewati dengan novel tersebut, dan setiap jam istirahat Sinta harus merasakan kecemburuan karena Elsa semakin dekat dengan Randi.

Temannya Ranipun menasehati Sinta “Kalau kamu suka sama Randi, ungkapin aja Sin. Jangan sampai kamu menyiksa diri”. Namun Sinta menjawabnya dengan putus asa “Untuk apa Ran? Untuk mempermalukan diriku sendiri? Randi setiap hari bermain basket bareng dengan Elsa, semakin hari semakin dekat, apa pantas gue mengutarakan cinta?”. Kemudian Rani memeluk sahabatnya itu.

Semakin hari sikap Sinta kepada Randi semakin berbeda. Sinta semakin menjauhi Randi meskipun mereka satu kelas. Sinta yang biasanya sering mengajak Randi ke book store bersama, kini sudah jarang mengajaknya. Di sisi lain Randi merasakan hal itu. Randi semakin yakin kalau Sinta memang menyukainya.

Randi diam-diam juga menyukai Sinta yang terkenal pendiam dan hobi membaca novel. Karena sudah merasa sangat yakin, akhirnya Randi mengajak Sinta untuk makan malam. “Serius? Kenapa lo ngajak makan malam sama gue Randi?” kata Sinta kaget.

Yah gak apa-apa Ran, pokoknya kamu harus dandan yang cantik yah malam ini” jawab Randi sambil senyum. Ini adalah pertama kalinya Sinta diajak makan malam bersama oleh Randi semenjak dia kenal. Hatinya begitu berbunga-bunga. Ditambah dengan ucapan Randi yang meminta agar dia dandan secantik mungkin.

Tibalah saat romantis dari cerita ini, disaat makan malam, Randi memegang tangan Sinta dan dia mengungkapkan perasaan cinta kepada Sinta. Dengan suasana yang indah di cafe yang cukup mahal, Sinta merasa seperti wanita paling beruntung. Di sisi lain, Randipun merasakan hal yang sama karena setiap hari melihat Sinta berpenampilan kutu buku namun malam ini dia begitu cantik seperti bidadari.

Di sekolah, Randi dan Sinta yang sudah resmi berpacaran setiap harinya bermesraan. Waktu demi waktu berlalu, hingga sampailah kabar kepada Elsa bahwa Sinta berpacaran dengan Randi. Elsa yang pemarah mendorong Sinta saat Randi sedang tidak bersamanya. Sinta terjatuh dan terluka, Randi yang melihat dari kejauhan langsung berlari dan menggendong Sinta ke UKS tanpa memperdulikan semua orang disekitar.

Terimakasih ya sayang” ucap Sinta kepada Randi, “tidak apa-apa sayang, sudah seharusnya aku menjagamu” jawab Randi. Semakin kuat hubungan cinta mereka dengan kebiasaan yang sama setiap harinya mencari buku dan novel baru di book store. Hingga waktu tidak terasa sudah saatnya mereka melihat hasil ujian akhir.

Sinta dan Rani bersama dengan Robi melihat hasilnya dan mereka semua lulus, begitupun Randi. Mereka bertiga berteriak kegirangan, tiba-tiba datanglah Randi dan langsung dipeluk oleh Sinta. “Kita lulus sayang” ujar Sinta sambil memeluk Randi. Randi menjawab dengan lesu dan tanpa kegirangan “Iya sayang kita lulus, tetapi aku harus melanjutkan kuliah ke Jepang karena aku mendapatkan beasiswa. Maukah kamu menungguku?

Ternyata dibalik kelulusan mereka terdapat kesedihan karena Randi harus pergi ke luar negeri. Namun Sinta menerimanya dengan ikhlas dan berusaha bersabar, toh dijaman sekarang sudah ada HP canggih untuk komunikasi. Akhirnya Randi pergi melanjutkan kuliahnya ke Jepang.

3 tahun kemudian, setelah menahan rindu yang cukup lama kini tiba saatnya Randi untuk pulang ke Indonesia. Di bandara Sinta sudah bersiap menjemput kedatangan kekasihnya itu dengan dandanan saat pertama kali mereka makan malam itu. Tiba-tiba terlihat dari kejauhan seorang pria dengan penampilan rapih membawa tas sedang berjalan menghampirinya, ya, itulah kekasihnya Randi. Mereka saling berpelukan melepas rindu

Aku kangen banget sama kamu Sin, kamu baik-baik disini kan? Oh iya aku terkejut melihat penampilanmu karena kamu mengingatkanku saat pertama kita berpacaran, namun ada sedikit perubahan yaitu wajahmu sekarang semakin cantik” kata Randi sedikit gombal.

Kamu juga sekarang semakin tampan dan dewasa Ran, aku kangen banget menunggu hari ini” jawab Sinta. “Hehe, akhirnya kita berhasil melewatinya. Terima kasih karena sudah setia menungguku sayang”, “Iya sama-sama sayang terima kasih juga sudah menungguku”. “Yuk sekarang kita ke rumah orang tua kamu Sin”, “Loh? Kenapa gak pulang dulu ke rumahmu Ran?”, “Kamu mau menikah denganku? Aku ingin segera melamarmu sekrang sayang”, “hehe dasar, tentu saja aku mau”. Akhirnya kedua kutu buku ini menikah dan bahagia bersama.

Minggu, 27 November 2016

CERITA CINTA - Janji Hingga Ke Tiang Nisan

Ar, kapan kau nikahiku?”

Selalu saja kalimat itu mengusik pikiran Arman. Ia terhenti dengan sejuta kalimat untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya kepada gadis itu. Lagi pula pria tersebut memiliki beban yang besar untuk membiayai kedua adiknya yang sedang duduk di bangku SLTA. Tentunya beban biayalah yang jadi penghambat Arman menikahi Raisa. Untuk menikahi gadis itu. Sang ibu tidak melarang keinginan Arman. Namun, ia tidak mungkin melakukannya. Mengingat adik-adiknya masih mengenyam pendidikan. Akibat cinta dan kondisi kehidupan, Arman terpaksa mencari penghasilan besar agar semuanya terpenuhi. Niat hati pun tergerak untuk mengadu nasib ke negeri orang. Di sana Arman bekerja menjadi seorang salesmen. Penghasilannya lumayan besar. Namun butuh waktu yang panjang untuknya mengumpulkan jumlah uang yang diinginkan.




















Waktu terus berjalan tampa henti. Raisa sabar menunggu perjuangan sang kekasih. Walaupun sang ibu mendesak putri semata wayangnya untuk menikah dengan pria lain. Bagi gadis itu cinta dan niatnya sudah bulat hanya untuk Arman. Sehingga berkali-kali ia menolak permintaan dari ibunda. Malapetaka menimpa Arman. Ia harus mengeluarkan uang yang cukup besar untuk mengobati sang ibu. Wanita 56 tahun itu diserang gangguan pada paru-paru. Demi orang yang telah berjuang membesarkannya, pria itu pun merogoh sakunya demi kesembuhan sang ibu. Akibatnya niat untuk menikah Raisa harus terulurkan lagi.

Ar, kapan kau nikahiku

Kalimat itu menikam kembali pikirannya. Saat itulah ia tak bernada sama sekali untuk menjelaskan keadaan yang telah terjadi. Suatu ketika Arman berpikir keras untuk melunasi janjinya untuk menikahi gadis itu. Mengingat usia pacaran mereka sudah berlangsung lama. Namun pria itu tidak bisa berkilah sama sekali untuk menikahinya. Akhirnya Raisa tak memiliki pilihan lain. Ia harus menikah dengan pria idaman sang ibu. 

Keputusan yang diambil oleh gadis itu pun membuat Arman merasa bersedih hati. Pernikahan pun berlangsung di awal januari. Banyak orang yang berdatangan untuk memberi doa dan ucapan buat Raisa dan Bastian. Ada juga membawa bingkisan.

Tumpukan kado tersebut tidak terusik sama sekali setelah pesta pernikahannya. Karena terlihat begitu merusak pandangan mata, akhirnya gadis itu pun membuka setiap bungkusan kado. Di antara banyak bingkisan. Ada setangkai mawar plastik. Bunga itu terikat bersama amplop putih yang berisi selembar surat. Karena penasaran dengan isi surat tersebut. 

Raisa membacanya dengan seksama.. Kalimat surat itu tidaklah begitu panjang. Hanya bertuliskan, “Selamat menempuh hidup baru, Raisa aku janji tidak akan menikah dengan gadis lain. Demi melunasi janji yang tidak pernah ku tepati dan juga sebagai bukti kesetiaanku.”

Ia hampir terlupa dengan sosok Arman. Seolah lembaran kertas putih itu mengingatkannya kepadanya sosok pria tersebut. Terkilas memori masa lalunya berputar kembali. Mengenang waktu bersama dengan sang mantan agar ia menjadi istri yang baik. Raisa berusaha untuk tidak terusik dengan kesetiaan Arman. Ia tetap berusaha menjaga perasaan suami dari masa lalunya. Dua tahun usia pernikahan Raisa dengan Bastian. 

Selama itu pula mereka belum dikarunia oleh seorang anak. Siang dan malam keduanya selalu menyertakannya dalam doa. Agar secepatnya bisa dikarunia buah hati. Akhirnya permintaan tersebut terkabul. Kini wanita itu memasuki usia hamil tua. Keduanya terlihat bahagia. Apalagi anak di dalam rahimnya adalah anak pertama setelah pernikahan mereka.

Waktu persalinan semakin dekat. Banyak hal yang sudah persiapkan. Baik dari perlengkapan bayi maupun peralatan untuk keperluan persalinan nanti. Ruangan rumah sakit penuh sesak dengan para pengunjung. Mereka berusaha melihat sosok tubuh yang terkulai lemas dan tak bernyawa. 

Di sudut tempat tidur pasien, seorang wanita dengan perut membengkak menangis tersedu-sedu. Ia merasa tak percaya dengan malapetaka yang menimpa jasad yang tak ada lagi tanda kehidupan. Dokter pun menjelaskan kepada keluarga kalau Bastian meninggal akibat serangan jantung. Penyakit tersebut memang sudah mengidapnya selama kurang lebih tujuh tahun yang lalu. Namun keluhan tersebut tak pernah diceritakannya kepada Raisa.

Kini hari-harinya menjadi sepi. Kematian sang suami menggoreskan tinta hitam bagi kehidupan Raisa. Lembaran diari tertulis kisah pahit sejak kematian sang suami. Memang siapa saja tak menginginkan kematian yang instan. Tapi Tuhan bercerita lewat kisah-Nya sendiri. Siapa saja tidak bisa melawan takdir. Kematian hanya menjadi simbol tidak kekekalan sebuah kehidupan. Rasa nyeri semakin terasa. Tibalah waktunya Raisa untuk bersalin. Malam itu juga ambulans langsung datang menjemputnya. 

Suara mobil tersebut menampar setiap sisi jalan. Kecepatannya berpacu dengan kencang, seirama rasa perih di bagian perut. Proses persalinan berjalan lamban. Selain itu rasa sakit mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Raisa berusaha tegar dalam kondisi tersebut. Meski tanpa suami, sang ibu setia berada di samping anak semata wayangnya itu.

Raisa mengalami pendarahan saat proses persalinan. Akibatnya bayi yang dilahirkan itu pun harus kehilangan nyawa. Kali ini ia benar-benar kehilangan harapan. Tak sampai di situ saja kesedihan yang ia terima. Namun kelumpuhan yang dideritanya juga menjadi babak penderitaan baru baginya. Senja kian menyingsing dengan cepat. 

Langit sore memancarkan warna kemerahan. Tertunduk lesu seorang gadis di atas kursi roda. Ia duduk mengarah ke ufuk barat. Sambil menyaksikan mentari berpamitan. Matanya lebam menangis seharian.

“Ras, yang sabar ya Nak. Kamu jangan banyak mikir kasihan dengan kondisi tubuhmu yang semakin lemah.” suara sang ibu mendayu lembut. Menyapa gendang telinganya. Namun beningan embun menitik tanpa henti. Bibirnya tetap membisu tanpa ada kata yang merangkai. Selama setahun Raisa sabar dengan kondisinya. 

Ketabahan selalu berusaha ia lukis dengan tinta keikhlasan. Ia berusaha tersenyum dengan air mata yang mengurai. Sekali pun banyangan sang suami mengusik pikirannya di setiap saat. Terkadang matanya terbungkus dengan beningan embun. Ketika ia melihat tetangganya yang lewat di depan teras rumah menggendong momongan. Namun ia harus bisa belajar dari semuanya hikmah yang ia terima.

Pagi itu datanglah seorang tamu yang tidak asing lagi bagi Raisa. Dia adalah Arman, pria yang pernah singgah di hatinya. Kedatangannya membuat gadis itu bisa meluap kerinduannya. Setelah beberapa tahun mereka tidak bertemu. Kabar tentang kematian suaminya sudah lama didengar oleh Arman. Hanya saja ia tak sempat untuk menjenguk. Berhubung pria itu berada di luar kota. Hampir tiap hari Arman datang menemani Raisa. Keduanya berjalan mengitari halaman rumah. Di sana juga mereka banyak menghabiskan waktu bersama.

Suatu ketika kedatangan Arman berbeda dengan sebelumnya. Ia terlihat tampan dan penampilannya terlihat sedikit rapi. Bukan saja Raisa namun ibundanya juga mengalami keheranan. “Raisa di hadapan Ibumu, maukah kau ku nikahi? Aku tak banyak uang untuk melakukannya. Tapi aku punya satu kesetiaan dan kesiapan untuk memeliharamu. 

Tanpa memperhitungkan kondisi fisikmu seperti apa.” Air matanya menetes dan menatap tajam ke arah mawar merah yang disodorkan oleh Arman. Sang ibu merangkul putrinya. Seolah ia menyesal telah menjodohkan anaknya dengan pria lain. Hanya karena uang yang menjadi persoalan cinta mereka waktu itu.

Keduanya pun sepakat untuk mempertemukan keluarganya masing-masing. Hasil pertemuan itu pun memberikan lampu hijau untuk Arman dan Raisa. Akhirnya mereka sepakat untuk menikah bulan depan. Kabar pernikahan itu mulai tersiar. Banyak yang beranggapan bahwa Arman adalah pria yang bodoh. Padahal masih banyak wanita yang sempurna untuk dinikahinya. 

Di sisi lain ada juga yang memuji pria itu atas kesetiaan memilih Raisa menjadi istrinya. Bagi Arman kekurangan gadis yang hendak dinikahinya itu adalah kesempurnaan untuknya. Oleh karenanya, ia tidak ingin ocehan dari kalangan orang menjadi penghalang ketulusan cintanya.

Semenjak saat itu. Arman terlihat tabah dan setia menjaga Raisa. Bahkan dari bibir pria itu tidak terdengar keluh kesah. Oleh karenaya tidak heran banyak yang iri dengan gadis malang itu. Satu minggu lagi mereka akan segera menikah. Pesta yang telah mereka rencanakan tidak begitu mewah. Rasa bahagia mulai menyelimuti wajah Arman. 

Tak habis-habis ia bersyukur kalau ia bisa melunasi janjinya untuk menikahi Raisa. Walaupun gadis itu tidaklah sempurna secara fisik seperti awal pacaran mereka dulu. Lain hal dengan gadis itu. Menjelang detik-detik pernikahan ia terlihat murung. Sesekali ia menitikkan air matanya. Awalnya ia berusaha menyembunyikan itu kehadapan Arman. Namun keganjilan itu pun diketahui sang kekasih.

“Sayang, ada apa? Bukankah seharusnya kau bergembira jelang pernikahan kita?” Kedua tangannya menggenggam erat tangannya, “Apakah aku tidak cukup baik buatmu?”
“Tidak. Kau adalah pria yang baik yang pernah aku jumpa di perut bumi ini. Aku baik-baik saja. Aku bahagia dengan hadirnya sosok dirimu.” Sahut Raisa sambil menggelengkan kepalanya. “Kalau begitu, jangan kau bersedih lagi. Sebentar lagi kita akan menyambut hari bahagia.” tutup Arman.

Sore itu Raisa dan Arman sedang duduk menatap perkarangan rumah. Keduanya saling bertatapan dengan tajam. Saat itu mereka tersenyum kecil dan sambil melepaskan tawa. “Sayang. Pernikahan kita tinggal dua hari lagi. Ada satu hal yang aku minta darimu.” pinta gadis itu. “Katakan saja. Akan ku penuhi permintaanmu.” balas Arman. “Besok bawaklah aku ke atas bukit. Aku ingin bersamamu melihat mentari senja.” Sahutnya. “Kalau hanya itu akan ku turuti.” sambil mendekati bibirnya di atas kening Raisa, “Kalau begitu izinkan bibirku memiliki dahimu.”
“Kau terlalu Romantis Arman.” tutup gadis itu. Keduanya saling tertawa kecil.

Sore itu Arman menuruti permintaan sang kekasih. Keduanya berjalan ke arah barat. Di sana terdapat bukit yang tidak terlalu tinggi. “Sayang, bisakah kau mengendongku?” tanyanya sambil mengarahkan tatapan ke arah Arman.
Akhirnya Arman mengamini permintaan Raisa. Di sana mereka menyaksikan mentari yang sedang mengukir langit sore dengan tinta kemerahan. “Aku bahagia bisa di atas bukit ini dan bisa menatap langit sore bersama dengan orang yang aku cintai.” bisik Raisa kepada Arman. “Aku juga merasakan hal yang sama.” Matanya menatap ke arah wajah gadis itu.

Perlahan-lahan Raisa menutup matanya. Seketika itu ia meninggalkan sisa senyumannya. Tanpa disadari wanita menghembuskan napasnya untuk terahkir kalinya. Jiwanya pergi bersama dengan mentari yang sedang berpamitan di pangkuan bumi. Detak jantungnya lenyap dalam pelukan pria itu. Tangisan pria itu begitu histris di puncak bukit. 

Menggelegar ke sudut bumi. Jasad Raisa diautopsi. Dokter memvoniskan kalau gadis itu mengalami infeksi di bagian rahimnya beberapa hari yang lalu. Akibat persalinan anak pertamanya dari Bastian.

Barulah Arman menyadari perubahan mimik wajah gadis itu ketika menjelang pernikahan mereka. Kalau gadis itu mengalami penurunan kesehatan fisik. Hanya saja Raisa tidak ingin banyak merepotkan orang di sekitarnya. Kali ini Arman tidak bisa memiliki Raisa sepenuhnya. Mimpinya hilang bersama sejuta harapan. Ia terbungkam dengan satu pilihan. Yakni untuk tidak menikah dengan wanita lain.

“Raisa aku memilih untuk tidak akan menikah sampai mati. Di tiang nisan inilah ku kuburkan janjiku itu.” Simpuhnya di bawah tiang nisan gadis itu sambil bercucuran air mata.

The End

CERITA CINTA - Kau Anugerah Tuhan Untukku

Suara peluit dibunyikan. Pertandingan futsal antar kelas pun dimulai. Seperti biasa, aku duduk di ruang laboratorium Biologi yang berada di lantai dua sambil menghadap ke arah jendela. Dari ruangan ini, aku dapat melihat pertandingan itu. Pertandingan di mana salah satu tim futsal itu adalah tim sekelasku. Dan di antara mereka juga ada seseorang yang ingin kulihat. Seseorang yang dapat terlihat dengan jelas meskipun jarak antara lapangan dengan laboratorium Biologi ini sangat jauh.



















Dia adalah seseorang yang diciptakan Allah untuk hadir di kehidupanku. Dan dia juga adalah seseorang yang kini hadir di hatiku. Tidak, seharusnya aku tidak mempunyai perasaan ini. Perasaan yang seharusnya tidak ada dalam hatiku. Perasaan yang seharusnya aku abaikan. Tapi mengapa semuanya menjadi seperti ini? Semakin aku ingin membuangnya, saat itu juga perasaanku padanya semakin dalam. Ya Allah.

Apa yang harus aku lakukan? Bukankah perasaanku ini salah? Seharusnya aku tidak menyimpan perasaan padanya. Aku tahu. Dan sangat tahu. Bukankah Islam melarang kita untuk berpacaran? Bahkan bukan berpacaran saja, menyimpan rasa kepada lawan jenis pun adalah sebuah dosa. Lalu bagaimana yang terjadi denganku saat ini? Apa aku juga melakukan sebuah dosa? Entahlah. Aku berharap perasaan ini akan menghilang seiring dengan berjalannya waktu.

Niatku untuk melihat pertandingan itu sampai selesai, akhirnya aku urungkan. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Aku harus segera pulang ke rumah. Dari tadi mungkin ayah sudah menungguku.
Ketika sampai di rumah, ayah dengan kebiasaannya, yaitu duduk di depan rumah sambil membaca koran melambaikan tangannya saat melihat kedatanganku. Aku pun tersenyum seraya membalas lambaian tangannya.

Tumben kok sore banget pulangnya, Na.” ucap ayah saat aku hendak melepaskan sepatuku.
“Iya nih, yah, tadi aku lihat pertandingan kelasku dulu.” jawabku.
“Oh ya sana, kamu mandi dulu, terus langsung bantu ayah di dapur, ya.”
“Oke, yah!”

Aku langsung menuruti apa yang diperintahkan ayah. Setelah selesai mandi, aku langsung pergi ke dapur untuk membantu ayah. Ya, kami memang sering memasak berdua. Bahkan kegiatan sehari-hari di rumah seperti membereskan rumah, menonton TV dan kegiatan lainnya pun kami lakukan berdua. Kami memang tinggal hanya berdua. Ibuku meninggal ketika aku berusia 10 tahun. Meskipun aku sering merasa kesepian, namun, dengan kehadiran ayah, rasa kesepian itu hilang.

Keesokan paginya, aku melihat bahwa ayah tidak benar-benar sehat. Ia kelihatan pucat dan lemas. Aku pun langsung menyuruhnya untuk tidak bekerja. Namun ia bersikeras untuk tetap bekerja hari ini.
“Ayah sehat kok, Ana.” Begitulah katanya. Itulah kata-kata yang sering ayah jawab ketika aku melarangnya untuk bekerja. Aku hanya bisa menghela napas dan berdoa supaya tidak terjadi apa-apa dengan ayah.

Di sekolah, aku belajar seperti biasa. Namun aku terus memikirkan ayah sejak tadi pagi. Aku takut terjadi apa-apa dengan ayah. Bagaimana kalau ayah pingsan? Bagaimana kalau ayah jatuh dari motor ketika sedang bekerja? Ah, tidak. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan ayah. Semoga Allah melindungi ayah dimana pun ayah berada.

Setelah sepulang sekolah, aku diberitahu oleh tetangga di sebelah rumahku bahwa ayahku mengalami kecelakaan. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menuju rumah sakit di mana ayah dirawat sekarang.
Ketika sampai, aku langsung menyusuri koridor rumah sakit. Aku berlari dengan perasaan campur aduk. Khawatir, gelisah, takut, semuanya aku rasakan. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan ayah. Aku tidak mau kalau sampai ayah pergi meninggalkanku. Dialah keluargaku satu-satunya. Dialah harta yang paling berharga bagiku di dunia ini.

“Ayah!” Aku langsung menghampiri ayah yang terbaring lemas di atas ranjang. Ayah tersenyum ketika melihatku, lalu berkata, “Ayah tidak apa-apa kok, Na.”
“Ayah, cukup! Ayah nggak usah bilang gitu! Sekarang ayah lihat, kan? Ayah lagi sakit!” ucapku dengan cemas.
“Jadi anak bapak itu adalah Ana?”
Aku terkejut ketika seseorang dari belakang menghampiri aku dan ayah. Siapa dia? Kenapa dia tiba-tiba menyebut namaku?
“Riga?” Aku kaget ketika melihat seseorang itu. Kenapa Riga tiba-tiba ada di sini?
“Ayah kamu nggak apa-apa kok. Dia cuma kecapean aja.” ucapnya seraya tersenyum kepadaku.
“Kamu kok ada di sini?”

Tadi aku lihat pak Hendra jatuh dari motor. Makanya aku langsung bawa dia ke rumah sakit.”
“Jadi ayah sama kamu udah kenal?”
Riga mengangguk. “Pak Hendra adalah teman ayahku. Dan pak Hendra juga adalah ojeg langganan ibu aku.”
Ojeg langganan ibu aku? Ya Allah. Aku sungguh tidak percaya ini semua.


“Makasih, Ga. Kamu udah nganterin ayah aku ke sini. Aku juga sebenarnya udah ngelarangnya buat kerja hari ini, tapi dia nggak mau dengerin aku.” ucapku kepada Riga ketika kami duduk di ruang tunggu.
“Sama-sama, Na. Aku juga nggak nyangka ternyata kamu anaknya pak Hendra.”
“Aku juga nggak nyangka ternyata kamu kenal sama ayah.”
“Setiap pagi ayah kamu selalu nganterin ibu aku pergi bekerja, makanya pak Hendra udah aku anggap sebagai keluarga aku sendiri.”
“Sekali lagi makasih, ya.”
“Iya, Na. Sama-sama. Aku nggak nyangka, ya. Ternyata kalau di luar sekolah kamu tuh beda banget.”
“Beda? Maksudnya?”

Ana, ayo. Kata dokter ayah boleh pulang hari ini juga.” Ayah datang ketika aku menunggu jawaban Riga. Ah, Ya Allah. Ada apa denganku? Kenapa aku merasa senang seperti ini? Kenapa hatiku merasa nyaman ketika ada di dekatnya?
“Ayah ‘kan masih sakit? Mendingan ayah istirahat dulu.” ucapku.
“Ayah nggak apa-apa kok, Ana. Mendingan kita pulang aja. Ayah nggak suka rumah sakit.”
Aku mengangguk. “Ya udah, yah. Kita pulang aja kalau gitu.”
“Aku anterin aja ya, Na.” ucap Riga kepadaku.

Nggak, Ga. Nggak usah. Aku sama ayah udah ngerepotin kamu. Mendingan sekarang kamu pulang aja. Biar aku sama ayah pulang berdua aja.”
“Ya udah kalau gitu. Saya pulang dulu ya, pak Hendra.” ucapnya kepada ayahku.
“Iya silahkan nak, Riga. Makasih loh udah bawa bapak ke rumah sakit.”
“Iya pak, sama-sama. Na, aku pulang dulu, ya.”
“Iya, Ga. Makasih, ya.”
Riga mengangguk. Ia hanya tertawa kecil ketika aku mengucapkan ‘terima kasih’ yang entah ke berapa kalinya.

Hari ini, tepat setelah satu minggu kesehatan ayah semakin membaik, aku menghadiri acara perpisahan di sekolahku. Ya, semua sekolah di seluruh Indonesia pun pasti sama seperti sekolahku. Mengadakan acara perpisahan sebelum kelas dua belas keluar dari sekolahnya masing-masing.

Acara perpisahan itu pun berjalan dengan lancar. Namun sayangnya, saking sibuknya dengan kegiatan masing-masing, aku dan Riga tidak saling menyapa. Ketika aku tidak sengaja melihatnya, saat itu dia sedang berbincang dengan teman-temannya. Mungkin ini adalah kesempatannya yang terakhir sebelum mereka berpisah.

Lima tahun lamanya aku dan Riga tidak saling bertemu. Ya, acara perpisahan lima tahun silam itu adalah hari dimana aku terakhir kali melihatnya. Setelah lulus S1 di Univertas favoritku, sekarang aku bekerja di sebuah perusahaan asing dan menjadi seorang novelis. Ya, sejak kecil aku memang bercita-cita menjadi seorang penulis. Dan alhamdulillah, Allah telah mengabulkan semua permintaanku. Bekerja di perusahaan asing dan menjadi seorang novelis.

Hari ini adalah hari aku launcing novel ke tigaku. Aku bersyukur, karena dari pertama kali aku menginjak di bangku perkuliahan, sampai akhirnya bekerja di sebuah perusahaan asing, akhirnya aku telah meliris tiga novel. Dan itu adalah sebuah kebanggaanku. Dan ayah, kini dia tidak lagi bekerja menjadi tukang ojeg. Aku menyuruhnya untuk tidak bekerja dan hanya diam di rumah. Kami tidak lagi tinggal di rumah yang dulu. Sekarang kami tinggal di sebuah apartemen hasil dari jerih payahku selama ini.
Sampai siang hari, acara itu pun belum selesai. Aku masih berbincang-bincang dengan seorang gadis yang sangat menyukai semua novel karyaku. Aku berterima kasih padanya karena selama ini dia selalu mendukungku dalam segala hal apapun dan selalu hadir di acara launcing novelku.

“Novel kamu yang ketiga bagus juga.” Perhatianku teralih ketika ada seseorang datang dan tersenyum kepadaku.
“Riga? Kamu-“
“Hebat, Na. Hebat banget. Kamu udah meliris ke tiga novel kamu.”
“Kamu kok ada di sini?”
“Aku adalah pengagum rahasia kamu.”
“Pengagum rahasia? Maksudnya?”
“Kamu tahu? Surat yang sering ada di bawah pintu apartemenmu, itu adalah surat dariku.”
Aku sangat terkejut ketika Riga mengatakan hal itu. Surat di bawah pintu apartemen. Ya, aku sering sekali mendapatkan surat itu. Surat yang setiap hari selalu ada di bawah pintu apartemenku. Jadi, semua itu dari Riga?
“Kamu nggak bercanda ‘kan, Ga?” tanyaku tak percaya.
“Kalau kamu nggak percaya, tanya aja sama ayah kamu.”
“Ayah?”
“Iya, ayah kamu.”
“Jadi ayah tahu semuanya?”
Riga mengangguk. Saat itu juga aku tertawa. Kenapa ayah tidak menceritakannya padaku? Kenapa ayah selalu pura-pura tidak tahu kalau aku menanyakan siapa sebenarnya yang selalu mengirim surat di bawah pintu apartemenku? Ya Allah. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Semua ini di luar dugaanku.

Setelah berbicara tentang berbagai hal, dia mengajakku untuk makan malam bersama ayah. Namun aku menolaknya. Karena malam ini, aku dan ayah akan pergi ke suatu tempat.
“Kalau gitu, kamu mau nggak nemenin aku ke undangan pernikahan temanku?” ucapnya.
“Undangan pernikahan? Kamu mau ngajak aku ke sana?”
“Iya. Kenapa? Kalau keberatan sih nggak apa-apa.”
“Nggak. Boleh-boleh aja sih. Kapan?”
“Besok.”
“Besok?”
“Iya, besok. Kamu bisa?”
“Mmm… aku usahain deh.”
“Ya udah kalau gitu, aku pergi dulu, ya. Besok kita ketemuan di sini aja.”
“Oke.”
Ya Allah. Hari ini aku bertemu dengan Riga? Aku sungguh tidak percaya ini semua. Akhirnya aku bertemu dengan seseorang yang sangat aku kagumi sejak dulu. Aku sungguh tidak mempercayai ini semua. Sungguh.

Pagi ini aku berangkat pagi sekali. Aku takut jika Riga sudah menungguku di tempat yang sudah kami janjikan. Saat aku akan menyebrang ke tempat itu, tiba-tiba pandanganku menjadi buram. Penglihatanku jadi tidak stabil. Kulihat dari sebelah kananku ada sebuah mobil yang melaju sangat cepat. Saat itu juga semuanya gelap. Dan aku, tidak sadarkan diri.

Ujian hidup. Ya, saat ini aku sedang menjalani ujian hidup. Dokter memvonisku bahwa aku buta akibat tabrak lari itu. Dan sekarang, aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Saat ini aku hanya bisa diam di apartemenku. Dan ayah, dialah satu-satunya motivatorku saat ini.
“Ana.”
“Iya, yah?”
“Ayah mau bicara sama kamu. Hari ini akan ada orang yang mengunjungi apartemen kita.”
“Mengunjungi kita, yah? Siapa?”
“Nanti kamu akan tahu. Sekarang kamu ganti baju yang rapi, ya.”
Siapa? Siapa yang akan mengunjungi aku dan ayah? Dan kenapa ayah menyuruhku untuk berpakaian rapi?
Setelah mengganti pakaianku, aku langsung menuju ke ruang tengah. Ayah menyuruhku untuk duduk di sana. Orang yang akan mengunjungi aku dan ayah, akan datang sebentar lagi, begitu kata ayah.
“Nah… akhirnya datang juga. Ayo masuk nak, Riga.”
Riga? Jadi, orang yang ingin bertemu aku dan ayah itu Riga?

“Assalamu’alaikum, Na. Bagaimana keadaan kamu?” sapa Riga kepadaku.
“Wa’alaikumsalam. Seperti inilah keadaan aku sekarang, Ga. Bagaimana kabar kamu? Maaf waktu itu aku nggak bisa nemenin ke acara undangan pernikahan teman kamu.”
“Alhamdulillah, kabar aku baik. Nggak apa-apa, Na. Aku ngerti kok. Maafin aku, Na. Gara-gara aku kamu jadi seperti ini.”
“Kok kamu ngomongnya gitu sih? Ini semua bukan salah kamu. Ini adalah ujian dari Allah untuk aku.”
“Apapun itu, aku minta maaf sama kamu. Dan tujuan utama aku ke sini adalah, melamar… kamu.”
“Me-la-mar?”

Aku memutuskan untuk menerima lamaran Riga. Bagaimana bisa aku menolaknya? Dia adalah seseorang yang sejak dulu aku kagumi. Ya Allah… aku sungguh tidak mempercayai ini semua. Riga melamarku. Seseorang yang sejak dulu aku kagumi akan menjadi bagian dari hidupku kelak. Bukan kelak. Tapi sebentar lagi. Ya, sebentar lagi. Karena kami sudah memutuskan untuk segera melangsungkan acara pernikahan.

Tepat pukul 09.00 WIB, akad pun dimulai. Kami melangsungkan acara pernikahan setelah satu bulan acara lamaran. Akad dilakukan di masjid yang berada dekat daerahku. Letaknya strategis. Begitupun bangunannya. Sangat luas. Memang, masjid ini sering dilakukan untuk akad. Selain bangunannya yang luas, halaman masjid itu pemandangannya sangat indah.

Riga mengucapkan ijab kobul dengan lancar. Alhamdulillah, acara pun berjalan dengan baik. Malamnya, kami melangsungkan resepsi pernikahan di sebuah gedung. Aku dan Riga mengundang teman-teman lama kami. Siapa lagi kalau bukan teman SMA? Namun, ada sebagian teman SMP juga yang kami undang.
“Aku nggak nyangka, ternyata kamu akhirnya bersanding di pelaminan dengan Riga. Selamat ya, Na.” ucap salah satu teman SMA kami, Raina. Mendengar itu, aku hanya tersenyum. Aku berpikir, bahwa aku adalah orang yang paling beruntung di dunia ini. Beruntung karena akhirnya seseorang yang sekarang menjadi bagian dalam hidupku adalah Riga.

Pagi ini, aku bangun lebih pagi. Hari ini, aku harus menyiapkan semua perlengkapan kantor seperti baju, tas dan yang lainnya yang akan dibawa oleh Riga. Meskipun mengalami sedikit kesulitan karena keadaanku yang seperti ini, namun aku tetap tidak menyerah demi Riga.
“Ana, kamu nggak perlu menyiapkan semua ini.” ucap Riga dari belakang sambil memelukku.
“Eh, kamu udah bangun? Nggak apa-apa kok.

Aku bisa mengurus semua ini.” jawabku seraya tersenyum kepadanya. Entahlah, aku tidak tahu apakah Riga melihat senyumanku atau tidak. Karena saat ini, Riga masih memelukku dari belakang.
“Kamu pernah bertanya sama aku. Kenapa aku ingin kamu menjadi istriku? Kamu masih ingat? Kamu menanyakan hal itu-“
“Kemarin.” potongku. Ya, aku memang pernah menanyakan tentang hal itu.

Kemarin, saat resepsi acara pernikahan kita, aku menanyakan hal itu.” lanjutku.
Riga melepaskan pelukannya. Kemudian ia membalikkan tubuhku.
Ia memegang jilbabku dan merapikannya seraya berkata, “Karena kamu, adalah yang aku inginkan dari dulu.”
Aku mengernyitkan kening, “Maksudnya?”

Kamu tahu? Setiap aku ada pertandingan futsal, aku tahu bahwa kamu selalu melihatku dari laboratorium Biologi.”
Aku terkejut mendengar hal itu. “Kamu kok bisa tahu?”
Ia merapikan jilbabku lagi, lalu berkata, “Aku tahu, Na. Aku sangat tahu.”
“Aku mau tanya satu hal lagi sama kamu. Kamu tahu ‘kan aku tidak bisa melihat? Kenapa kamu mau menjadikanku istrimu padahal keadaanku seperti ini?” tanyaku. Ya, aku memang sangat penasaran dengan hal itu.

Aku menjadikanmu sebagai istri, bukan karena keadaan fisik kamu. Mau kamu bisa melihat atau tidak, aku tetap ingin menjadi seseorang yang berarti di hidup kamu. Mungkin inilah yang namanya kehendak Allah.”
“Aku bersyukur, Ga. Karena saat ini, yang menjadi imam dalam hidupku adalah kamu.” ucapku.
“Bahkan aku. Aku sangat bersyukur karena saat ini kamu menjadi milikku. Oh iya, aku sampai lupa. Kamu harus tahu sesuatu ini.”
“Apa?” tanyaku.

Saat itu dia memelukku lagi, seraya berbisik, “Semalam dokter bilang, akhirnya kamu bisa melihat lagi.”
Aku bisa melihat lagi? Ya Allah, ini tidak mimpi ‘kan? Sungguh, aku masih tidak percaya semua ini. Terima kasih. Terima kasih, Ya Allah. Engkau telah memberikanku kebahagiaan yang tak ternilai dan Engkau juga telah memberiku anugerah yang sangat indah. Riga. Ya, Riga. Kumohon, kebahagiaan kami tetaplah seperti ini. Sampai nanti. Sampai maut memisahkan kami berdua.

CERITA CINTA - Sang Belahan Jiwa

Di sebuah lapang rumput yang luas, aku duduk sendiri. Ditemani hembusan angin yang sejuk, siang itu aku duduk dengan santainya. Cuaca sedang cerah, nggak terlalu panas, nggak mendung, bisa dibilang netral saja. Namun suasana yang sedih sedang menyelimuti hatiku saat itu. Aku hanya bisa melamun, mengingat kembali kejadian di masa lalu.


















Namaku Loris, seorang insinyur IT di sebuah perusahaan elektronik. Usiaku 28 tahun sekarang. Jomblo? Iya benar aku jomblo, udah nggak perlu ngehina ya. Kalian saja yang baca mungkin juga jomblo (ehhh jleb!). Tapi ceritaku tentang masa laluku ini akan memberitahu kalian mengapa aku bisa jadi jomblo sekarang ini.

Tepatnya lamunan yang sedang kulakukan sekarang ini, mengingat kembali segala peristiwa yang terjadi di masa laluku, tepatnya berawal dari saat aku telah lulus SD. Saat itu, 16 tahun yang lalu, di sebelah rumahku yang dulu…

“Pa, Ma, lihat kayaknya ada tetangga baru di rumah sebelah kita!” kataku pada kedua orangtuaku seraya melihat ke luar jendela. Ya, rumah sebelah kami sudah lama kosong sejak aku masih TK, dan sekarang sudah ada penghuni baru. Uniknya, di gang komplek itu cuma ada 2 rumah, rumahku dan rumah sebelah.

Aku juga nggak tahu apa maksudnya yang bikin perumahan ini, sengaja dibuat so sweet mungkin gang ini. “Ayo kita ke sana, terus kenalan sama keluarga itu,” kata papaku. Eh bentar, aku selesaikan masak dulu ya,” sahut mamaku sambil buru-buru menyelesaikan masakan.

Aku dan kedua orangtuaku pun berkenalan dengan tetangga baru kami. Keluarga itu terdiri dari sepasang suami istri dan anak mereka. Anak itu seorang cewek, yang wajahnya bisa dibilang manis dan menawan untuk anak seusianya.

Lho anaknya cuman satu ini aja, Pak, Bu?” tanya mamaku. “Iya, cuman satu ini aja” jawab ibu tetangga itu. “Ya, kami sih males punya anak banyak-banyak. Takut repot aja,” sahut bapak tetangga sambil tertawa. “Wah, sama ya, kami juga punya anak tunggal ini,” kata papaku menanggapi.

Aku pun akhirnya berkenalan dengan cewek itu, tangan kami bersalaman. “Hai, kenalkan namaku Janice!” kata cewek itu sambil tersenyum. Senyumannya betul-betul mengalikan dunia. Wajah menawan nan manisnya seakan-akan langsung membuatku jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. “Kamu.. cantik!

kataku dengan polos sambil memandangi wajahnya yang indah. Dia pun kaget lalu menghentikan bersalaman. Ia hanya tertawa karena balasanku itu, dan berkata “Lho, bentar.. Kamu kok belum beritahu namamu?

Mendengar itu aku langsung terkaget, terbangun dari hipnotis wajahnya yang cantik. Lalu dengan agak malu aku berkata “Eh iya ya, maaf-maaf, namaku Loris, salam kenal Janice!” Orangtua kami masing-masing yang melihat kejadian itu langsung tertawa. Janice pun ikut tertawa, sementara aku hanya bisa tersenyum kecil dengan rasa malu yang luar biasa.

Sejak saat itu, keluargaku dan keluarga Janice menjadi sangat akrab. Wajar sih ya, karena lagian di daerah itu cuma ada 2 rumah. Bagaimana nggak akrab coba, memang tetangga mana lagi yang mau ditemui di daerah situ? Dan nggak kaget bila aku dan Janice pun akhirnya menjadi sangat akrab. Kami menjadi sepasang sahabat.

Dan kebetulannya lagi adalah ternyata kami sekolah di satu SMP yang sama. Kami tiap hari selalu bertemu dan bersama, berangkat dan pulang sekolah bersama, belajar bersama, bermain bersama.

Hampir setiap waktu kami habiskan bersama. Sudah bukan keanehan lagi kalau lama-lama akhirnya pun aku suka dengannya. Bagiku dia cewek yang sempurna, sampai benih-benih cintaku tumbuh terhadapnya. Tapi aku nggak mau terlalu menunjukkan, karena takut malah menganggu persahabatan kami. Aku pun belum tahu perasaannya, yang aku tahu kami hanya sangat dekat sebagai sahabat. Untungnya, dia masih jomblo sih (hehehehe).

Lulus SMP, kami sengaja disekolahkan di satu SMA yang sama oleh orangtua kami. Aku memiliki firasat bahwa kami pada akhirnya akan dijodohkan oleh kedua orangtua kami masing-masing. Ya bagiku sih nggak masalah, toh si Janice adalah cewek yang cantik dan sifatnya begitu baik serta kalem. Masalahnya si Janicenya sendiri mau nggak sama aku, lah aku sendiri udah muka pas-pasan, biasa aja, sifatku kadang absurd pula. Mikir-mikir lagi lah cewek KAYAK gitu bisa mau sama aku. Tapi diluar dugaan, tepatnya waktu 2 SMA awal, ketika aku memberanikan diriku mengatakan perasaanku yang sebenarnya (sebelum kedahuluan orang lain). Ternyata si Janice juga bilang bahwa dia juga punya perasaan yang sama denganku.

Dia juga suka padaku, bahkan sejak SMP. Mungkin karena efek sudah lama kenal dan akrab, juga dikarenakan kondisi tetanggaan kami yang so sweet, maka rasa suka dan sayang saling muncul di antara kami. Tapi kami berdua sepakat untuk tetap dalam hubungan sahabat, meski sama-sama memiliki perasaan cinta dan saling menyayangi layaknya sepasang kekasih. Nggak disangka kami ternyata saling memendam rasa bertahun-tahun sebelumnya.

Kami akhirnya pun lulus SMA setahun kemudian. Malam harinya setelah wisuda SMA, aku dan Janice duduk di kursi taman depan pekarangan rumah Janice, sembari menikmati indahnya malam itu. Udara sangat sejuk, suasana cukup hening, kami melihat sinar rembulan yang begitu terang dan indah. Aku pun mulai membuka percakapan karena suasana makin garing kalau berdiam saja.

Hmm apa sebaiknya kita tidak melanjutkan hubungan kita ini lebih ke arah yang serius aja?” tanyaku pada Janice.
Boleh aja, maksudnya nggak sahabatan lagi, tapi pacaran gitu tah?” jawab Janice lalu bertanya balik.
“Ya begitulah, tapi sebenarnya aku punya ide unik untuk itu,” kataku pada Janice
“Hah? Ide gimana yang kamu maksud?” tanya Janice heran

Jadi kita gak usah berstatus pacaran, cukup tetap berstatus sahabat. Tapi bedanya kita bakal saling bersikap lebih saling menyayangi KAYAK pacaran. Juga kita berkomitmen untuk nantinya bersama di pelaminan setelah lulus kuliah nanti. Gimana?” kataku.
“Hmm, okelah, tapi janji ya kita bakal ke pelaminan sungguhan nantinya? Awas aja kalo nggak beneran!” tanya Janice memastikan

Iya, tenang aja janji kok, pasti kita bakal ke pelaminan,” jawabku dengan meyakinkan. Kami mengikat janji untuk saling menunggu dan setia di malam itu. Langit malam, bulan, serta bintang-bintang yang bersinar seakan menjadi saksi.

Janji dan komitmen kami pun terwujud. Benar saja, kira-kira 4 tahun kemudian setelah lulus kuliah, aku dan Janice pun akhirnya menikah. Kami telah cukup lama menempuh hubungan persahabatan yang diwarnai dengan perasaan cinta satu sama lain, sudah waktunya bagi kami untuk melaju ke jenjang yang lebih lanjut yaitu pernikahan.

Setelah menikah kami berpisah dengan orangtua kami masing-masing, dan tinggal berdua di sebuah rumah yang letaknya ada di tengah kota, agak jauh dari rumah kami sewaktu kecil dulu. Rumah itu pemberian kedua orangtua kami masing-masing sebagai hadiah pernikahan. Aku tidak menyangka keluarga kami masing-masing begitu mendukung hubungan kami sampai segininya.

Mereka ingin kami berdua hidup bahagia, melihat kekuatan cinta kami yang begitu erat. Aku mendapat pekerjaan sebagai seorang insinyur system IT di sebuah perusahaan elektronik, ya masih sama dengan pekerjaanku yang sekarang ini. Sementara aku bekerja, Janice tinggal di rumah, mengurus semua pekerjaan rumah.

Hubunganku dengan Janice makin erat dan mesra saja setelah menikah, meskipun kami tidak bisa menghabiskan waktu secara penuh karena aku harus bekerja dari pagi sampai sore. Makin bahagia saja kami berdua waktu itu, tidak ada pertengkaran sama sekali. Jika ada masalah, kami sama-sama menyelesaikannya dengan kepala dingin.

Sungguh, aku bertemu dengan wanita yang tepat, benar-benar belahan jiwaku yang sudah dipersiapkan Tuhan untukku. Apalagi semakin dewasa, wajahnya makin cantik saja. Ketika bekerja, rasanya aku ingin cepat-cepat pulang ke rumah.

Namun di suatu pagi, tepatnya sekitar setahun setelah kami menikah, datanglah peristiwa itu. Peristiwa yang menciptakan ketegangan dalam hubungan kami. Janice mengalami batuk-batuk yang tidak biasanya. Ia batuk keras sampai mengeluarkan darah dari mulutnya. Aku pun membawanya ke dokter untuk diperiksa. Aku takut akan terjadi hal yang buruk nantinya terhadap Janice bila tidak segera diperiksakan.
“Apa, istri saya kena TBC dokter?” Aku betul-betul kaget mendengar kata dokter.

Betul pak, istri anda menderita TBC, paru-parunya sudah terinfeksi virus,” kata dokter itu menjelaskan.
“Tapi dok, selama ini sepertinya istri saya selalu hidup sehat-sehat aja, nggak pernah makan yang sembarangan atau apapun, kok bisa kena TBC?”
Berdasarkan analisa saya, ini bukan sembarang TBC. Virus TBC ini sangat langka, didapat dari faktor internal yaitu keturunan.

Virus ini hanya menyerang keturunan secara silang jenis kelamin, saya pernah mempelajari ini sewaktu kuliah, tapi lupa namanya. Sebut aja TBC silang turunan.”
“Apa? Apa maksudnya silang turunan dok?
“Nenekku..” Tiba-tiba Janice menyahut pembicaraanku dengan dokter. “Ada apa sayang? tanyaku heran.

Aku sudah tahu ini akan terjadi. Keluargaku memang punya jenis penyakit turunan ini. Yang aku tahu, nenekku menderita sakit ini, menurun kepada papaku dan akhirnya menurunlah ke aku. Itulah yang disebut turun silang jenis kelamin. Tapi aku gak nyangka, sakit ini bisa secepat ini muncul ke aku.”
“Jadi.. maksud kamu, kamu punya penyakit turunan mematikan ini? Tapi kenapa kamu nggak beritahu aku sebelumnya?”
“Karena aku gak mau kamu akhirnya gak nerima aku gara-gara hal ini. Aku gak mau kamu kecewa, aku gak mau kamu ninggalin aku gara-gara penyakitku ini.
Aku cinta sama kamu!

Janice pun mulai menangis, seakan juga tak percaya penyakit ini secepat itu muncul padanya, ia takut hal ini malah menganggu hubungan kami berdua. Semua ini awalnya memang mebuatku sangat kaget dan syok. Aku nggak menyangka dia punya penyakit semacam ini.

Tetapi aku berusaha tegar, aku menyayangi Janice, walaupun bagaimanapun keadaan dia. Aku berusaha menenangkannya, sembari berkata pada Janice, “Siapa juga yang mau ninggalin kamu, walau tahu kamu punya penyakit KAYAK gini. Aku gak akan pernah ninggalin kamu walau gimana pun.

Aku setia sama janji kita berdua. Ayo kita pulang! Kamu gak usah khawatir, mulai sekarang aku akan ngerawat kamu, selalu ada di sampingmu. Aku akan cuti beberapa bulan, sampai kamu benar-benar sembuh.” Aku memeluk Janice, yang saat itu masih belum bisa menghentikan tangisannya. Aku peluk dia, belahan jiwaku, dengan penuh rasa sayang, sebagai suami-istri yang saling mencintai.

Kami berdua pun akhirnya pulang dengan suasana yang agak hening karena masih syok dengan apa yang dikatakan dokter. Dokter pun menyaranku Janice untuk tidak banyak kegiatan dan banyak istirahat saja di kamar. Ia disarankan untuk jalan pagi setiap sejam untuk menghirup udara segar, dan menghindari makan-makanan yang kering serta berminyak.

Kata dokter setidaknya itu mungkin bisa menghambat perambatan virus di paru-parunya.
Tapi ironisnya itu tidak membantu. Beberapa bulan kemudian, sakit Janice makin parah. Hampir tiap hari, ia selalu batuk keras, mengeluarkan darah. Sampai akhirnya malam itu, adalah kondisi yang mencapai puncaknya.

Ia batuk darah lebih banyak dari biasanya, sampai badannya lemas tak berdaya. Aku sangat syok serta ketakutan. Segera kubawa dia ke rumah sakit. Dia sempat pingsan saat perjalanan ke rumah sakit. Para medis dan suster membawanya ke ruang ICU karena kondisinya memang sudah gawat. Aku menunggu di luar dengan sangat khawatir dan ketakutan.

Sekujur tubuhku berkeringat karena aku tiddak bisa tenang saat itu, melihat Janice dalam kondisi yang buruk sekali. Aku berdoa pada Tuhan supaya tidak terjadi yang parah terhadap Janice, memohon agar kondisinya cepat stabil. Dokter pun keluar, aku langsung segera menghampiri si dokter.

“Dokter, bagaimana keadaan istri saya, dok?”
“Maaf, pak. Istri anda sekarang kondisinya makin kristis dan hampir mencapai puncaknya. Paru-parunya sudah hampir sebagian besar terinfeksi virus. Sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah berharap perambatan virus itu terhenti.”

Jadi, maksud dokter, istri saya kemungkinan besar tidak akan selamat? Waktunya hanya tinggal sebentar lagi?”
“Saya sebenarnya tidak tega berkata begitu, tetapi kemungkinan iya. Maaf kami dari tim dokter sudah tidak bisa berbuat banyak, pak.”

Aku benar-benar syok setengah mati mendengar perkataan dokter. Intinya adalah waktu Janice di dunia ini tinggal sebentar lagi. Kenapa? Kenapa secepat ini? Ini tidak adil bagiku. Kami belum lama ini mengikat janji setia untuk selamanya bersama. Tapi, kini semuanya berubah. Penyakit itu, itulah biangnya. Biang parasit bagi janji setia kami.

Aku masuk ke dalam kamar ICU. Ia sedang tertidur. Wajah cantiknya yang dulunya menawan itu, kini berubah menjadi lemas dan pucat. Aku sungguh tidak tega, melihat belahan jiwaku itu, terbaring lemas, melawan maut yang sedang menghampirinya. Aku meneteskan air mata, sambil menghampirinya, di samping tempat tidurnya.

Loris?” kata Janice yang tiba-tiba terbangun karena merasakan kehadiranku.
“Eh, sayang, kamu udah bangun, gimana kondisi kamu?”
“Baik kok, kamu kenapa nangis sayang? Aku gak apa-apa kok, aku bahagia, setidaknya orang yang kucintai, ada di sampingku, nemenin aku di sisa-sisa waktuku..”

Plis Janice, kamu jangan ngomong gitu, kamu pasti sembuh, aku mau kamu sembuh. Kamu harus sembuh ya, aku mau kita lanjutkan hidup bersama kita yang bahagia KAYAK dulu. Aku ingin keluaraga kita bahagia bersama selalu.”
“Loris, udah kita nggak bisa lari dari kenyataan. Aku sendiri menyadari umurku sudah nggak lama lagi. Bisa saja sebentar lagi, besok, atau besoknya lagi. Itu semua bisa terjadi.”

Aku terdiam sebentar mendengar perkataan Janice. Ia memang benar, saat ini memang keadaanya seperti itu. Aku sendiri tidak bisa mengelak. Aku hanya bisa merasakan penyesalan, kekecewaan yang berat di dalam hatiku. Haruskah aku secepat ini akan kehilangan wanita yang sangat kucintai?
“Aku masih ingat kata-kata yang kamu ucapin ke aku waktu kita pertama berkenalan dulu. Apa kamu masih ingat?” Tiba-tiba Janice bertanya ke arahku sambil terseyum.

Ohh itu, iya aku masih ingat kok itu, kenapa? Jawabku sambil tersenyum balik.
“Aku mau kamu ngucapin itu lagi sekarang ke aku,” kata Janice masih dengan senyumannya. “Hai, kenalkan namaku Janice..”
“Kamu cantik!” kataku pelan dengan mata persis memandang ke wajahnya sambil tersenyum dan meneteskan air mata.
“Terima kasih ya Loris, sayangku..

Seketika itu juga, entah kenapa, meski dengan wajah pucatnya, aku dapat melihat wajah cantik Janice masih terlihat. Mungkin karena senyumannya itu yang tak pernah pudar. Setelah berkata begitu, Janice tertidur kembali. Aku mencium keningnya. Saat itu juga aku menangis, tidak tahan melihat penderitaan yang dialami belahan jiwaku itu, seseorang yang benar-benar kucintai. Aku pun lalu bergegas ke luar sambil berlinang air mata, meninggalkan ruangan itu agar Janice bisa istirahat.

Istirahat.. Ya, istirahat untuk selamanya, karena esok harinya, Janice telah tiada. Dokter mengatakan paru-parunya sudah terinfeksi seluruh, sel-sel pernafasannya hancur. Ia menghembuskan nafas terakhirnya di pagi hari itu. Belahan jiwaku itu telah pergi dari dunia ini, meninggalkanku bersama kenangannya yang indah. Ketika kami mengulang lagi percakapan kami pada awal bertemu, tak kusangka itulah percakapan kami juga yang terakhir di dunia ini. Kini ia telah pergi, meninggalkanku, untuk selama-lamanya…

Kejadian itu tepat 5 tahun yang lalu. Hari ini tepatnya adalah hari peringatan meninggalnya Janice. Dan aku mengingat kembali segala kenanganku di masa lalu bersamanya. Air mata ke luar dari kedua mataku, sembari aku bernostalgia dengan masa laluku yang indah bersama belahan jiwaku itu. Penyesalanku masih ada, dan nggak tahu kapan akan hilang. Nah udah tahu kan kalian, kenapa aku sekarang ini jomblo (alias duda).

“Papa!” Tiba-tiba lamunanku terbuyarkan oleh suara seorang gadis kecil yang memanggilku dari belakang.
“Eh, sayang, kamu udah balik..” sahutku sambil berbalik badan ke belakang
“Papa abis nangis ya?” tanya gadis kecil itu.

Ah nggak kok, mata papa kelilipan debu daritadi ini aduh..” kataku sambil mengusap air mata.
Gadis kecil itu adalah adalah anakku dengan Janice, namanya Orice. Ya memang belum aku ceritakan sebelumnya. Orice lahir sekitar beberapa bulan sebelum Janice meninggal. Di saat mamanya sedang sakit keras, Orice yang masih berumur beberapa bulan kutitipkan pada kedua orangtuaku untuk diasuh sementara. Karena aku mau fokus untuk merawat Janice saat itu.

Sekarang anak kami ini telah berumur 5 tahun. Bisa dibilang dialah yang sekarang ini menjadi pelipur laraku kala kepergian Janice untuk selama-lamanya. Oh ya, aku lupa bilang bahwa lapang rumput tempat kami berada ini sebenarnya adalah lokasi pemakaman keluarga. Di depanku persis ini adalah makam milik Janice tempat ia disemayamkan.

Kamu habis darimana aja sayang?” tanyaku pada Orice
“Ini, abis metik bunga buat ditaruh di makamnya mama..” Jawab Orice dengan tersenyum lalu menaruh bunga-bunga yang digenggamnya ke atas makam Janice.

Senyuman Orice, ya, sangat mirip dengan senyuman Janice yang dulu sering ia tunjukkan padaku. Terlebih memang wajah lucu dan manis milik Orice, persis seperti wajah cantik yang dimiliki mamanya. Orice benar-benar mengingatkanku pada sosok Janice, aku benar-benar dibuat nggak bisa move on. Aku pun jadi ikut senang melihat senyuman anakku yang manis ini. Aku yakin di waktu besar anak ini akan tumbuh seperti mamanya. Wah aku jadi agak iri, sepertinya gen Janice lebih banyak ada di gadis kecil ini daripada genku. Kok bisa ya?

“Papa, aku lapar!” kata Orice sambil memegangi perutnya.
“Okelah, ayo habis gini kita makan! Kamu mau makan apa?” tanyaku.
“Aku mau pizza, burger, ayam gorengg, kentang gorengg…”
“Oke hari ini papa belikan khusus buatmu, makanlah sepuasnya ya..”
“Horeee!! Asikk…!”

Tapi ayo berpamitan dulu sama mama sana..
“Mama, aku sama papa pergi dulu ya, mama yang bahagia di sana, kami bakal sering ngunjungi mama kok. Dadah mama, kami cinta mama..”
Orice melambaikan tangannya pada makam Janice, seolah-olah mamanya ada di situ. Aku agak tertawa melihat tingkah lucu gadis kecil ini, sambil juga merasa terharu. Ia tetap sayang pada mamanya, walau mamanya telah tiada.

Padahal juga dulu ia hanya sebentar mendapat kasih sayang dari seorang mama. Bagaimana denganku yang sudah lama mejalin hubungan sayang dengan mamanya, saling mencintai yang awalnya hanya sahabat sampai menikah? Tentu aku lebih merasa kehilangan. Aku pun ikut berpamit dengan Janice, dalam hati.
Sudah, ayo kita pergi sayang!”
“Ayo, pa!”

Aku dan Orice beranjak pergi dari makam Janice. Kami bergegas menuju mobil yang kuparkirkan di depan gerbang pemakaman. Orice berlari menuju mobil, sementara aku hanya berjalan santai saja.

“Kalian berbahagialah.. Aku mencintai kalian, dan menyertai kalian..”
Tiba-tiba aku mendengar suara seorang wanita muncul dari arah belakang. Aku melihat ada bayangan samar-samar seorang wanita cantik, berdiri di atas makam Janice. Wajah yang terihat familiar, ya tidak salah lagi. Itu bayangan Janice. Ia melambaikan tangannya ke arahku sambil tersenyum. Wajah cantiknya, berseri-seri. Seolah-olah jiwanya yang telah pergi, memberitahuku bahwa ia bahagia di surga.

Aku tidak bisa menahan perasaanku yang bahagia pula, air mataku menetes lagi. Melihat sosok bayangan wanita yang kucintai, menandakan ia bahagia. Aku melambaikan tangannku seakan membalas lambaian tangannya. Perlahan bayangan Janice mulai hilang dari pandanganku.

Selamat tinggal Janice, sampai jumpa. Kuharap kamu bahagia selalu di surga sana. Aku dan anak kita di sini akan selalu merindukanmu. Tenang saja aku akan selalu menyayangi anak kita dan menjaganya, seperti yang pernah aku lakukan padamu dulu. Aku akan membahagiakannya. Kami pasti akan selalu bahagia di sini, kamu tidak usah khawatir.

Terima kasih Janice, kamu telah membuat hidupku bahagia, bisa bertemu dengan wanita sempurna seperti dirimu. Aku tidak pernah akan melupakan semua momen-momen indah yang kita lalui bersama. Terima kasih, terima kasih banyak. Kau akan tetap selalu menjadi, sang belahan jiwaku selamanya.

CERITA CINTA - Aku Akan Tetap Setia

Hari ini cuaca sangat mendukung untuk berlibur. Sang surya menampakan diri membuat hangat semua makhluk hidup di muka bumi. Pagi ini aku dan davit berencana untuk berlibur ke kampung halaman Ibu, di Bandung. Aku sangat merindukan nenek dan kakek disana. Aku dan Davit sudah pacaran selama 4 tahun dan kami berencana untuk tunangan setelah pulang berlibur. Semuanya sudah kami persiapkan mulai dari tanggal, dekorasi, baju bahkan tema acaranya. Aku sangat mencintai Davit, begitu juga Davit sangat mencintaiku. Selama 4 tahun kami menjalin hubungan tidak pernah ada satu kata putus pun terucap dari mulut kami walau sehebat apapun kami bertengkar karena kami punya satu janji yaitu “Sehebat apapun kita bertengkar jangan pernah ada kata putus di antara kita dan kita harus selalu bersama.




















Usiaku dan davit kurang lebih selisih 5 tahun lebih tua Davit. Makanya dialah yang selalu mengajariku tentang kedewasaan, tentang bagaimana menjalani hidup. Dia telah merubahku menjadi pribadi yang penyabar dalam menjalani hidup. Davit Santoso itu nama aslinya dia terlahir dari keluarga yang kaya tapi meskipun begitu dia tidak pernah sombong dan selalu rendah hati terhadap orang lain.

Yang aku kagumi darinya meskipun dia anak orang kaya tapi dia tidak pernah memanfaatkan kekayaan orangtuanya, dia lelaki yang pekerja keras dan hingga akhirnya dia membuka perusahaan sendiri tanpa bantuan orangtuanya. Pokoknya Davit itu cowok yang paling sempurna yang pernah aku kenal.

“Bersama kamu ku jadi tahu artinya waktu lebih berharga dari harta di dunia” suara dering hpku berbunyi bukti bahwa ada yang menelepon maka segera kulihat layar hpku dan ternyata itu Davit orang yang sangat kusayang “Hallo Assallamualiakum” sapaku Waalikumsallam sayang kamu sudah siap” sahutnya “sudah sayang ini aku mau turun ke bawah, aku tunggu di halaman depan rumah ya Sayang” sahutku kembali “Iya sayang ini aku mau berangkat ke rumah kamu” “okeh sayang hati-hati ya”.

Tidak lama setelah itu Davit pun datang. Kamipun berpamitan sama ibu dan ayah. “Bu, Yah saya minta izin ya bawa anak kalian berlibur” kata davit kepada ibu dan ayah “Iya nak hati-hati ya jangan ngebut-ngebut” sahut ibu “Jagain anak ayah ya dav” sambung ayah “okeh yah pasti saya jagain” sahut davit sambil mengelus-elus kepalaku.

Menuju kampung halaman aepanjang perjalanan aku dan davit sangat menikmati keindahan dunia yang dianugerahi Tuhan. Aku terhipnotis dengan keindahannya. Davit pun tersenyum melihat tingkahku yang melambaikan di sepanjang perjalanan.

Tidak lama setelah itu tiba-tiba ada sesuatu yang mengejutkan aku dan davit mengalami mengalami kecelakaan motor yang kami kendarai ditabrak mobil truk pengangkut sayur. Tubuhku melayang ke tepi jalan sedangkan davit tubuhnya terkapar di tengah jalan.

Tubuhku bercucuran darah, mataku seolah-olah sulit untuk dibuka hanya suara kerumunan orang dan sura sirine Ambulan orang yang aku bisa rasakan. Tubuhku terasa kaku dan sangat sulit digerakan sedangkan keadaan davit entah bagaimana dia aku berharap dia baik- baik saja..

Aku pun sadarkan diri dan yang membuat aku terkejut aku berada di kamar yang asing bagiku dan berbau khas rumah sakit ibu dan ayah di sampingku “Sabar nak” kata ibu, Aku pun tersenyum mendengar itu “Bagaimana keadaanmu sayang” sambung ayah “Alin baik-baik saja yah” sahutku “syukurlah kalau begitu” sahut ayah kembali “Davit mana yah, bu kok aku nggak lihat dari tadi ibu pun langsung menangis histeris sambil berkata

Davit sudah nggak ada nak” “Hah apa bu ini nggak mungkin aku tidak percaya” aku terkejut dan menangis histeris sampai mengamuk berusaha melepaskan jarum infus yang ada di tanganku, ibu pun memanggil dokter “Dok, dokter tolong anak saya” dokter pun menghampiriku dan langsung memberikan aku suntikan penenang, setelah disuntik aku pun langsung tertidur.

Aku bermimpi davit memakai baju putih dan dia berjalan ke arah pintu. Aku memanggil namanya tapi dia hanya membalas dengan senyuman, aku pun berlari menghampirinya “Davit jangan tinggalkan aku disini aku tidak bisa hodup tanpamu.

kamu harus tetap hidup walau tanpa aku di sisimu kamu harus bahagiain ayah dan ibu aku akan setia kepadamu dan aku akan tetap menyayangimu sampai kita dipertemukan lagi” sahutnya “aku ingin ikut denganmu dan aku sayang kamu bukannya kita sudah janji untuk selalu bersama” sahutku “aku akan tetap ada di sampingmu tapi bukan ragaku hatiku akan selalu ada untukmu, davit sayang alin” sahutnya sambil melambaikan tangan. Aku pun terbangun dan berteriak “Tidak davit jangan tinggalkan Alin sendiri”.

Sudah 2 minggu aku dirawat di rumah sakit Jelita ini akupun akhirnya diperbolehkan pulang hari ini, ayah dan ibu segera membereskan pakaianku dan ayah membayar biaya selama aku menginap.

“Bu aku mau kita ke pemakaman davit dulu sebelum pulang aku sangat merindukannya” “Iya nak nanti kita mampir ke pemakaman davit dulu” sahut ibu. Di perjalanan pulang aku melihat toko bunga dan aku mampir sebentar untuk membeli bunga. Setelah membeli bunga aku dah ayah, ibu langsung menuju ke pemakaman. setelah sampai di pemakaman aku langsung menuju tempat davit dikebumikan

Davit seharusnya hari ini kita udah tunangan dan kita pasti sudah bahagia bersama teman-teman, kenapa davit meninggalkan alin secepat ini. Alin sayang davit, alin selalu datang kepemakaman davit”

Setiap hari jum’at alin pergi ke pemakaman dan membawa bunga. Hingga tepat pada hari anniversarynya dia dan teman-temannya merayakan Anniv davit dan alin di pemakaman. “Davit ini aku dan teman-teman merayakan hari jadian kita sekarang kita udah 5 tahun kita pacaran, ALin sangat senang dan bersyukur telah mengenal davit makasih untuk semuanya sayang”.

Cinta sejati bukan mereka yang selalu bersama tapi mereka yang selalu mencintai walau raga tak bersama