Halaman sekolah belum begitu penuh, karena sebagian tamu undangan belum tampak hadir. Berulang kali Akbar melayangkan pandangannya ke arah sudut sana, “Pokoknya gadis itu punya pesona tersendiri yang selalu mengajak mataku untuk menatapnya”, gerutu Akbar dalam hati. Sebenarnya penampilan gadis itu sederhana, tapi entah mengapa di mata Akbar Ia tampak sangat memukau dengan seragam putih abu dan balutan kerudung putihnya. Namun terkadang pandangan Akbar terhalang oleh beberapa tamu yang tengah mencari tempat untuk duduk.
Dalam rangka menyambut hari ulang tahun sekolah yang ke-9 ini, Akbar dapat kepercayaan untuk menjadi salah satu panitia perayaan dengan sahabat-sahabatnya, “Bar, kamu laper gak??” tanya Semy setengah berbisik. “Emang kalau aku lapar kamu mau nraktir??”Akbar kembali bertanya. Sem tertawa, karena memang begitulah Dia, selalu hadir dengan guyonan-guyonan khasnya
Akbar sedikit mengalihkan pembicaraan, “Sem, coba kamu lihat gadis itu?!” perintah Akbar sambil menunjukan ke arah gadis itu duduk. Tapi tampaknya pandangan Semy masih terhalang beberapa tamu. “Yang mana Bar??” sambil clingak-clinguk mencari. Belum sempat Akbar menunjukan mana yang Dia maksud, tiba-tiba Yudi muncul sehingga pembicaraan mereka terhanti sejenak.
Ketika Samy dan Yudi sedang asyik berbincang, tiba-tiba terlintas dalam benak Akbar untuk memanfaatkan Samy agar mencari tahu siapa nama gadis itu, karena biasanya Samy tak pernah malu untuk melakukan sesuatu sekalipun itu perbuatan yang sangat memalukan, apalagi ini hanya sekedar masalah perempuan.”Sem, sini bentar..!!”
Panggil Akbar. “Apaan sih??” Semy penasaran. “Kamu lihat kan gadis yang di sudut sana??” tunjuk Akbar ke arah sudut sebelah utara. “Iya aku lihat, kenapa? Naksir ya??” ledek Semy pada Akbar. “Iya nih, tolong bantu aku ya Sem, cari tau namanya, sekolahnya dan kelasnya!!” pinta Akbar pada Semy. “Ciiiiiippppllaaaahhhh, apa sih yang nggak buat kamu sob, heeehee” kata Semy sambil mengedipkan sebelah mata dan mengacungkan jempolnya.
Dengan langkah berani Semy berjalan mendekat ke arah gadis itu duduk, padahal jantungnya berdetak tak karuan, karena biarpun dia sering merayu perempuan tapi baru kali ini dia merayu perempuan berjilbab. “Permisi mba, boleh ikut gabung di sampingnya gk??” sapa Semy dengan sikap SKSD-nya, sementara gadis itu hanya menoleh dan tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah katapun. “Eemmm....maaf mba, kalau boleh tau undangan dari sekolah mana yaa??”
Tanya Semy so’ akrab. “SMA 06..” jawab gadis itu singkat. “Ternyata gadis ini sangat sulit untuk dapat di dekati, tak semudah yang ku bayangkan” gerutu Semy dalam hati, tapi dia tak mau menyerah, dia tetap kekeh bertanya ini itu pada sang gadis. Terakhir dia bertanya nama, tapi alhasil sia-sia saja. Semy kembali pada teman-temannya, dan menceritakan semua yang dia ketahui tentang gadis itu, dan satu yang dia tidak dapatkan, yaitu nama, nama gadis itu.
Sedang asyik mereka mengobrol, secara tidak sengaja gadis itu melintas di hadapan mereka, dan dengan sepontan mereka menyapa, “Haaii...???” sapa mereka dengan harapan akan mendapat balasan, tapi sayang gadis itu hanya menoleh dengan sedikit senyuman dari bibir manisnya. Belum selesai mereka menikmati pemandangan yang istimewa itu, tiba-tiba Pak Dedi pembina osis yang baru itu menyuruh agar Akbar dan Semy menambah kursi untuk para tamu undangan.
Keduanya tak bisa menolak dan saling pandang sambil berjalan lunglay menuju tempat penyimpanan kursi. Sementara Yudi yang bebas dari tugas memanfaatkan moment ini untuk mencari tahu lebih lanjut siapa gadis yang membuat sahabatnya begitu penasaran itu, karena Yudi tahu sebelumnya Akbar tak pernah seperti sekarang ini.
Setelah lama berbincang, akhirnya Yudi tau nama gadis itu dan memberitahukan berita bagus ini kepada Akbar. “Ternyata nama gadis itu cukup singkat, Rianti, sungguh nama yang anggun” bisik Akbar dalam hati. Tiba-tiba Semy datang mengagetkan. “Woooyyy, lagi pada ngomongin apa sih?? Serius banget??” tanya Semy penasaran sambil menepuk bahu kedua temannya itu. “Kamu tahu gak Sem, ternyata nama gadis itu Ranti..”Akbar memcoba memberitahu Semy. “Lhhaa....kamu tahu dari mana Bar??” Semy kembali bertanya. “Tuuhh dari Dia!” tunjuk Akbar pada Yudi. “Haaahh...jadi kamu Yud,
kenapa kamu gak ngasih tahu Aku???” kata Semy sedikit kecewa. “heehee....sorry deehh, abis tadi kamu gk da sih..” kata Yudi tersenyum. Sementara Semy dan Yudi tengah sibuk membicarakan Ranti, Akbar tersenyum-senyum sendiri. “Ternyata gadis itu memang luar biasa, tak bisa di anggap enteng, dia punya pesona dan keistimewaan tersendiri, dan tak banyak yang tahu akan hal itu” ujar Akbar dalam hati.
Tak terasa acara telah selesai dan matahari mulai tergelincir ke arah ia tinggal. Perlahan para tamu undangan mulai meninggalkan kursi mereka dan menuju kendaraan masing-masing bergegas untuk kembali ke tempat peraduan. Terlihat Rianti berjalan di depan Akbar dengan beberapa temannya. “Inilah gadisku..” ujar Akbar dalam hati. “Heeiii....tunggu sebentar..!!” teriak Akbar pada Rianti. Langkah Rianti terhenti dan dia melihat seorang pria mendekat ke arahnya, Akbar, dialah pria itu. “Rianti, kita duluan yaa..” kata teman-teman Rianti. “Ooh iyaa..” jawab Rianti.
Dengan agak gugup Akbar berkata, ”Tak ku sangka ada gadis seistimewa dirimu, Rianti..”. “Haahh, kamu tahu namaku dari siapa??” tanya Rianti kaget sekaligus tersipu oleh ucapan Akbar. “Itu tak penting, yang terpenting sekarang adalah dirimu..” sanjung Akbar. Rianti semakin tersipu sehingga tak mampu berkata apa-apa lagi, Dia hanya membentuk sebuah senyuman manis yang tersungging dari bibirnya.
Rianti dan Akbar tak menyadari lamanya waktu yang telah mereka lalui. Semy, Yudi, dan yang lainnya sudah tak tampak, dan hanya tinggal mereka berdua di temani dengan belaian angin senja yang mesra. Tak lama setelah itu,
Akbar mengajak Rianti untuk pulang bersamanya. Akbar tak menyadari bahwa dia telah menghabiskan waktu bersamanya, bersama gadis yang ia kagumi. Entah mengapa, semua ini seakan terjadi secara tiba-tiba. Bagai sudah ada perintah dari hati masing-masing. Akbar mengutarakan perasaannya pada Rianti, karena Akbar merasa ini kesempatan yang sangat istimewa dan sama sekali belum pernah tercipta sebelumnya.
Hingga hari usai, pasangan yang telah mengikat hati itu tetap merasa hari masih berjalan seperti biasanya, melintasi sang waktu dalam meniti kehidupan mereka bersama. “Semoga cinta kita abadi”, itulah sebaris doa yang selalu mereka panjatkan kepada yang Agung...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar